Rabu, 17 Juni 2015

4 Arjuna Masa Depan Bulutangkis Indonesia

Sudah terlalu lama Indonesia tak mempunyai tunggal putra mumpuni di ajang internasional. Empat pemain di bawah usia 20 tahun ini digadang-gadang bisa menjadi ujung tombak tunggal putra di masa datang.


   Ditargetkan meraih medali perak, tim putra bulutangkis yang diisi pemain muda sukses menyumbangkan emas. Jonatan Christie dkk. disebut-sebut amat potensial sebagai kekuatan masa depan bulutangkis Indonesia.

  Para pebulutangkis muda 'Merah Putih' sudah mencuri perhatian sejak Piala Sudirman bulan Mei tahun ini. Kala itu, PP PBSI memutuskan untuk menurunkan tiga pemain yang berusia di bawah 20 tahun di sektor tunggal: Jonatan Christie, Firman Abdul Kholik, dan Ihsan Maulana Mustofa.

  Padahal, Indonesia mempunyai dua pemain senior yang berperingkat lebih baik, Tommy Sugiarto dan Dionysius Hayom Rumbaka. PBSI bersikukuh hanya menurunkan pemain tunggal dari pelatnas. Misi itu demi memutus tak adanya tunggal putra di level top dunia setelah Taufik Hidayat gantung raket. PBSI bertekad memunculkan generasi emas sektor tunggal seperti zaman Haryanto Arbi, Alan Budikusuma, dkk.

  Misi itu dimulai saat Ihsan ditunjuk menjadi tunggal keempat Piala Thomas tahun lalu dan berlanjut di Piala Sudirman tahun ini. Jonatan mendapatkan panggung sejak pertandingan pertama. Pebulutangkis pelatnas itu memang kalah dari tunggal Inggris Rajiv Ouseph yang memiliki peringkat jauh lebih bagus, ke-20 dunia. Tapi, Jonatan tampil cukup tenang sepanjang pertandingan. Dia kemudian berhasil melanjutkan hasil positif saat menghadapi pemain Taiwan Hsu Jen Hao.

  Firman yang babak belur saat menghadapi Jan O Jorgensen dimaklumi. Daya juang yang ditunjukkan Firman menjadi poin plus.

  Firman yang babak belur saat menghadapi Jan O Jorgensen dimaklumi. Daya juang yang ditunjukkan Firman menjadi poin plus.

  Panggung untuk Jonatan dkk. berlanjut di BCA Indonesia Open Superseries Premier di Jakarta. Bersama Anthony Ginting, Jonatan sukses menjejak perempatfinal. Saat itu mereka tampil dari babak kualifikasi dan hanya dipatok target lolos babak utama.

  Ada yang menarik dari rivalitas Jonatan dan Anthony di turnamen itu kendati mereka tak berduel dalam satu partai. "Saya terpacu untuk bisa terus perempatfinal meski melawan pemain-pemain senior dan lebih diungulkan. Kalau Anthony bisa, seharusnya saya juga bisa," kata Jonatan.

  Legenda hidup bulutangkis Susi Susanti memberikan nilai bagus kepada Anthony. "Secara teknik, Anthony mempunyai bola-bola yang berbahaya. Permainan dia mirip dengan Taufik Hidayat," kata Susi.

  SEA Games di bulan Juni ini yang benar-benar menjadi arena pembuktian para pemain muda itu. Jonatan, Firman, Ihsan, dan Antony mengisi slot pada nomor beregu. Jonathan, Firman, dan Anthony masih berusia 17 tahun. Hanya Ihsan yang sudah berumur 19 tahun.

  Kali ini, Ihsan yang menjadi lakon protagonis. Ihsan yang dipasang sebagai tunggal ketiga mampu menjalankan tugas dengan amat baik. Saat Indonesia harus menjalani duel penentuan di partai kelima, Ihsan membuktikan diri layak dipercaya.

  Bermain di partai penentuan pada babak semifinal, Kamis (11/6/2015), di Singapura Indoor Stadium, Ihsan menang atas tunggal ketiga Malaysia Mohammad Arif Abdul Latif dengan skor 21-12, 22-20.

  Ihsan menang mudah di gim pertama dengan sudah unggul 11-8 pada interval. Tapi, memasuki gim kedua Ihsan malah kendor. Dia tertinggal 0-9 dari lawan. Ihsan belum mau menyerah. Pemain asal PB Djarum Kudus itu bisa mengejar.

  Ihsan kembali tampil inkonsisten. Dia kembali jauh tertinggal 14-20. Lagi, lagi Ihsan menunjukkan diri kalau belum habis. Dia bangkit dan memaksa deuce dan menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan.

  Drama Ihsan berulang di babak final sehari kemudian (12/6/2015). Kembali dipaksa imbang 2-2, Ihsan dipasang sebagai penentu. Menghadapi tunggal ketiga Thailand Suppanyu Avihingsanon, Ihsan menutup pertandingan dengan kemenangan 20-22, 21-16, dan 21-9. Indonesia akhirnya menang 3-2. Emas pun menjadi milik Indonesia.

  “Khusus buat nomor tunggal, pemain-pemain yang turun di sini adalah andalan masa depan. Prestasi ini adalah awal yang bagus buat pemain-pemain muda," kata Taufik seperti dikutip Badminton Indonesia.

  Taufik tetap mengingatkan jika itu baru langkah awal. Ada proses panjang yang harus dilewati para pemain muda itu untuk menjadi yang terbaik di level dunia.

  "Ingat, ini baru awal euforianya jangan berlebihan, masih banyak team event yang lainnya. Pemain juga harus dapat memanfaatkan kesempatan yang diberikan,” ujar peraih medali emas bulutangkis tunggal putra di Olimpiade Athena 2004.

Pernah dimuat di detikSport 15 Juni 2015

Selasa, 16 Juni 2015

Kartini Olahraga: Dari Atas Arena Sampai Melahirkan dan Membesarkan Atlet Muda


  “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”

  Perempuan-perempuan ini tangguh di atas gelanggang pada masa jaya mereka. Kini, Elsa Manora Nasution dkk. tetap bergulat di cabang olahraga yang pernah digeluti: sebagai pemilik akademi, sekolah atau klub dan memoles bibit-bibit muda itu secara langsung.

  Mereka pernah menyandang tanggung jawab yang tak kecil: nama bangsa. Jadwal ketat latihan pagi dan sore serta berkompetisi sudah jadi hal lumrah sejak usia belia.

  Faktanya, mereka pernah menjadi paling tangguh di cabang olahraga masing-masing. Tak ingin pengalaman dan kemampuan menguap begitu saja plus kecintaan kepada anak-anak, mereka mempunyai ide serupa. Membangun sekolah atau klub untuk atlet muda.

  Ide yang muncul itu mereka kawal sendiri, ya manajerial, ya soal latihan. Bahkan akhir pekan kerap kali dihabiskan (kembali) di arena untuk mendampingi anak didik mereka. Mantan atlet perempuan itu mengikuti jejak Kartini yang memilih membangun tempat belajar di dalam 'rumah' nya. Dengan segala keterbatasan dan modal keilmuan serta pengalaman yang dimiliki mereka menjadi Kartini masa kini.

  Mereka perempuan-perempuan yang setia terhadap olahraga yang sudah membesarkan nama mereka bak seorang Kartini modern.

  Mereka bertutur tentang kesibukan saat ini. Suka dan duka. Siapa saja?

1. Elsa Manora Nasution di sini
2. Angelique Widjaja di sini
3. Sarwendah Kusumawardhani di sini
4. Julisa M. Rastafari di sini
5. Darwati di sini
6. Jeany Momo di sini

Seri Kartini Olahraga pernah dimuat di detikSport 21 April 2015

Selasa, 09 Juni 2015

Upaya Jeany 'Momo' Mencari Wanita Pemberani untuk Balapan Jalan Raya

Jeany 'Momo' Harmono memutuskan pensiun setelah tak punya lagi pesaing di balap motor road race. Kini, lewat sekolah balap, dia mencari pebalap-pebalap perempuan penerusnya.

 
  Sudah tak punya pesaing menjadi alasan utama Jeany 'Momo' Harmono pensiun dari balap motor road race. Perempuan 36 tahun itu masih terus mencari 'lawan' sepadan lewat sekolah yang dibangunnya.

  Jeany akhirnya meninggalkan sirkuit aspal di tahun 2008. Di tahun berikutnya, perempuan kelahiran Surabaya 3 Juni 1978 tersebut sesekali masih tampil. "Kalau kangen, ya ikut saja," kata Jeany.

  Tapi, setelah itu Jeany benar-benar tak balapan lagi. Balapan di kelas seeded bebek dua mulai berat untuk dimenangkan. Tapi, dia masih terlalu tangguh jika turun di kelas khusus wanita sehingga tak diperbolehkan ikut serta.

  Kesulitan mendapatkan lawan itulah yang menjadi salah satu alasan Jeany mendirikan sekolah balap Jeany Harmono Racing School di Surabaya pada tahun 2010. Dia berharap besar bisa memoles pebalap putri.

  "Lagipula daripada ilmunya nganggur, lebih baik dibagi-bagi. Usia murid enggak ada batasan. Sekarang paling kecil 8 tahun. Paling tua bisa bapak-bapak, biasanya orang-orang moge. Katanya kalau turing biar enggak kaku," kata Jeany dengan logat Surabaya yang kental itu.

  Ya, sekolah balap motor road race itu dibuka untuk umum. Tua, muda, anak-anak, laki-laki ataupun perempuan. Jeany hanya mensyaratkan para peminat datang mendaftar, bayar biaya sekolah, dan mendapatkan restu dari orang tua masing-masing.

  Jeany menawarkan paket belajar, bisa harian atau dua mingguan. Setelah jadwal ditetapkan, si anak didik bisa datang ke Sirkuit Kenjeran, Surabaya. Motor dan mekanik sudah disiapkan. Tinggal gas dan ngeng....siswa bisa langsung diawasi oleh Jeany. Eh, syarat lainnya fisik sudah harus siap untuk menggeber motor sekencang-kencangnya.

  Untuk kelas pemula, motor yang disediakan adalah motor standar yang dikendarai ibu-ibu ke pasar alias yang tak banyak modifikasi yang dipakai. Tapi untuk kelas lanjutan barulah Jeany menyiapkan motor yang siap digas lebih kencang.

  "Saat latihan kan terlihat siapa yang benar-benar niat atau sekadar ikut-ikutan. Kalau mereka tak takut jatuh dan niat sungguhan untuk jadi pebalap, saya juga siap pol-polan bagi ilmunya," ucap perempuan yang setia dengan rambut pendek tersebut.

  "Kalau ada murid yang datang bersemangat ya aku ikut semangat. Kalau murid males ya aku ikut males. Tapi itu kan tantangan, sebisa mungkin aku harus pompa semangat mereka. Pertama terkait fisik, barulah teknik. Jangan sampai baru beberapa putaran langsung drop fisiknya. Makanya aku siapkan latihan fisik dulu," jelas lulusan guru Universitas Adi Buana itu.

  Nah, agar penanganan bisa intensif Jeany membatasi empat pebalap dalam satu hari latihan. Jumlah itu tak bisa ditawar.

  "Kalau pebalapnya lebih dari empat nanti saya sendiri yang akan kesulitan di sirkuit. Selain harus ngantri, saya enggak bisa ngontrol di sirkuit. Saat mereka belok seperti apa. Makanya, saya harus benar-benar ada di tengah sirkuit," ucap dia.

  Kendati semua berjalan lancar, Jeany yang kini juga tengah jadi asisten pemusatan latihan daerah Jawa Timur itu masih menyimpan satu keinginan yang belum juga terkabul. Alasan itu sekaligus misi dia mendirikan sekolah balap.

  "Bukan, bukan soal uang. Toh, aku enggak pernah nombok. Aku ingin punya murid cewek yang bisa berkembang paling enggak sejajar dengan prestasiku, lebih bagus lagi kalau bsia lebih bagus dari aku," harap dia.

  "Biasanya sih problem pebalap cewek ada pada orangnya masing-masing. Nyari pebalap perempuan susah, enggak banyak yang mau balapan road race susah. Pada takut lecet parah, kan langsung ke aspal.

  "Persoalan akhir ada pada mental juara. Ini yang kadang harus didampingi. Cuma butuh sering latihan dan ikut kejuaraan nasional dan internasional," jelas mantan pebalap yang belajar sampai ke Inggris itu.

Jeany 'Momo' Harmono

Nama lengkap: Nanda Indira Jeany
36 tahun
Prestasi:
Juara Kejuaraan Nasional road race khusus kelas wanita 1995-1998
Runner-up kelas pemula Kejuaraan Nasional 1999
Peringkat III Kejuaraan Nasional kelas bebek 2 tak underbone 125 cc
Peringkat V Kejuaraan Nasional kelas bebek 2 tak underbone 110 cc
Aktivitas:
- Pemilik dan pelatih di Jeany Harmono School
- Pemilik Jeany Harmono Outlet Otomotif
- Asisten pelatih puslatda balap motor IMI Jawa Timur

Sabtu, 30 Mei 2015

Darwati, Ratu Jalan Cepat, Mencari Penerus Takhta

Darwati mulai berpikir untuk pensiun. Tak ingin takhtanya kosong, dia mulai membentuk sang penerus.



  Sudah berusia kepala empat, Darwati mulai ancang-ancang pensiun. Sebuah upaya besar dibuat sang ratu jalan cepat itu dengan membangun klub di rumahnya sendiri agar lebih mudah menitiskan ilmu yang dimiliki.

  Perubahan status dari gadis menjadi istri, kemudian berlanjut menjadi seorang ibu, juga dari usia belasan sampai kepala empat tak membuat kendor semangat Darwati menggeluti jalan cepat. Perempuan kelahiran Blora, Jawa Tengah pada 6 Desember 1973 itu tetap berlatih pagi sore.

  Saat ujian tiba, Darwati juga tampil all out. Dia masih jadi yang terbaik di tanah air. Lawan-lawan bisa sedikit senang ketika Darwati 'cuti'. Tapi, cuti itu biasanya diambil ketika ada momen besar seperti hamil dan melahirkan. Seperti di tahun 2001-2002. Setelah itu, Darwati tancap gas.

  Bahkan, ketika usianya memasuki akhir 30-an. Istri Hisyam Al Uwaini tersebut konsisten mengoleksi medali emas sejak Pekan Olahraga Nasional 2000 di Surabaya. Tiga PON berikutnya juga diselesaikan sebagai juara.

  Di SEA Games, Darwati juga masih bisa bersaing. Dia mengoleksi tiga perunggu dan tiga perak dari ajang se-Asia Tenggara dua tahunan yang sudah diikuti sejak 1989 tersebut.

  Tapi, torehan apik itu justru membuat galau Darwati belakangan ini. Sebab, dia belum punya penerus, padahal usianya sudah 41 tahun.

  "Itu jadi salah satu alasan saya untuk ngopeni (merawat) atlet jalan cepat di rumah. Saya ingin sekali menularkan ilmu buat anak-anak muda ini," kata Darwati.

  Kebetulan, kediaman Darwati dan suaminya, Hisyam Al Uwaini, ada di Tumpang, Malang, Jawa Timur, yang ada di ketinggian yang pas untuk latihan jalan cepat. Lokasi latihan pun tak sulit. Jalan kampung cukup untuk mengasah teknik dan fisik.

  Darwati menampung anak-anak yang ingin berlatih bersama dia sejak lama. Tapi, dalam perjalanannya sering kali dia terbentur tak bisa mengirimkan atlet. Nah, agar punya jalan memudahkan atlet yang berlatih bersamanya, akhirnya dia dan suaminya bersepakat mendirikan sebuah klub atletik: Mandala Surya Malang setahun lalu.

  "Untuk ikut kompetisi harus mewakili klub atau pengprov, jadi agar lebih mudah kami bikin klub ini," jelas perempuan berhijab itu.

  Soal metode latihan, Darwati tak kesulitan. Dia mengombinasikan teknik jalan cepat yang memang sudah jadi makanan sehari-harinya dengan pengalaman suami yang mantan pelari jarak menengah.

  Suami Darwati jugalah yang berperan sebagai pelatih sesungguhnya. Sementara dirinya, masih jadi pelatih bayangan. Sebab, dia sendiri masih fokus mengasah kemampuan untuk tampil pada Pekan Olahraga Nasional 2016 di Bandung.

  "Saya beri latihan lari tiga kali sepekan. Darwati juga saya paksa untuk lari demi memperbaiki kerja paru-paru. Hasilnya, meski usia dia sudah masuk kategori tua, Darwati bisa memecahkan rekor pada jarak 10 kilometer," beber Hisyam.

  Selain menangani soal teknik, Darwati juga punya tanggung jawab urusan dapur. Dialah yang merancang menu makan enam atlet yang kini menjadi anak asuhnya, dibantu seorang tukang masak. Mereka juga berbagi peran siapa yang jadi pelatih yang sangar ataupun yang bisa dekat dengan para atlet didikan.

  Pasangan suami istri itu juga berkolaborasi soal pendanaan klub. Mereka mempunyai cara yang cukup unik. Yakni, mengandalkan 'prestasi' untuk pemasukan.

  Mereka memang sepakat tak meminta iuran dari atlet didikan. Sponsor juga tak rutin datang. Makanya, Darwati dan Hisyam wanti-wanti kepada para atlet jika klub itu bisa berjalan jika mereka mendapatkan jatah pemusatan latihan daerah. Jika Darwati dan atlet lain lolos puslatda, biasanya Hisyam juga bakal direkrut. Jatah bulanan bisa dikelola bersama-sama.

  "Makanya kami tidak bisa menampung atlet terlalu banyak. Dana terbatas, selain itu kami tak bisa membayar pelatih lagi," ucap Hisyam.

  Darwati mengatakan situasi itu sama sekali bukan gangguan. Dia sudah memahami sejak awal. Bahkan dia menjadikan tantangan untuk terus berprestasi dan tak henti mencari penerusnya.

  "Buat para atlet perempuan, jangan mau kalah oleh pria. Usia juga bukan halangan untuk terus berprestasi," pesan dia.

Darwati


41 tahun
Suami: Hisyam Al Uwani
Anak: Sulthan Hisyam
Prestasi:
3 perunggu SEA Games (1989, 1991, 2001)
3 perak SEA Games (2007, 2009, 2011)
4 emas PON (2000, 2004, 2008, 2012)
8 emas Kejuaraan Nasional (2001, 2005, 2005, 2006, 2007, 2009, 2010, 2011)
Aktivitas:
Pemilik dan pelatih Klub Atletik Mandala Surya Malang Timur (2014-sekarang)

Jumat, 29 Mei 2015

Nazar yang Membuat Julisa Rastafari Setia Memoles Pebasket Muda

Julisa M. Rastafari gemas dengan prestasi tim basket putri Indonesia. Demi menunggu medali perak miliknya bisa dilampaui, Lisa terus mencetak pemain-pemain cilik. 



  Julisa M. Rastafari selalu dibuat dagdigdug setiap kali SEA Games bakal bergulir. Semangat dan rasa penasaran menjelang ajang dua tahunan itu menjadi salah satu alasan mantan kapten timnas putri basket tersebut tetap setia menangani anak-anak di Indonesia Muda.

  23 tahun sudah berlalu. Tapi, tim nasional basket putri belum juga mampu mengulang atau bahkan memperbaiki raihan Julisa pada SEA Games 1991. Kala itu, tim yang dipoles Rastafari M. Horongbala tersebut membawa pulang perak.

  Lisa--demikian dia kerap disapa--gemas tak terkira medali itu belum juga bisa diulang atau malah diperbaiki. Lisa menyadari situasi saat ini memang membuat para atlet harus bekerja lebih keras untuk latiha. "Situasi para pemain saat ini memang lebih sulit dan godaan yang lebih banyak. Gadget, perangkat games, juga kemacetan di Jakarta yang makin menggila, serta makin susahnya mencari lapangan untuk latihan," kata Lisa.

  "Tapi, bukan berarti kesulitan itu tidak bisa dikalahkan. Mungkin butuh formula yang lebih manjur untuk bisa minimal mengulang medali itu," harap ibunda pemain basket nasional Andakara Prastawa Dhyaksa tersebut.

  Karena rasa penasaran itu pula Lisa belum bersedia meninggalkan lapangan basket. Pagi dan sore dia masih memoles para pemain muda di Indonesia Muda Bola Basket Jakarta. Ya, Lisa menyimpan nazar untuk berhenti dari lapangan basket jika tim nasional putri bisa meraih hasil lebih oke dari masanya.

  Bahkan, biasanya perempuan 52 tahun itu jadi langganan pengurus PP Perbasi. Cuma dua kepengurusan ini saja namanya tak masuk jajaran itu.

  "Saya putuskan untuk tak jadi pengurus. Siapa tahu kalau saya di luar, Perbasi bisa lebih oke, he..he..he," kelakar Lisa.

  Di klub, Lisa menangani tim kedua U-16. Bukan U-16 yang utama. Lisa mengatakan ada kepuasaan berbeda yang dirasakan ketika bisa memoles pemain yang sudah dianggap tak berkembang oleh pelatih lain.

  Lagipula, Lisa tertantang untuk terus menitiskan ilmu basket yang dimiliki dia kepada anak didik di klub yang bermarkas di Senayan, Jakarta Pusat itu. Padahal, Lisa sudah jadi penasehat klub tersebut.

  Ya, Indonesia Muda Bola Basket memang bukan sepenuhnya milik Lisa dan suami, Rastafari. Tapi, mereka berdualah yang nyempal dari Indonesia Muda yang punya menaungi banyak cabang olahraga di masa dulu, menjadi punya kepengurusan di cabang basket pada tahun 1993.

 "Kami berdua memang gila basket. Buat saya basket sudah jadi bagian dari hidup. Saya mendapatkan segalanya dalam hidup ini terkait dengan basket: kuliah, pekerjaan, bahkan suami," jelas lulusan Geologi Universitas Trisakti itu.

  "Kalau Indonesia Muda sudah jadi rumah. Nah, karena sudah saya anggap sebagai rumah, saya kembangkan dengan setulus hati. Saya cari cara bagaimana IM ini bisa jadi besar dan menelorkan pemain-pemain oke," beber perempuan yang pernah delapan tahun menjadi karyawan di Arco Oil Company itu.

  Makanya, Lisa tak keberatan ketika harus mengerjakan semua tugas organisasi dan melatih di lapangan di tahun-tahun awal IM Bola Basket Jakarta. Dialah yang mengurus keuangan anggota klub, jadwal, sampai urusan berangkat ke kompetisi.

  Kala itu, dia mencari cara agar IM bisa terus berkembang. Dana menjadi persoalan utama.

  "Akhirnya kami putuskan untuk membuat sistem iuran. Benar-benar amatir pokoknya. Saya bersyukur dalam perjalanannya, bisa makin modern. Dengan bantuan teman-teman IM lama-lama bisa menggaji pelatih dan pengurusnya," jelas ibu dua anak itu.

  Saat ini, IM mempunyai 13 pelatih dan dua pelatih magang. Jumlah siswa dari berbagai kelompok umur sudah mencapai 400 orang. Dengan masing-masing kelas dibatasi maksimal 20 anak.

  Semoga saja, dari masing-masing kelas itu bisa muncul pemain-pemain top yang bisa membawa pulang minimal medali perak SEA Games. "Medali dari timnas putra, juga dari timnas putri. Dua-duanya bisa menyandingkan berbarengan lebih bagus lagi. Ayo, tolonglah Perbasi, buat tidur saya enak dengan cetak medali perak atau yang lebih baik," ucap Lisa.


 
Julisa M. Rastafari

52 tahun
Suami: Rastafari Horongbala
Anak:
1. Andakara Prastawa Dhyaksa
2. Baladika Badra Anggakara
Prestasi:
- Perunggu SEA Games 1983
- Perunggu SEA Games 1987
- Perunggu SEA Games 1989
- Perak SEA Games 1991
Aktivitas:
- Penasehat dan pelatih Indonesia Muda
- Pelatih timnas U-18 putri (2014)
- Pelatih Timnas U-16 putri (2013)
- Ketua III (SDM dan sertifikasi) PP Perbasi (2004-2010)
- Bidang Kobatama/Kobanita PP Perbasi (2002-2004)
- Bidang Kobanita PB Perbasi (1998-2002)
- Bidang Pembinaan Wanita PB Perbasi (1994-1998)

Kamis, 28 Mei 2015

Sarwendah Bangun Akademi Bulutangkis dengan Akuisisi Klub Masa Kecil

Satu-persatu mimpi Sarwendah Kusumawardhani terwujud. Termasuk memiliki klub bulutangkis.


  

  Sarwendah Kusumawardhani punya tekad kuat untuk menjadi pelatih bertangan dingin. Mantan pebulutangkis tunggal putri itu bisa sekaligus bernostalgia dengan klub di masa kecil.

  Keinginan untuk menjadi pelatih memang sudah dipancang Sarwendah sejak masih berstatus pemain. Sarwendah tak terpikir untuk banting setir ke usaha lain.

  "Tidak ada keinginan untuk kerja lain, pokoknya setelah pensiun saya ingin jadi pelatih. Setidaknya saya bisa menelurkan ilmu kepada anak-anak," kata Sarwendah.

  Maka tak lama setelah gantung raket, Sarwendah langsung mengiyakan ajakan PB Tangkas Jakarta untuk jadi pelatih. Seperti nomor andalan dia, Sarwendah dipercaya memoles pemain tunggal putri. Selain itu, perempuan kelahiran 22 Agustus 1967 itu bertekad punya lapangan bulutangkis sendiri suatu hari nanti.

  "Awalnya saya kaget juga, ternyata melatih itu tidak gampang. Di situ saya belajar dan belajar," kenang Endah.

  Sedang asyik-asyiknya menikmati profesi baru di tahun 1995, eh kekasih dia Hermawan Susanto yang juga mantan pebulutangkis nasional melamar. Menikah dan kemudian hamil, membuat Endah 'cuti' sebentar.

  Setelah anak sudah bisa ditinggal-tinggal dan rasa kangen kepada bulutangkis kembali menggelora, pas ada tawaran menarik.

  Klub di masa kecil, Mei, meminta Endah untuk turut menangani para pemain junior di tahun 2002. Tapi popularitas dia sebagai pemain nasional memantik para orang tua untuk menyerahkan anak-anak mereka agar ditangani Endah. Mau tak mau Endah mengamini permintaan itu.

  Selama melatih kembali, keinginan untuk mempunyai GOR sendiri menguat. Beberapa kali dia meminta sang suami untuk mencarikan GOR yang setidaknya mempunyai satu lapangan. Tapi, rupanya cita-cita Sarwendah yang satu ini lebih rumit. Maklum, harga tanah di Jakarta makin membumbung tinggi. Tapi, suau ketika doanya terjawab.

  "Mungkin sudah jalannya ya. Suatu hari klub masa kecil saya itu, Mei, berniat menutup latihan dan melego GOR," ucap dia.

  Sarwendah pun membujuk suami untuk membelinya. Karena persoalan romantisme, Sarwendah merasa sayang jika GOR itu jatuh ke tangan orang lain. Dengan bantuan Liem Swie King--paman Hermanto yang dikenal sebagai King Smes--akhirnya GOR itu jadi milik Sarwendah.

  Memanfaatkan GOR itu, Sarwendah membuka klub di tahun 2010. Namanya diambil dari nama dia sendiri: Sarwendah Badminton Club. "Biar orang mudah mengingat," jelas dia.

  Untuk urusan administrasi dan melatih, Sarwendah dibantu oleh sang suami. Bahkan, suami tak keberatan harus lebih banyak lagi fokus lagi mengurus tim ketika Sarwendah dipanggil ke pelatnas Cipayung untuk menjadi asisten pelatih tunggal putri. Dari menangani setiap hari, Sarwendah tinggal punya waktu di akhir pekan.

  Faktanya, klub itu tumbuh dan berkembang. Kini klub tersebut mempunyai 70-100 murid reguler dan 25-30 siswa yang menghuni akademi. Mereka ditangani sembilan pelatih lain.

  Sebuah mobil operasional klub sudah dimiliki. Asrama juga mulai dibangun. Selain itu Sarwedah BC juga menyediakan reward bagi para pemain yang menunjukkan kualitas oke. "Di asrama ada empat kamar sekarang, pelan-pelan bisa lebih banyak lagi nantinya," jelas dia.

  Untuk menjaga kelangsungan klub itu, Sarwendah mengandalkan iuran murid. Maklum, sponsor tak rutin datang.

  Nah, untuk menyiasati anak didiknya tampil di ajang internasional, Sarwendah menggandeng Susi Susanti dan PB Jaya Raya Jakarta.

  "Kalau sirkuit nasional masih oke kami tangani sendiri, atau ke Malaysia dan Songapura. Tapi yang lebih dari itu, saya dengan senang hati bekerja sama dengan pihak lain. Susi bantu, Jaya Raya juga," ucap dia.

  Semua itu belum membuat Sarwendah puas. Sebab, dia justru makin tertantang untuk mencetak pemain tunggal putri berkualitas.

  "Yang saya harapkan sudah terwujud. Saya masih merasa kurang, merasa kurang karena belum mencetak pemain yang bagus. Tidak cuma satu, terus saja biar regenerasi berjalan," jelas ibu satu anak itu.



Sarwendah Kusumawardhani
47 tahun
Suami: Hermawan Susanto
Anak: Andrew Susanto
Prestasi:
Emas SEA Games 1993
Juara Belanda Terbuka 1987, 1991, dan 1992
Juara Malaysia Terbuka 1991
Emas Badminton World Cup 1990
Aktivitas:
- Asisten pelatih tunggal putri pelatnas
- Pemilik Sarwendah BC dan pelatih

Rabu, 27 Mei 2015

Bersenang-senang dengan Tenis di Akademi Angelique Widjaja

Angelique Widjaja bertekad membuat tenis  dikenal anak-anak. Dia membuat tenis jadi kegiatan yang menyenangkan.



  Tanpa mengusung nama Angelique Widjaja terang-terangan dan tanpa promosi jor-joran, AD Tennis Academy laris manis. Angie mencoba mengajak anak-anak untuk menyukai tenis dengan bersenang-senang di akademi miliknya itu.

  Tenis, tenis dan tenis. Seperti itulah kegiatan Angie sejak usia empat tahun sampai saat ini. Dari ikut-ikutan main tenis kelima kakak lelakinya, perempuan kelahiran Bandung 12 Desember 1984 itu jadi petenis profesional.

  Gantung raket dan 'liburan' sebentar, akhirnya dia gatal kembali ke 'rumah kedua' dia di lapangan tenis. Angie membangun akademi tenis sekaligus pelatih AD Tennis Academy.

  "Lagipula, saya mempunyai passion dengan anak kecil. Makanya, saya buka AD Tennis Academy, sekolah tenis khusus junior. Saya membuka ini bersama mantan pelatih yang sudah kerja bareng selama 13 tahun, Deddy Tedjamukti," kata Angie lewat surat elektronik.

  Angie yang pernah mencapai urutan 55 WTA itu merogoh kocek sendiri untuk membangun akademi tersebut. Karena memang sudah malang-melintang di dunia tenis, baik Angie ataupun Deddy, niatan itu mudah saja diwujudkan. Juli 2010 sekolah itu resmi dibuka di Simprug, Jakarta Selatan.

  Tak hanya sibuk saat mendirikan, Angie juga terjun langsung menangani anak-anak. Dari Senin sampai Sabtu dia hadir di lapangan, kurang lebih tiga jam setiap hari. Tentu saja bukan cuma mereka berdua, tapi ada 20 pelatih yang terlibat saat ini. Sebab, siswa di akademi itu sudah ratusan.

  Padahal kalau ditilik soal promosi, Angie tak bikin gebrakan khusus. Bahkan, Angie tak ikut-ikutan memanfaatkan media sosial untuk menyebarluaskan sekolah yang dibangunnya itu. Akademi itu berkembang lewat getok tular alias dari mulut ke mulut.

  "Saya malah enggak pernah promosi. Thank God, ini lewat mouth to mouth saja. Makanya, suka dibilang kayak enggak niat bisnisnya," jelas istri Andreas Timothy Hadikrisno tersebut.

  Ya, Angie memang jauh lebih santai dalam menjalankan bisnis itu. Dia tidak ngoyo.

  Angie mempunyai biang dalam membuat adonan dalam akademi itu. Dia mengajak anak-anak bersenang-senang dengan tenis. Soal prestasi nasional, siapa tahu bisa terdongkrak kemudian.

  "Ehmmm secara pribadi, saya sudah puas dengan pencapaian di tenis. Nah, di academy tennis ini saya ingin membangun fun tennis, supaya anak-anak di Indonesia mulai menyukai lagi olahraga tenis," kata peraih perak Asian Games 2002 di Busan dari ganda putri itu.

  Dia sendiri begitu menikmati rutinitas itu. Apalagi, jam di lapangan sudah tak seketat ketika berstatus petenis WTA. Kala itu, berjumpa dengan keluarga dan menjejakkan kaki di tanah air menjadi persoalan yang sulit.

  Angie tak pernah menyesalinya. Kini dia tinggal panen buah dari kerja keras dan pengorbanan jauh dari keluarga itu. Sederet prestasi di level Asia pernah diraih Angie. Dia juga rutin tampil di turnamen tenis Grand Slam.

  "Dibanding saat masih jadi atlet, durasi di lapangan tenis itu sudah menurun drastis. Waktunya juga lebih fleksibel," kata perempuan yang menjadi petenis pro di tahun 1999 itu.

  "Bedanya, yang pasti ketika jadi petenis, athlete is the boss, tapi ketika membuka academi kita mengubah posisi kita, client is our boss ha..ha..ha," canda penyuka warna-warna klasik dan pastel itu.

  Angie juga merasa beruntung ada dalam lingkungan keluarga yang sangat mendukung. Bahkan, dia merasa suami yang bukan seorang atlet apalagi petenis profesional memberikan dukungan yang tak habis-habisnya.

  "Pokoknya suami dan keluarga saya adalah God's greatest gift dalam hidup saya. Doakan ya saya segera dapat momongan," harap penyuka makanan Jepang dan aneka steak itu.

Angelique Widjaja

30 tahun
Suami: Andreas Timothy Hadikrisno
Prestasi:
- Ranking 55 WTA (tahun 2003)
- Emas Asian Games 2002 Busan (beregu putri)
- Perak Asian Games 2002 Busan (ganda putri bersama Wynne Prakusya)
- Perak SEA Games 2007
Aktivitas:
- Pemilik dan pelatih AD Tennis Academy

Selasa, 26 Mei 2015

Elsa Manora Nasution, Kombinasikan Pengalaman Parenting dengan Ilmu Renang

Elsa Manora Nasution setia dengan olahraga yang sudah membesarkan namanya, renang. Ilmu ditularkan lewat sekolah Pari Sakti.




  Elsa Manora Nasution mempunyai jurus jitu mengembangkan Sekolah Renang Pari Sakti. Salah satu putri dinasti Nasution itu mengombinasikan pengalaman sebagai ibu dan atlet nasional selama belasan tahun untuk memoles atlet muda.

  Elsa berteriak lantang dari pinggir kolam Damai Indah Golf, Bintaro Serpong Damai, Serpong, Tangerang Senin (20/4/2015) petang. Dengan kalimat yang jelas perempuan kelahiran Jakarta, 25 Oktober 1977 itu menginstruksikan empat bocah yang ada di hadapannya.

  Setelah anak-anak itu mentas, Elsa menyambut dengan senyum dan mengajak ngobrol santai. Barulah, anak-anak itu berpamitan.

  "Ini sepi, coba ke sini Jumat atau Sabtu, bisa ramai sekali," kata Elsa.

  Jumlah murid Pari Sakti SCBD memang bukan cuma empat bocah cilik itu, tapi mencapai 135 dari anak-anak sampai dewasa. Tentu saja di hari-hari itu, Elsa dibantu oleh para pelatih lain. Elsa adalah owner sekaligus kepala sekolah Pari Sakti cabang SCBD.

  Elsa memang tak langsung terjun ke kolam para siswa terjun di kolam. Dia kebagian mengawasi dari pinggir kolam, seperti sore kemarin.

  "Kalau saya nyemplung malah nanti jealous satu dengan yang lain. Saya tak ingin itu terjadi," ucap dia.

  Tapi, bukan berarti Elsa tidak akrab dengan para murid. Justru suara lantang itu yang jadi salah satu jurus jitunya.

  "Tugas saya mengawasi. Kalau ada anak-anak yang main siram-siraman atau mereka salah duduk di sudut manapun, paling jauh sekalipun, saya akan teriak. Saya hapal nama semua murid he..he..he. Tapi setelah itu, ya sudah, kalau sudah naik ke atas, saya sapa lagi. Jadi mereka senang-senang saja dan kalau ketemu juga selalu menyapa,'Kak Elsa," beber dia.

  Atmosfer kekeluargaan itu dibangun Elsa bukan tanpa dasar. Selama belasan tahun, dia pernah menjadi atlet renang nasional sampai, sampai kolam renang bak rumah kedua.

  Dalam perjalanannya dia mendapatkan ilmu parenting setelah melahirkan putri pertama Naila Cahaya Puteri dari pernikahan dengan Ricky Soebagdja dan anak kedua, Naddif Elmar Asyraf Siregar, yang baru berusia 2 tahun, dari pernikahan dengan Ardiansyah Arifin Siregar. Bekal itu makin klop dengan lisensi pelatih yang didapatkan dari PRSI.

  "Bagaimana saya pdkt (pendekatan) ke anak-anak, bagaimana menghadapi anak yang takut-takut atau malah terlalu berani. Saya juga intens face to face. Juga mengembangkan cara membujuk anak yang mempunyai karakter berbeda-beda. Pengalaman jadi seorang ibu saya terapkan di sini," ucap dia.

  Suasana rileks itu juga terbangun karena Pari Sakti di SCBD itu mempunyai konsep berbeda dengan Pari Sakti Senayan yang dilahirkan ayah Elsa, Radja Nasution, dan kini ditangani adiknya, Akbar Nasution.

  "Tidak semua orang tua menginginkan anak-anak mereka menjadi atlet. Tapi mereka tetap ingin anak-anak bisa berenang untuk kesehatan, kebugaran atau hobi. Lagipula dari awal saya mematok untuk mengajarkan mereka bisa melakukan empat gaya renang dengan baik dan benar bukan menjadi atlet," ujar dia.

  "Saya memberikan 50 persen ilmu renang dari yang diberikan Pari Sakti Senayan. Yang di sana memang untuk mengejar prestasi.

  "Namanya memang sama, tapi tujuannya berbeda. Awalnya saya memang ingin punya nama sendiri tapi ini kan bisnis jasa yang modalnya tenaga dan ilmu. Kalau mencari nama baru, I'm a busy mom. Idenya sekolah renang, seperti preparation. Kalau mau lanjut ke level prestasi saya sarankan untuk bergabung di Senayan atau mencari klub yang dekat-dekat daerah sini," jelas perempuan yang memutuskan pensiun dari atlet pada 2005 itu.

  Tapi bukan berarti bekal untuk para pelatih di Pari Sakti SCBD berbeda. Elsa tak bisa ditawar soal standar pelatih. Para pelatih baru harus mempunyai lisensi pelatih plus wajib menjalani pelatihan ala Pari Sakti selama sepekan penuh sebelum menangani para perenang. Setiap tiga bulan sekali, ada penyegaran.

  "Saya tahu para pelatih ini ready to work tapi belum tentu ready to kids. Makanya saya harus menyiapkan mereka. Saya tidak ingin ada masalah karena keteledoran, seperti pelecehan seksual yang sangat sensitif," ucap pemilik delapan emas PON 2004 Jambi itu. 

  Meskipun membangun sekolah bukan untuk menjadi atlet nasional Elsa tak memungkiri masih menyimpan hasrat agar muncul perenang-perenang handal, terutama di sektor putri.

  "Saya pesan kepada perenang putri agar berjuang sekeras mungkin. Kita, Indonesia sama kuat dengan yang lainnya," tutur Elsa.


Elsa Manora Nasution (37 tahun)


Suami: Ardiansyah Arifin Siregar
Anak: 1. Nailah Cahaya Puteri (13 thn). 2. Naddif Elmar Asyraf Siregar (2 thn)

Prestasi:
3 perunggu SEA Games 1991 Manila
3 perak, 1 perunggu SEA Games 1993 Singapura
3 perak SEA Games 1995 Chiang Mai
1 perak, 1 perunggu, 1 SEA Games 1997 Jakarta
1 emas, 1 perak, 1 perunggu SEA Games 1999 Bandar Seri Begawan
1 perak, 1 perunggu SEA Games 2003 Hanoi
Aktivitas:
- Pemilik dan kepala sekolah Pari Sakti SCBD