Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label olahraga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Oktober 2016

Tentang Muhammad Sarengat yang Pernah Berpredikat Manusia Tercepat Asia

Muhammad Sarengat telah tiada. Tapi torehan prestasinya untuk Indonesia sebagai manusia tercepat Asia belum tergantikan.


Sarengat lahir di Banyumas, Jawa Tengah pada 28 Oktiber 1940. Dia meninggal 13 Oktiber 2014. bapak tiga anak itu sudah menderita stroke sejak 2010. Saat masuk rumah sakit Pondok Indah di bulan Oktober itu, Sarengat menghembuskan nafas terakhirnya.

Muhammad Sarengat

Lahir: Banyumas, 28 Oktober 1940
Isteri: Nani Supatmiani Titi Utari, 62 tahun
Anak:
- Retnosari Meidysina Setyorini, 39 th
- Dwi Ratnasari Setyoutsmi, 35 th
- Muhammad Landung Setyoutomo Suryoputro, 30 th

Pendidikan

- SDN 1 Batang
- SMPN 1 Pekalongan
- SMA Budi Utomo, Jakarta
- Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Magister Universitas Ora et Labora

Baca Juga: Bisikan Presiden Soekarno yang Memacu Mohammad Sarengat Jadi Manusia Tercepat Asia

Prestasi

- 2 emas, 1 perunggu Asian Games IV/1982 Jakarta
- 1 emas Ganefo 1963

Penghargaan

- 1967 Satya Lencana Kebudayaan
- Termasuk 100 atlet legendaris indonesia versi KONI

Karir

- Dokter pribadi wakil presiden Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978)
- Dokter pribadi wakil presiden Adam Malik
- Ketua Bidang pembinaan PB PASI
- Sekjen KONI Pusat
- Direktur Operasi Badan Pengelola Gelora Bung Karno

Baca Juga: 'Namaku Sarengat', Autobiografi Manusia Tercepat Asia yang Cuma Tersimpan dalam Almari

Favorit Sarengat:

Makanan

“Bapak tidak rewel soal makan. Tempe goreng dan sayur lodeh adalah makanan kesukaannya.”

Musik

“Saya tidak begitu suka musik jazz, tetapi kalau liriknya melankolis saya akan bisa menyukainya. Jangan salah saya sangatmenyukai Nidji dan Ungu yang sedang tren sekarang.”

Peliharaan

“Berganti-ganti, dari ayam kate, ikan nirwana, sampai anthurium.  Yang penting bisa nambah penghasilan.”

Olahraga

“Sekarang tinggal jogging saja.  Sebab setelah stroke saya sudah tidak lagi kuat melakukan membawa-bawa stik golf.”



Jumat, 16 September 2016

Bahaya Laten di Balik Manisnya Gelimang Bonus PON


Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 Jawa Barat kembali menjadi ajang pemerintah daerah untuk adu bonus. Ada bahaya laten yang mengancam prestasi internasional karenanya. 


Memberikan bonus kepada atlet berprestasi memang sudah semestinya. Tapi nominal yang jauh lebih besar buat para peraih medali PON ketimbang bonus untuk mereka yang mendonasikan medali di ajang internasional menjadi dilematis.

Selain itu, perbedaan mencolok janji masing-masing daerah berpotensi memunculkan atlet kutu loncat. Daerah yang menawarkan bonus paling besar menjadi incaran para atlet. Mau diakui atau tidak, ada bahaya laten yang mengintai di balik manisnya gelimangan bonus PON.

Fenomena itu--bagi-bagi bonus PON yang memunculkan atlet kutu loncat--bukan sekali ini saja muncul, tapi sudah menjadi tradisi. Maklum, dalam pelaksanaannya tak semua daerah bisa mengucurkan dana pembinaan olahraga secara konsisten.

Tak sedikit yang menerapkan sistem kebut semalam dalam persiapan menuju PON. Pemusatan latihan daerah (pelatda) hanya digeber setahun sebelum PON atau bahkan ada yang nekad menggeber pelatda pada tahun yang sama dengan pelaksanaan PON. Artinya, buat para atlet ada masa jeda dua PON di mana mereka tak mendapatkan uang saku dari KONI provinsi. Padahal belum tentu mereka dipanggil ke pelatnas.

Maka, mau tak mau atlet cari pendapatan lain di luar profesinya untuk menghidupi diri-sendiri dan bisa tetap berlatih. Makanya pula, tak sedikit atlet-atlet yang aji mumpung dengan memanfaatkan pemerintah daerah yang jor-joran menjelang PON. Mereka memilih provinsi yang menawarkan fasilitas latihan, kejuraan nasional dan internasional, uang saku, dan bonus besar. Meskipun dalam pelaksanaannya mutasi atlet tak lancar melulu. Bahkan, ada kasus atlet tak bisa tanding karena terganjal masalah transfer daerah itu. Tapi risiko itu cuma dianggap: namanya juga usaha.

Menyenangkan bukan cuma buat para atlet, tapi juga pemimpin daerah. Bagi atlet tentunya jadi kesempatan untuk mengamankan kesejahteraan masa depan. Sementara bagi pejabat, setidaknya bagi-bagi bonus itu bisa jadi panggung untuk mendongkrak popularitas.

Mari menyimak bonus dari beberapa provinsi menjelang PON Jabar tahun ini.

Di antara kontestan PON, pemerintah DKI Jakarta yang memberikan janji paling menggiurkan. Mereka menjanjikan bonus kepada peraih emas PON Jabar 2016 yang dihelat mulai 17-29 September sebesar Rp 1 miliar.

Tidak ada penjelasan lebih rinci untuk para penerima bonus dari masing-masing provinsi itu. Misalnya apakah Rp 1 miliar itu untuk mengapresiasi per keping emas atau per atlet. Sebab, cabang olahraga yang dipertandingan bermacam-macam, ada yang tunggal, ganda, trio, beregu, dan tim.

Padahal referensi pembagian bonus dari sebuah ajang olahraga amat mudah didapatkan lewat mesin pencari google. Jerman misalnya secara detail mengatur besaran bonus kepada atlet olimpiade yang berprestasi. Bukan cuma mereka yang dapat medali, tapi sampai para perempatfinalis untuk cabang-cabang olahraga yang mempunyai popularitas tinggi di level dunia. Juga bagaimana mereka membagi bonus kepada nomor tunggal, duo, trio, beregu, dan tim.

Baca Juga: PON 2016: Gengsi Daerah Oke, Prestasi Internasional Tetap yang Utama

Bahkan, jika ditilik nominalnya saja sudah terlalu 'wow'. Nominal itu seperlima dari yang didapatkan atlet peraih medali emas olimpiade atau setengah dari perak olimpiade 2016.

Apalagi jika menilik nominal bonus peraih emas Asian Games 2014 Incheon. Anda bakal geleng-geleng kepala sembari mengatakan, "Pantas atlet lebih senang tampil di PON. Dengan pesaing yang lebih ringan, bonusnya lebih besar,". Bisa jadi Anda tak sendirian bergumam.

Ya, penyumbang emas Asian Games Korea Selatan itu diberi bonus oleh pemerintah Rp 400 juta. Untuk level SEA Games, atlet penyumbang emas diganjar bonus 'cuma' senilai Rp 200 juta. Bisa dibayangkan betapa berbahayanya bonus-bonus itu dalam pencapaian prestasi Indonesia di level internasional?

Dengan nominal itu DKI memang menjadi daerah yang menjanjikan bonus paling besar di antara kontestan PON lainnya.

Mari simak janji bonus beberapa provinsi lain.

Tuan rumah Jawa Barat tak menyebut secara detail nominal bonus yang ditawarkan kepada peraih medali. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan hanya menyebut Jabar yang turun dengan kekuatan paling besar, 1.945 atlet, ada bonus dan target juara umum. Pokoknya peraih medali akan dapat bonus.

Pengumuman satu daerah biasanya sukses membuat panas telinga petinggi KONI dan pemerintah provinsi lain. Selain adu gengsi, ada lasan lain: muncul ketakutan atlet yang jadi lumbung emas bakal dibajak oleh daerah yang punya iming-iming bonus lebih besar.

Seperti Gubernur Papua Lukas Enembe yang tak mau kalah dalam memberikan bonus PON dari DKI. Papua mengirimkan 304 atlet yang turun dalam 34 cabor dari 44 cabor yang dipertandingkan. Kata sang gubernur: pokoknya bonus Papua harus lebih besar daripada DKI Jakarta.

Sumatera Selatan punya cara lain. Pemerintah provinsi Sumsesl menjanjikan bonus berupa apartemen di athlete village Asian Games 2018 kepada peraih medali PON. Setelah perhelatan asian Games kelar, apartemen yang kini tengah dibangun itu memang akan dilelang. Nah, di antaranya ada jatah untuk para peraih medali. diperkirakan nominalnya mencapai Rp 250-350 juta.

Jawa Timur juga menjanjikan Rp 250 juta buat para peraih emas, Sumatera Barat Rp 200 juta, begitu pula Riau yang memberikan iming-iming Rp 200 juta.

Janji yang menyenangkan tapi ternyata menyimpan buntut yang cukup panjang dan rumit, bukan?

Dengan adanya besaran yang amat jomplang satu daerah dengan yang lainnya dan berbuntut pada sportivitas, apakah tidak sebaiknya ada regulasi yang mengatur besaran bonus kepada atlet sesuai level persaingannya, bukan sekadar kemampuan masing-masing daerah?

===

Pernah dimuat di detikSport, 14 September 2016

Senin, 04 April 2016

Keluarga Sungkar: Kecil di Bengkel, Besar di Lintasan

Rifat Sungkar, Halina Shafira, dan Rizal Sungkar menjalani masa kecil yang sama: berkutat di bengkel bersama ayahnya Helmy Sungkar. Ketika tumbuh besar ketiganya akrab dengan lintasan balap.



Soal darah balap yang mengalir dalam diri Rifat, Halina, dan Rizal memang berasal dari orang tua mereka: Helmi Sungkar dan Kamaria Ekawanti. Helmi sudah menggeluti balap sejak lama, sementara Kamaria yang putri pasangan Soehirman dan Atika Oetji, pemilik perusahaan otomotif Inremco Soehirman Gondokesoemo, juga mempunyai hobi balapan. 

Kisah cinta Helmi dan Ria (panggilan akrab Kamaria) bahkan dimulai di lintasan balap. Tepatnya garis start kejuaraan nasional Reli Jawa-Bali pada tahun 1972.

Kisah kasih mereka berdua ternyata awet sampai sekarang dan melahirkan putra-putri yang juga menggeluti dunia balap serta menorehkan prestasi membanggakan. Bukan cuma anak laki-laki, sang putri juga punya minat besar pada otomotif.

"Putri satu-satunya, Fira (Halina Syafira, red) juga pernah jadi navigator saya. Malah putri pertama Fira, Rinjani Arifandi, mulai senang memegang kemudi," cerita Ria.

Sejatinya Ria dan Helmy tak pernah memaksakan putra-putrinya untuk reli. Namun karena keseharian mereka tidak bisa dilepaskan dari kegiatan otomotif, termasuk menjadi promotor, maka hal tersebut langsung berpengaruh pada anak-anak mereka.

"Setiap akhir pekan orang-orang mengajak anak-anak mereka belanja ke mall, sedangkan kami diajak nonton balap," cetus Rifat menceritakan masa kecilnya.

Maka kegiatan sehari-hari Keluarga Sungkar pun tak lepas dari modifikasi mobil, beragam perlombaan reli dan prestasi berupa diraihnya podium. "Hari biasa Papa kerja di bengkel, wajar kan kalau saya sejak kecil sudah hapal mobil dan onderdilnya," lanjut suami Sissy Pricilla itu.

Kalau kemudian keluarga Sungkar banyak meraih prestasi, itu rasanya tidak bisa dilepaskan dari prinsip yang dipunya sang Ibu. Ria menegaskan ke anak-anaknya kalau setiap aktivitas yang menyita banyak waktu haruslah disertai prestasi. Apalagi jika hanya dijalani sebagai hobi balap dan modifikasi mobil terbilang mahal. Rifat dan Rizal pun 'dipacu' untuk meraih podium setiap kali balapan.

Pada awalnya Rifat dan Rizal coba-coba ikut kejuaraan nasional reli. Meski promotornya ayah sendiri, keduanya tetap wajib membayar iuran keikutsertaan. Seiring berjalannya waktu, prestasi demi prestasi terus mereka torehkan. Penghargaan Bintang Prestasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2006 menjadi salah satu bukti akan hal tersebut.

Meski bangga dengan 'dinasti balap' yang dibangunnya, kekhawatiran orang tua terhadap anak dan cucu yang beraksi dalam kecepatan tinggi tetap tak bisa dihilangkan. Dengan usia yang kini sudah 85 tahun, Atika Oetji tak pernah berhenti waswas jika cucu-cucunya sedang menggeber mobil dalam kecepatan tinggi.

"Dulu reli mengandalkan ketepatan waktu, tapi sekarang kecepatan. Siapa yang cepat sampai finis dia yang juara, risikonya lebih besar makanya bikin waswas," kata Atika yang di sela waktunya menggemari tontonan tenis di layar kaca.

Atika sih tetap berharap ada penerus reli sebagai ciri khas keluarganya, atau paling tidak menjadi atlet di cabang olahraga lain. Suaminya juga bukan pereli saja, Soeherman pernah menjadi peserta PON di cabang sapta lomba. Ria juga pernah ikut serta dalam timnas bridge.

"Kalau bisa mewakili Indonesia itu lebih bagus. Kami semua dulu juga senang olahraga. Yang muda-muda harus bisa berolahraga lebih banyak lagi, kalau bisa tidak cuma reli," kata dia.

Pernah dimuat di detikSport pada 10 September 2013 merayakan Hari Olahraga Nasional

Rabu, 08 Juli 2015

Ketika Taufik Hidayat Memilih Terbang Sendiri

 Sederet prestasi sudah ditorehkan Taufik Hidayat bagi Indonesia. Sekarang dia memilih untuk terbang sendiri. Regenerasi menjadi alasan utama.


Tak seperti biasa, Taufik Hidayat menggunakan lapangan latihan jauh dari pintu masuk Pusat Bulu Tangkis PB PBSI di Cipayung, Jakarta Timur. Dia juga tak berlatih dengan sesama tunggal pria.

Justru, dia bergabung dengan para pemain ganda di sudut lain. Tak disangka, itu menjadi kali terakhir Taufik mengayunkan raket di pelatnas Cipayung.

Kali terakhir berlatih bersama rekan-rekan sesama pelatnas. Menjadi bagian dalam tim elite bulu tangkis tanah air selama 12 tahun dilakoninya.

Kabid Binpres PB PBSI Lius Pongoh menyatakan, Taufik sudah memberikan keterangan resmi tak masuk pelatnas. Namun, Taufik masih enggan memberikan keterangan.

Barulah sehari kemudian (30/1), dia membenarkan pernyataan itu.

''Ya, kemarin menjadi waktu terakhir saya berlatih di pelatnas. Saya akui itu berat. Tapi, mungkin itu yang terbaik bagi saya dan (PB) PBSI,'' ucap Taufik membuka percakapan.

Bukan tak disengaja, Taufik mengadakan acara siang itu. Dia tak ingin namanya hilang begitu saja seperti para mantan atlet yang tak diingat meski memiliki karir mendunia semasa menjadi atlet.

Pernyataan itu sekaligus menegaskan langkah Taufik setelah sebulan lalu dipinang PB PBSI untuk kembali bergabung di pelatnas. Karir Taufik di pelatnas memang cukup panjang. Selama 12 tahun, dia bergaung di sana.

''Itu proses panjang dan berliku-liku,'' imbuh dia.

Rabu siang itu digunakannya untuk berpamitan kepada pengurus yang ada, Lius, dan Kasubid Pelatnas Christian Hadinata serta seluruh karyawan mulai cleaning service hingga tukang cuci.

''Tapi, belum semuanya bisa saya pamiti. Kemarin tidak sempat mengumpulkan semua,'' ucapnya.

Ami Gumelar, istri Taufik, tak menyangkal malam sebelumnya, sepulang dari pelatnas, suasana di kediaman mereka sangat tegang.

''Taufik menceritakan saat-saat terakhirnya di pelatnas dengan berkaca-kaca. Tapi, semua ini harus kami hadapi bersama. Ini sudah wacana lama, bukan keputusan emosional,'' ucap Ami.

Taufik memang tumbuh dan besar di sana setelah bergabung dengan PB SGS Elektrik Bandung. Berbagai prestasi prestisius, sikap kontroversial hingga kisah cintanya terukir di sana.

Mulai menjadi ketua panitia Idul Adha, ketua panitia 17-an, sampai harus berjuang memperebutkan gelar juara Olimpiade serta kejuaraan dunia pernah menjadi kewajiban yang diemban Taufik. Medali emas Olimpiade itu pula yang membuat Taufik sudah ingin gantung raket.

Di usia emasnya kala itu, pria kelahiran Bandung, 10 Agustus 1981, tersebut sudah berpikir mundur.

''Saya sudah berkonsultasi dengan orang tua, tapi mereka minta saya meneruskan dulu. Seiring berjalannya waktu, saya ternyata masih bisa memberikan prestasi untuk bangsa Indonesia,'' kenangnya.

Setelah Olimpiade itu, Taufik justru menjadi tumpuan Indonesia. Setahun kemudian, dia menjadi juara dunia. Lantas, Asian Games juga masih dikuasainya.

''Sekaranglah waktu yang tepat. PBSI butuh regenerasi, utamanya tunggal pria,'' jelas Taufik.

Dia juga membenarkan tak dipanggilnya Mulyo Handoyo, pelatih Taufik, ke pelatnas menjadi salah satu penyebab kebulatan tekadnya meninggalkan pelatnas.

''Tapi, bukan alasan pertama atau kedua. Karir Pak Mulyo masih lama, sedangkan saya sebagai pemain ada batasnya,'' ungkap Taufik.

Juara enam kali Indonesia Terbuka itu masih bertekad menekuni bulu tangkis. Minimal delapan super series bakal dilakoni.

Nah, di luar sana, Taufik tetap akan menggandeng manajemen yang dibentuk oleh teman-teman dan keluarganya. Untuk itu, ayah Natarina Alika Hidayat tersebut harus siap bekerja lebih keras.

Maklum, semua biaya akomodasi, transportasi, dan pendaftaran menjadi tanggung jawabnya. Begitu pula tempatnya berlatih.

''Justru itulah yang menjadi motivasi agar saya berprestasi lebih baik. Masa emas saya sudah lewat. Kini tinggal bagaimana saya memelihara yang saya miliki,'' tegas Taufik.

Meski tak lagi masuk pelatnas, Taufik tidak akan meninggalkan Indonesia. Dia tetap akan membawa bendera Merah Putih dalam tiap turnamen yang diikuti.

''Keluarga kami sangat Merah Putih. Tidak mungkin Taufik berganti warga negara,'' tegas Ami.

Pernah dimuat di Jawa Pos, 5 Februari 2009

Tamparan dari Pertanyaan “Blog Olahraga”

“Pertanyaan sederhana itu menjadi panas pipi seperti usai dapat tamparan. Tentang blog olahraga.”

Aku mendadak mati kutu. Otak pun kosong. Ingatan bolong. Sama sekali tak ada kunci jawaban atas pertanyaan sederhana dari seorang teman tadi pagi.

“Mbak, tahu enggak blogger yang suka nulis tentang olahraga?”

Plasssss……..pertanyaan itu super ringan tapi jawabannya alamaaak!

Blog olahraga.

Saya mencoba nego.

“Kalau blog sepakbola masuk kriteria?”

“Eeeemm boleh deh.”

Rupanya aku juga tak tahu banyak. Hanya empat blog yang spontan bisa aku sebut: Pertama blognya bepe kemudian andibachtiar dan Pandit Football Satu lagi kepunyaan Mas Fim.


Dua akun pertama tak bisa lepas karena ketokohannya. Bepe, sapaan karib Bambang Pamungkas, justru menjadi anomali dengan blog-nya itu.

Sebagai eks kapten timnas dan pernah menjadi ikon Persija Jakarta serta kesibukan di luar lapangan dia masih sempat menuliskan riak-riak perjalanan karir di klub dan timnas. Bukan sekedar kicauan, Bepe menulis blog yang kemudian bahkan dibukukan.

Bepe juga berbagi pengalaman seramnya naik sepeda motor di jalanan ibukota atau berbagi motivasi di sana. Bepe juga seringkali mengutarakan sindiran kepada pihak-pihak yang dinilainya berjalan pada trek yang melenceng. Dia juga mulai coba-coba berbagi kebisaan menulis novel.

Anomali karena aktivitas itu tak banyak dilakukan pemain lain. Pemain Indonesia lho ya. Pemain bola dan atlet-atlet Eropa sih sudah menjadikan blog jadi alat jualan. Tak banyak pemain bola lokal bikin tulisan panjang. Paling banter berkicau lewat twitter.

Andi Bachtiar juga sohor. Dia seseorang, bukanlah–bukan siapa-siapa–. Dia sutradara film-film sepakbola, Hari Ini Pasti Menang (2013), The Conductor (2008) dan The Jak (2007).


Andi gemar menceritakan pengalaman-pengalaman turing ke stadion-stadion di negara lain. Atau sekedar obrolan dengan sesama pecinta sepakbola.

Blog ketiga pastilah akrab dengan mereka yang menyukai berlama-lama duduk di tribun menonton pertandingan bola. Atau buat mereka yang doyan nonton bareng di cafe-cafe. Bisa juga mereka yang yang memilih menyaksikan pertandingan sepakbola di rumah sendiri.

Blog milik pandit football ini menjadi konsumsi wajib jelang atau pascapertandingan. Kisah-kisah historis juga kerap kali diungkap penulis-penulisnya.

Mereka menggarap blog secara professional. Artinya mematok bayaran untuk tulisan-tulisan yang terbit di media. Makanya, akurasi dan gaya tulisan cukup ciamik.

Nah, blog terakhir sangat saya sukai: http://arekmantup.blogspot.com. Si pemilik tidak pernah mencari popularitas. Tapi saya paham dia sangat mencintai sepakbola. Dia teramat bangga dengan stempel suporter bola Indonesia.





Seperti dia sangat bangga lahir di Mantup, Lamongan, Jawa Timur. Dari desa kelahirannya itu, Mifta–ah, dia lebih senang disapa Fim–mulai menggocek bola. Kemudian seperti jutaan umat bola di dunia, dia juga menganggap stadion sebagai tempat ibadah. 

Mas Fim tak berhenti menulis pengalaman spiritual dari stadion-stadion dan lapangan bola. Meski, dia ditepikan dari sekte olahraga. Kebijakan itu bukanlah alasan yang cukup buat dia berjauh-jauhan daari sepakbola.

Kemudian coba-coba berselancar, ternyata blog tentang sepakbola tidak sedikit. http://www.beritasatu.com/blog/author/pangeran-siahaan atau http://sekadarblog.com bisa juga http://www.kompasiana.com/budikristanto dikunjungi.


Rupanya jumlah blog olahraga tidak minim-minim amat. Namun, jumlahnya memang kalah jauh dibandingkan kuantitas blog traveling. Perbandingannya bisa dianalogikan dengan jumlah lapangan bola dengan destinasi wisata populer plus tersembunyi di Indonesia. Atau rasio tempat ngopi-ngopi di Jakarta dengan tempat olahraga.

Atau bandingkan harga tiket nonton bola Liga Super di stadion-stadion senusantara dengan harga ngetrip ke pulau-pulau di 33 provinsi Indonesia. Hitungan tak  termasuk harga tiket ya. Karena bisa jadi setara.

Jika disimak, trek yang dilalui penulis blog olahraga dan traveling juga bertolak belakang. Para penulis blog olahraga sohor dulu, baru menulis. Sebaliknya para penulis blog perjalanan justru mendapatkan popularitas dan pemasukan materi dari nge-blog.

Soal kuantitas, blog olahraga kian minimalis dan sama sekali tidaak populis, jika  mengkhususkan cabang olahraga di luar sepakbola. Berapa jumlah blog bulutangkis? Atau tinju? Basket? Tenis?

Menunjuk ke pelaku. Siapa petinju yang nulis blog? Pemain basket yang mengungkapkan suka cita dan kerikil karirnya? Atau adakah petenis atau pelari yang curhat lewat blog?

Saya tidak sedang menuding kealpaan mereka, tapi justru pertanyaan itu menjadi bahan introspeksi kepada diri sendiri. Tujuh tahun saya “berkantor” di stadion. Bersorak saat ada gol tercipta ataupun misuh-misuh karena kelakuan wasit yang berat sebelah.

Takut-takut tapi tetap harus harus melacak kebaradaan (waktu itu) Haruna Soemitro yang tiba-tiba raib. Melihat Istora dipenuhi tangis haru perpisahan Taufik Hidayat.

Serangkaian kisah yang sedikit itu seharusnya bisa diracik pada blog olahraga. Eh, tapi faktanya saya lebih senang berbagi cerita menyenangkan tentang perjalanan-perjalanan di luar stadion. Perjalanan yang seringkali tidak menjejak tribun stadion dan gedung-gedung olahraga.

Saya berdalih tidak sempat mencatatkan air mata lara atau suka cita mereka yang kalah ataupun sang juara ke blog olahraga. Tapi saya selalu mempunyai waktu luang untuk mengumbar keceriaan menggapai hidden paradise tanah air dan negara-negara lain.

Kemudian sederet pertanyaan singgah. Apakah saya benar-benar rela merogoh kocek yang setara dengan tiket pesawat pp dan keperluan saat ngetrip ke Raja Ampat, Papua Barat untuk menyaksikan timnas tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno?

Apakah saya akan nonton langsung ke markas Persiwa Wamena di Stadion Pendidikan saat Persebaya Surabaya bermain di sana?

Bagaimana takaran rasio keikhlasan saat menulis analisis pertandingan dengan saat menceritaan berliu-likunya perjalanan dari gunung tinggi atau pulau-pulau yang jauh.

Jika Presiden UEFA yang orang Prancis Michel Platini merasa tertampar dengan kekalahan dari Ukraina 0-2 pada leg pertama playoff Piala Dunia, kalimat penanya “blog olahraga” itu sudah cukup memberikan rasa sakit dengan kadar serupa.

Selasa, 30 Juni 2015

Masa Kecil Taufik Hidayat (2)

Bintang bisa datang dari mana saja. Seperti perkenalan Taufik Hidayat di masa kecil dengan bulutangkis di lapangan halaman pabrik tahu.

Pulang ke Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat membangunkan masa kecil Taufik. Juga ketika dia pulang kampung pada pertengahan November kemarin.

Kala itu, dia sekaligus membagi-bagikan kacamata untuk anak sekolah di sana. Kenangan tentang ibu guru, teman skeolah, dan bagaimana dia mengenal bulutangkis pun mengemuka lagi.

Di kota-kota lain di tanah air pada masa jaya-jayanya prestasi para pemain nasional, bulutangkis memang menjadi salah satu olahraga yang popular dimainkan di jalan-jalan, di depan balai desa, dan di manapun. Begitu pula di lingkungan kediaman Taufik.

Kendati ada di dalam gang kecil berkelok-kelok, tak jauh dari rumah Taufik ada lapangan bulutangkis. Sekali dua kali Taufik turut bermain-main di lapangan itu.

Kegemaran itu muncul setelah ayahnya, Aries Haris, melarang Taufik melarang dia bermain sepakbola. Tapi, ada satu lapangan yang justru lebih melekat di dalam benak Taufik.

“Lapangan di sebelah pabrik tahu. Lokasinya lebih jauh tapi lebih ramai,” kata Taufik.

“Main di lapangan itu enggak bisa curang. Sebab garisnya pakai bambu, kalau shuttlecock-nya menyentuh garis akan bunyi 'kan,” ucap juara dunia 2005 itu kemudian tertawa.

Tapi, rupanya Taufik tak lagi menjumpai lapangan di halaman pabrik tahu itu. Lapangan yang lokasinya ada di tepi jalan raya tapi berada di kontur yang lebih rendah itu sudah ditumbuhi rumput lebat.

Tak ada tanda-tanda lokasi itu sering diinjak. Garis-garis yang jadi pembatas lapangan itu juga sudah tak ada.

“Ini menjadi ide untuk mengembangkan bulutangkis di Pangalengan. Bagaimanapun ini rumah saya. Papa juga tak mau meninggalkan Pangalengan. Bagaimanapun saya anak kampung sini,” ucap mantan pebulutangkis yang meraih dua kali juara Piala Thomas itu.(Bersambung)

Pernah dimuat di detikSport

Sabtu, 27 Juni 2015

Ihsan Maulana Mustofa Mencintai Bulutangkis Berkat Uang Receh

Ihsan Maulana Mustofa menjadi salah satu pemain di tim Thomas 2014. Peran ayahnya begitu besar dalam mengenalkan dan membuat pemain PB Djarum Kudus itu mencintai bulutangkis.

Ingatan Ihsan berlari ke masa anak-anak saat ditanya awal mula mengenal bulutangkis. Sebagaimana bocah seusia dia lainnya, Ihsan lebih senang bermain ketimbang harus latihan bulutangkis pagi sore.

Ayahnya, Apes Zainal Mustofa, adalah seorang pelatih bulutangkis. Ihsan pun tahu benar jadwal pebulutangkis meski masih level junior.

Tapi, sang ayah tak kalah cerdik untuk menitiskan kemampuan bulutangkis. Ketika itu Ihsan baru menginjak kelas 3 Sekolah Dasar Negri Pagerageung, Tasikmalaya.

Ihsan hanya bisa mendapatkan uang jajan jika bersedia datang ke GOR tempat Mustofa melatih.

"Sudah sampai di GOR ya tetap nggak langsung dapat uangnya. Disuruh-suruh dulu buat main bulutangkis baru dikasih uang. Atau diminta buat mengumpulkan shuttlecock bekas latihan orang lain," kenang Ihsan.

"Pokoknya semua ini gara-gara bapak," seloroh dia.

Tapi strategi kedua orang tuanya ternyata ampuh membuat Ihsan tertarik dengan bulutangkis. Ihsan kian hari malah menganggap latihan bulutangkis sebagai ajang bersenang-senang.

Strategi Mustofa berjalan lancar. Dasarnya jalan sudah terbuka dengan dia sebagai pelatih, Ihsan pun mulai diikutkan dalam kejuaraan-kejuaraan.

Lama-lama Ihsan menunjukkan sebagai pemain yang sip. Traveling antarkota untuk mengikuti kejuaraan makin rutin diikuti Ihsan.

Hari-harinya pun makin lekat dengan bulutangkis. Saking sehari-hari ada di lapangan bulutangkis, Ihsan sampai tak punya hobi lain.

"Hobi lain nonton. Olahraga ya bulutangkis, tidak ada lagi," jelas putra pasangan Mustofa dan Agustina ini.

Tak cuma mendapatkan sentuhan Mustofa, Ihsan kemudian mendapatkan pelatih baru setelah dia bergabung dengan Dian Jaya Jakarta. Dalam perjalanannya, Ihsan memimpikan bisa bergabung dalam satu klub bulutangkis raksasa tanah air: PB Djarum Kudus.

Empat tahun lalu, saat usianya 14 tahun dan remaja seusia lebih senang kumpul-kumpul dengan teman-teman di sekolah atau nongkrong di cafe, Ihsan memilih meninggalkan Jakarta dan menuju kota kecil di daerah pantura. Yang dituju adalah Kudus, di Jawa Tengah. Tempat di mana PB Djarum Kudus berada.

Ihsan datang bukan untuk ikut Audisi, sebagaimana PB Djarum membangun tradisi untuk menyaring siswa baru. Ihsan datang melamar.

Meski tak menceritakan detail bagaimana dia datang ke PB Djarum, cerita Ihsan sudah jadi kisah tersendiri. Dia sudah mampu membuat dirinya cukup mengesankan para pelatih dan pengurus klub.

Konon, Ihsan datang ke markas PB Djarum di Kudus dan menantang pemain terbaik di Djarum. Oleh pelatih Djarum, Ihsan ditarungkan oleh para pemain yang ada di levelnya. Ihsan makin membuat barisan pelatih terpukau. Ihsan berhasil meraih kemenangan.

Barulah para jagoan Djarum dikeluarkan. Ihsan kalah menang. Apapun, kepercayaan diri dan sedikit kecongkakan yang dibutuhkan sebagai seorang atlet untuk meremukkan mental lawan sudah ditunjukkan Ihsan. Lamarannya diterima.  

Kesempatan emas lain untuknya datang di tahun 2012. Ihsan tampil gemilang di Kejuaraan Nasional 2012 di Solo, JawaTengah. Dia jadi juara di kelompok taruna. Tiket ke pelatnas 2013 pun dituai cuma-cuma. Ihsan tak perlu lagi merangkak lewat seleksi di awal tahun.

Kini, kesempatan lebih besar sampai dalam genggaman Ihsan. Sebagai tunggal keempat, peluang Ihsan diturunkan terbilang tipis. Namun tentu saja dia punya kans untuk dimainkan, terutama di babak penyisihan.

"Ihsan sudah kami ajak bicara dan dia siap berkomitmen untuk memberikan yang terbaik," kata Rexy.

Ayo Ihsan, saatnya memberi bukti!

Pernah dimuat di detikSport 5 Mei 2014