Tampilkan postingan dengan label atletik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atletik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 November 2016

Maria Natalia Londa, Lewat Lompat Jauh Jadi Ratu Asia

Maria Natalia Londa bukan berasal dari keluarga atlet. Lewat lompat jauh, gadis yang lahir dan besar di Bali itu menjadi ratu Asia dengan donasi emas Asian Games 2014.


Penampilan Londa membetot perhatian kala tampil di Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan. Lompatan sejauh 6,55 meter menjadikan dia sebagai atlet putri terbaik di nomor tersebut.

Londa sekaligus berhasil mengakhiri paceklik medali emas atletik di ajang tersebut sejak 1998. Saat itu, Indonesia merebut medali dari Supriyati Sutono di nomor lari 5.000 meter. Dahaga 18 tahun terbayarkan.

Lagu Indonesia Raya dan bendera Merah Putih dikibarkan paling tinggi di antara negara-negara lain. Londa berucap terimakasih kepada Indonesia atas sukses tersebut.

Padahal jika disimak Londa mengasah kemampuannya dengan upaya sendiri. Bersama-sama pelatih yang menemukan kemudian memolesnya, Londa berlatih tanpa tempat khusus. Bali tak memiliki stadion dengan trek lari sintetis.

Beruntung buat Londa, kotak pasir di tanah kelahirannya, di Bali, tak terbatas. Pantai-pantai dengan pasir putih terhampar begitu saja menjadi 'tempat bermain' Londa.

Kadang kala Londa juga bermain di parkiran sebuah hotel. Seperti sebuah berkah tapi juga cukup ironis, bukan?

Emas Asian Games itu belum mampu membuka mata stake holder olahraga untuk menyediakan sarana kelas dunia di Bali. Trek sintetis baru dibangun setelah Londa memastikan tiket ke Olimpiade.

Londa pun benar-benar menjadi kontestan di sana, pada sebuah ajang olahraga terakbar yang cuma dihelat empat tahun sekali. Bukan lewat wildcard atau kuota pengganti, Londa lolos lewat kualifikasi.

Tak punya tempat latihan juga bukan dari keluarga atlet, Londa mampu membuktikan pengibar bendera Merah Putih bisa dari kalangan mana saja. Kini, kiprah Londa di lompat jauh sudah menginspirasi sepupu dan anak-anak untuk mengikuti jejaknya: menjadi ratu Asia lompat jauh.

Ya, bukan cuma soal tempat latihan yang minim. Londa juga bukan berasal dari keluarga atlet.

Ayahnya, Pamilus (almarhum), seorang desain interior. Ibundanya, Anastasia Ari Ningsih, penjahit kampung yang kadang lebih senang menyebut dirinya ibu rumah tangga.

Dalam trah keluarga besarnya yang asli Flores pun, tak ada yang berkarier sebagai atlet. "Ini semua gara-gara ayah," kata Londa mengenang masa kecilnya.

Kata Londa, ayahnya rutin mengajak dia jalan-jalan pagi. Sekitar pukul 04.00-05.00 WITA.

"Awalnya di alun-alun, terus tahu kalau ada stadion, kami jalan-jalan ke stadion," tutur perempuan kelahiran Denpasar 26 tahun lalu tersebut.

Saat pagi-pagi itu, Stadion Ngurah Rai, Denpasar itu jadi tempat latihan atlet Denpasar. Karena tak menyukai lari, Londa terdorong untuk melihat nomor-nomor lain. Lompat jauh dan lompat jangkit langsung membetot perhatian dia.


Beruntung buat Londa, dia ditangani pelatih yang mampu memoles potensi dan bakatnya dengan sip. Mereka Ali Anak Agung Alit Ardana dan I Ketut Pageh. Duet asisten pelatih dan pelatih itu kini masih menangani Londa. Londa juga tak melupakan guru olahraga yang akrab disapanya Pak Cok.

Roda telah berputar. Jalan-jalan kecil di pagi hari melewati Stadion Ngurah Rai itu menjadi awal Londa menjelajah dunia dan mengukuhkan diri sebagai ratu lompat jauh Asia. Setujukah kalau menyebut Londa sebagai pahlawan masa kini?

"Saya tak pernah menyangka disebut-sebut sebagai pahlawan olahraga. Yang saya tahu, ponakan-ponakan saya jadi mau menekuni atletik," tutur Londa merendah.

Saat ditanya soal sosok pahlawan idolanya, apa jawaban Londa? "I Gusti Ngurah Rai karena dia kan pahlawan dari Bali. walaupuan saya dari Flores tapi banyak hal di Bali yang bikin saya jadi seperti ini sekarang," ucap dia.

Kamis, 10 November 2016

Emilia Nova, Penjaga Estafet Lari Gawang Putri Indonesia

Dedeh Erawati mulai turun di ajang Masters. Sang penerus sudah menyodok dan siap mengemban tugas. Dia Emilia Nova.


Perawakannya langsing. Kakinya jenjang. Rambutnya dicat pirang. Sedikit kenes. Penampilannya kekinian.

Kalau sudah membuka T-shirt dan tinggal mengenakan brasport, lengannya terlihat kencang. Perutnya juga sixpect.

Dia bukan model. Cewek itu, Emilia, atlet atletik DKI Jakarta. Nomor spesialisasinya sapta lomba dengan keistimewaan pada 100 meter lari gawang.

Sebuah bukti dipertontonkan Emilia saat tampil pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Stadion Cibinong, Bogor. Penampilannya membetot perhatian publik kala meraih emas sapta lomba. Bukan cuma berhasil mendonasikan emas, tapi dia sekaligus mencetak rekor baru yang dikuasai Rumini selama 23 tahun.

Cuma itu? Tidak. Emilia juga memecahkan rekor PON milik Dedeh Erawati dari lari 100 meter gawang di nomor sapta lomba itu. Dalam perlombaan tersebut Emilia membuat catatan waktu 13,52 detik.

Belum selesai. Emilia kembali membuat catatan apik saat babak penyisihan di nomor lari 100 meter lari gawang sehari kemudian. Dia sudah membuat rekor PON dengan catatan waktu 13,50 detik untuk menyelesaikan lintasan. Saat tampil di babak final, Emilia bisa makin cepat. Catatan waktunya 13,35 detik di babak final. Dedeh, ratu nasional, di nomor itu ada di peringkat kedua.

"Mungkin orang berpikir saat itu saya pasti capek karena turun di sapta lomba dan nomor gawang. Tapi saya itu tipe orang yang semakin capek malah bagus," kata gadis kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1995 itu.

Sukses Emilia menjadi sebuah harapan baru bagi lari gawang putri nasional. Sebab, Dedeh yang selama ini jadi tumpuan, mulai berumur. Bagus jika keduanya bisa bersama-sama jadi andalan Indonesia ke ajang internasional.

Kalau toh waktu Dedeh untuk gantung sepatu tiba, Emilia sudah makin matang dan siap meneruskan tongkat estafet sang ratu. Dedeh memang belum berpikir pensiun, namun faktanya dia mulai terjun di ajang Masters yang jadi tempat berlomba para atlet atletik veteran.

***

Emilia yang memang menyukai tekanan dan tantangan tak keberatan dengan tugas tersebut. Sejak awal keluarga memang sudah membiasakan dia untuk berkompetisi di olahraga, meskipun tak ada saudara yang berprofesi sebagai atlet.

Ayahnya, Zainur, akrab dengan olahraga karena hobi. Makanya Emilia juga sudah familiar dengan bermacam-macam kegiatan olahraga.

"Ayah itu hanya hobi olahraga saja. Jadi waktu saya kecil sering diajak lari, joging. Juga dikenalkan kepada taekwondo," kata Emilia.

Prestasinya di cabang olahraga taekwondo cukup menjanjikan. Emilia pernah juara se-Jabodetabek.

"Tapi kata ayah tidak perlu dilanjutkan karena cabang olahraga ini tidak fair. Penilaiannya cenderung subjektif," tutur Emilia menirukan sang ayah.

Dengan pertimbangan itu, Emilia dijuruskan ke nomor lari. Sejak 2010, Emilia memutuskan pindah cabang olahraga.

Latihan sih bukan masalah buat Emilia. Tapi soal senioritas sempat bikin Emilia keki. Lolos seleksi mewakili sebuah klub untuk ajang se-DKI Jakarta, dia dianggap tak layak oleh seniornya. Namanya tak masuk tim dan diganti atlet dengan hasil seleksi di bawah dia.

Untungnya persoalan itu tak bikin Emilia dan ayahnya kapok. Bersama ayahnya, Emilia mencari klub yang bisa menampungnya untuk latihan dan bisa mengantarnya untuk ikut kejuaraan. Mereka memutuskan untuk bergabung dengan klub Meteor.

Dua bulan latihan, Emilia membuktikan diri mampu menjadi yang terbaik se-DKI saat usianya menginjak 15 tahun.

Sebuah latihan di Stadion Madya, Senayan, Jakarta membuka jalan Emilia ke pelatnas. Ketua Umum PB PASI, Bob Hasan, langsung kepincut kepadanya. Melihat potensi Emilia, lewat ayahnya, Bob Hasan minta agar Emilia bisa dididik di Senayan. Tawaran itu diiyakan. Emilia dipoles di nomor jarak pendek.

Tapi rupanya karier di nomor 100 meter tak bagus. Selama dua tahun berlatih dan turun dalam turnamen, Emilia tak mampu bicara banyak. Dia kemudian pindah nomor. Emilia memilih 100 meter lari gawang.

Dua minggu latihan, Emilia diturunkan pada kejuaraan di Nusa Tenggara Timur bersama Dedeh. Dia lolos posisi empat dengan catatan waktu yang lumayan.

Dari situ, Emilia merasa menemukan jalan yang tepat. Pembuktian dibuat pada Jatim Open dan kejuaraan remaja dengan pecah rekor remaja. Sayang, saat itu pencatat waktu elektronik mati sehingga rekornya tidak diakui. Di siis lain ada berkah. Dengan penampilan di Jatim Open itu, Emilia lolos PON 2012. Meski pada saat perlombaan hanya mampu finis di posisi empat.

Karier di atletik diikuti bertambahnya usia. SMA lulus dia pun kuliah di Universitas Negeri Jakarta. Di UNJ itulah emilia berjumpa dengan seniornya, yang saat ini menjadi pelatihnya, Fitri Haryadi. Bersama dia, Emilia digembleng soal teknik berlari yang benar.

"Dia melihat teknik lari saya. Katanya jelek. Akhirnya saya dibantu dia, teknik lari segala macam. Lalu di Kejurnas senior dapat perak," tutur Emilia.

Tahun berikutnya, Emilia mencoba nomor baru yaitu sapta lomba. Meski belum dibilang spesialis, namun dia nekad ikut lomba dan juara 1 pada Agustus 2014.

"Bulan Desember saya ikut pekan olahraga mahasiswa se-asia tenggara di Palembang, di nomor gawang saya dapat emas, sedangkan nomor sapta lomba dapat perak. Nah di gawang itu, sebelum saya lari di sapta lomba 14,26 detik. setelah itu saya lari di sapta lomba 13, 69 detik. Pecah rekor junior dari catatan waktu Agustine Bawele 14, 10 detik," kenang dia.

Menjelang SEA Games 2015 Singapura namanya masuk daftar atlet timnas. Emilia menyudahi ajang itu dengan finis di posisi empat dengan catatan waktu 13, 78 detik.

"Jadi sebulan jelang SEA Games itu antara Februari sampai Mei saya harus berkutat dengen cedera. Makanya efektif latihan baru sebulan. Sempat putus asa juga tetapi saya mencoba bangkit sampai akhirnya sembuh," kenangnya.

Dorongan motivasi dari pelatih dan keluarga, akhirnya membuat kepercayaan diri Emilia terus bangkit. Dua bulan, Emilia turun di Kejurnas untuk sapta lomba, dan poinnya naik lagi.

"Akhir tahun saya ikut perlombaan di Aceh, saya turun tiga nomor dan dalam sehari saya bisa empat kali lari. lari gawang dua kali dan lari 200 meter dua kali. Mungkin lelah ya, jadi saya kena cedera hamstring lagi selama lima bulan dari Desember 2015 sampai April 2016 itu. Karena merasa sudah sembuh, bulan berikutnya, saya ikut bertanding ini untuk meningkatkan kepercayaan diri saya."

Ini penting. Sebab, Emilia sendiri sudah dinanti PON 2016. Tekadnya besar meski hanya punya waktu tiga bulan berlatih. Tetapi dia berhasil membuktikannya.

"Saya cuma berpikir jika kita bersungguh-sunguh latihan disiplin pasti ada hasilnya. Bakat itu akan kalah dengan yang rajin karena kalau bakat tidak diasah atau digunakan maksimal. Ya tidak bisa juara."

Emilia memang tidak mau berpuas diri hanya dengan menjadi yang terbaik di level nasional. SEA Games 2017 menjadi target jangka pendeknya. Dia akan turun di nomor sapta lomba dan 100 meter lari gawang.

"Di nomor gawang itu yang ditingkatkan start gawangnya. Kalau ingat PON kemarin, saya itu masih kalah dari mba Dedeh dari gawang pertama sampai kelima. Dawang ke enam mulai sama, lalu gawang ketujuh saya bisa salip. Jadi antar gawangnya harus dipercepat," kata dia.

Kemudian catatan waktu dari setiap lompatan ke gawangnya. Disebutkan Emilia, catatan waktunya masih 1,07 detik di setiap gawangnya. Sementara jika ingin dapat catatan waktu lari 13,00 detik. Emilia harus melompati di setiap gawangnya minimal 1,02 detik.

"Begitu dengan teknik lari juga masih harus diperbaiki karena gawang perempuan kan pendek, jadi harus mendukung lari sprintnya. Beda sama yang cowo gawangnya tinggi, jadi lompatan dan sprint harus bagus."

"Ya, Insyallah pecah rekor nasional di gawang di SEA Games nanti dan pecah rekor lagi di sapta lombanya. Setelah itu fokus Asian Games 2018 dan Olimpiade 2020," pungkasnya.

***
Biodata
Nama: Emilia Nova
Jakarta, 20 Agustus 1995
Anak pertama dari 2 bersaudara
Ayah : Zainur
Ibu : Delvia
Klub :
Meteor 2010
FMM 2016

Prestasi :
Juara 100 meter gawang di Asian University Games 2014 di Palembang dan Singapura 2016
Juara nomor 100 meter lari gawang U-21 Vietnam 2013
Runner-up Sapta lomba Asean University Games 2014
Juara 1 4x100 meter Hong Kong Open 2016
Runner-up 4x100 meter Vietnam Open 2016
Runner-up 100 meter lari gawang Singapura Open 2015
Juara 1 100 meter gawang ANQ track n field championship townsville, Australia

Kamis, 03 November 2016

Sarengat Punya Pengalaman Pahit dengan Narkoba

Muhammad Sarengat sukses menorehkan tinta emas sebagai manusia tercepat Asia. Tapi dia juga punya sisi kelam pernah gagal sebagai orang tua karena narkoba. 

 Foto: Jawa Pos

Selasa, 28 Oktober nanti tak hanya istimewa bagi Sarengat. Di tanggal yang berbarengan dengan Sumpah Pemuda itu, dia tepat berusia 68 tahun. Selain itu, Sarengat diingatkan pada sebuah kegagalan seorang ayah mendidik anaknya.

Kehidupan bukanlah ilmu matematika dengan 1 + 1 = 2.  Dengan gelar dokter, yang tentu dibekali pengetahuan kesehatan termasuk bahaya narkoba, Sarengat tak bisa mencegah anak bungsunya, Muhammad Landung Setyoutomo Suryoputro, terjerat di dalamnya.

“Kalau hanya berpatokan malu, saya tidak mau bercerita.  Tapi, ini kenyataan dan harus menjadi pelajaran bagi yang lain. Saya gagal menjadi orang tua sekaligus dokter waktu itu,” ujar Sarengat.

Sarengat tak menampik masa-mas aitu begitu berat dijalani. Bukan cuma rasa malu, tapi bagaimana cara untuk merehabilitasi sang putra.

Baca Juga: 'Namaku Sarengat', Autobiografi Manusia Tercepat Asia yang Cuma Tersimpan dalam Almari

Ya, harga dirinya sebagai dokter seperti dipertaruhkan.  Beruntung setelah melewati rehabilitasi, Landung sembuh dan kembali masuk dalam kehidupan normal.

Dari pengalaman pahit itu, Sarengat mendapatkan inspirasi lain. Dia tak ingin ada anak-anak muda lain yang jadi korban narkoba.

Pria yang pernah tercatat sebagai manusia tercepat Asia tersebut mendirikan Sport Campus Wijaya Kusuma, pusat rehabilitasi pecandu narkotika, pada tahun 1999. Hingga kini, dia menjabat sebagai ketua yayasan Wijaya Kusuma.

Dengan yayasan itu Sarengat ingin agar keluarga adalah faktor terpenting untuk si korban agar bisa terbebas dari jeratan narkoba.

Baca Juga: Bisikan Presiden Soekarno yang Memacu Mohammad Sarengat Jadi Manusia Tercepat Asia

Tapi tak banyak yang menyadarinya. Biasanya, keluarga--yang seharusnya bisa menyelamatkan korban narkoba--malah turut melarikan diri. kalau tidak  mempercayai kenyataan, ya malah menyembunyikan si korban karena gengsi.

“Tragisnya kalau sudah over dosis dan berakibat kematian, baru nyadar,” keluh Sarengat.

bersama Landung, Sarengat gencar mencari terobosan-terobosan baru untuk mendukung penyembuhan. Therapeutic Community menjadi metode penyembuhan yang diterapkan di SCWK. Metode itu mengambil prinsip dasar membantu diri sendiri dengan membantu orang lain.

Baca Juga: Tentang Muhammad Sarengat yang Pernah Berpredikat Manusia Tercepat Asia

Jumat, 28 Oktober 2016

'Namaku Sarengat', Autobiografi Manusia Tercepat Asia yang Cuma Tersimpan dalam Almari

“Namaku Sarengat”. Sebuah autobiografi yang ingin sekali diterbitkan Muhammad Sarengat, manusia tercepat Asia dari Indonesia. 

(Foto: Jawa Pos)

Sarengat menorehkan prestasi menawan pada Asian Games 1962 di Jakarta. Dia menjadi manuasi tercepat dengan meraih medali emas nomor 100 meter sekaligus memecahkan rekor di nomor tersebut.

Sarengat kemudian sekolah kedokteran dan masuk tentara. Namanya diabadikan sebagai nama stadion di kota tempatnya tumbuh besar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Nah agar kisah hidupnya itu tak terlupakan begitu saja, Sarengat merekamnya dalam tulisan. Dia terobsesi untuk menerbitkannya sebagai autobiografi. Tulisannya sudah selesai. Dengan kertas kuarto tulisannya setebal 200 halaman.

Awalnya, autobiografi itu diberinya judul: Emas Untuk Bangsa. Tapi di tengah jalan dia berubah pikiran.

“Tapi setelah dipikir-pikir rasanya kok tidak cocok karena tak hanya saya yang mendapatkan emas. Sudah banyak atlet lain yang leboiih berprestasi,” ungkap Sarengat.

Dari perenungannya, Sarengat memilih kalimat yang lebih sederhana dan langsung mengacu kepadanya.

Alasan lain Sarengat memilih judul 'Namaku Sarengat' adalah ada tulisan dengan judul serupa dalam buku yang disusunnya secara mencicil sejak 1992 tersebut.

Baca Juga: Bisikan Presiden Soekarno yang Memacu Mohammad Sarengat Jadi Manusia Tercepat Asia

Sarengat memberi bocoran sedikit dalam bab itu. Muhammad Sarengat, menurut Sarengat kecil, bukanlah nama yang lumrah, tidka banyak anak kecil seusianya yang mempunyai nama seperti itu. Dia pernah menyimpan perasaan ingin sekali ganti nama. Pokoknya sal jangan Sarengat.

“Waktu itu saya tidak tahu apa maknanya. Kok saya diberi nama itu,” ucap Sarengat dengan nada tanya.

Pertanyaan itu terus mengganggunya. Dalam perjalannannya, Sarengat pun menanyakan kepada sang ayah, Prawirosuprapto.

Jawaban sang ayah membuat dia terkejut. Ternyata Sarengat mempunyai makna mendalam.

Menurut sang ayah nama itu adalah pemberian kakek Sarengat. Sebab Prawirosuprapto sendiri menyiapkan nama berbeda. Karena lahir pada tanggal 28 Oktober, Prawirosuprapto memberi nama M. Ramelan.

"Tapi kakek tak setuju dengan nama itu, karena sebagai cucu pertama sudah seharusnya mendapatkan nama yang istimewa. Kakek memberi nama Sarengat. Itu dari bahasa Arab sare’at yang bermakna hukum agama," tutur Sarengat.

Masih ada kisah lain dalam autobiografi itu. Sayang, saya tak sempat membacanya. Sarengat tak membawa buku itu saat kami berjumpa.

Baca Juga: Tentang Muhammad Sarengat yang Pernah Berpredikat Manusia Tercepat Asia

Selain itu. perjalanan hidup Sarengat lainnya bisa jadi akan tetap tersimpan dalam laci di salah satu almari rumahnya. Sebab, hingga dia menutup mata, tulisan itu tak pernah terbit.

“Belum ada sponsor,” ungkapnya pendek.

padahal lewat biografi itu, Sarengat ingin sekali berbagi pengalaman kepada orang lain, utamanya kepada atlet-atlet muda jaman sekarang.

“Bahwa saya pernah memiliki prestasi untuk negeri ini,” ungkapnya diplomatis.

Memang cukup minim atlet Indonesia yang memiliki biografi.  Tercatat baru ada atlet bulu tangkis yang rajin membukukan perjalanan prestasinya.

Terakhir, taekwondoin wanita Juana Wangsa Putri telah merangkum kehidupannya dari mengenal taekwondo hingga menjadi pelatih saat ini.

“Mudah-mudahan ada sponsor yang mau melirik,” tukas penyuka tempe goreng ini.

***

Obrolan dengan itu sudah terjadi delapan tahun lalu,  saat Sarengat masih sehat. Dia menawarkan wawancara di kawasan Hang Tuah, Jakarta Selatan, di sebuah restoran kecil dengan ruang praktik milik dia di ruang lainnya. Dia masih nyetir sendiri waktu itu.

Saya tidak tahu apakah akhirnya autobiografi tersebut terbit atau tidak. Dari antauan di toko buku sih saya tak pernah menemukannya.

Mumpung mau Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, saya berharap biografi itu bisa muncul ke permukaan dan tak hanya dibiarkan berdebu.



Kamis, 27 Oktober 2016

Tentang Muhammad Sarengat yang Pernah Berpredikat Manusia Tercepat Asia

Muhammad Sarengat telah tiada. Tapi torehan prestasinya untuk Indonesia sebagai manusia tercepat Asia belum tergantikan.


Sarengat lahir di Banyumas, Jawa Tengah pada 28 Oktiber 1940. Dia meninggal 13 Oktiber 2014. bapak tiga anak itu sudah menderita stroke sejak 2010. Saat masuk rumah sakit Pondok Indah di bulan Oktober itu, Sarengat menghembuskan nafas terakhirnya.

Muhammad Sarengat

Lahir: Banyumas, 28 Oktober 1940
Isteri: Nani Supatmiani Titi Utari, 62 tahun
Anak:
- Retnosari Meidysina Setyorini, 39 th
- Dwi Ratnasari Setyoutsmi, 35 th
- Muhammad Landung Setyoutomo Suryoputro, 30 th

Pendidikan

- SDN 1 Batang
- SMPN 1 Pekalongan
- SMA Budi Utomo, Jakarta
- Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
- Magister Universitas Ora et Labora

Baca Juga: Bisikan Presiden Soekarno yang Memacu Mohammad Sarengat Jadi Manusia Tercepat Asia

Prestasi

- 2 emas, 1 perunggu Asian Games IV/1982 Jakarta
- 1 emas Ganefo 1963

Penghargaan

- 1967 Satya Lencana Kebudayaan
- Termasuk 100 atlet legendaris indonesia versi KONI

Karir

- Dokter pribadi wakil presiden Sultan Hamengkubuwono IX (1973-1978)
- Dokter pribadi wakil presiden Adam Malik
- Ketua Bidang pembinaan PB PASI
- Sekjen KONI Pusat
- Direktur Operasi Badan Pengelola Gelora Bung Karno

Baca Juga: 'Namaku Sarengat', Autobiografi Manusia Tercepat Asia yang Cuma Tersimpan dalam Almari

Favorit Sarengat:

Makanan

“Bapak tidak rewel soal makan. Tempe goreng dan sayur lodeh adalah makanan kesukaannya.”

Musik

“Saya tidak begitu suka musik jazz, tetapi kalau liriknya melankolis saya akan bisa menyukainya. Jangan salah saya sangatmenyukai Nidji dan Ungu yang sedang tren sekarang.”

Peliharaan

“Berganti-ganti, dari ayam kate, ikan nirwana, sampai anthurium.  Yang penting bisa nambah penghasilan.”

Olahraga

“Sekarang tinggal jogging saja.  Sebab setelah stroke saya sudah tidak lagi kuat melakukan membawa-bawa stik golf.”



Kamis, 13 Oktober 2016

Bisikan Presiden Soekarno yang Memacu Mohammad Sarengat Jadi Manusia Tercepat Asia

Mohammad Sarengat membawa harum nama Indonesia di era 1960-an. Dia sukses membawa Merah Putih berkibar di Asian Games IV/1962 di Jakarta sebagai manusia tercepat Asia. 

(Foto: Jawa Pos)

Tidak sulit bikin janji dengan Sarengat. Tempat yang dipilihnya juga tak jauh dari Senayan, tempat kami biasa kongkow saat liputan: di sebuah kedai di Jl. Hangtuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sarengat bilang kedai itu milik istrinya. Jadi mau ngobrol dalam durasi berapa lamapun tidak akan sungkan. Selain itu, dia menjanjikan sajian istimewa yang jadi menu andalan di kedainya itu: "risolnya enak lho," tutur dia.

Sesuai hari dan jam yang disepakati, kami berjumpa di kedai itu. Untuk ngobrol sekaligus foto-foto.

Selain ngobrol soal profesi dokter dan tentara, obrolan juga bergulir soal masa jayanya sebagai atlet. Sarengat yang seorang manusia tercepat Asia.

Namanya harus dan tercatat sebagai salah satu atlet top nasional. Oleh Komite Olahraga Nasional indonesia (KONI) Sarengat dimasukkan dalam 100 atlet legendaris. Ada enam atlet atletik yang ada dalam buku itu. Sarengat disebut sebagai atlet yang paling sukses di Asian Games.

Tinta emas itu tak terukir begitu saja. Ada sebuah prestasi yang membuat nama Sarengat bisa amat melegenda. Ya, Sarengat adalah peraih emas Asian Games IV/2962 di Jakarta.

Baca Juga: 'Namaku Sarengat', Autobiografi Manusia Tercepat Asia yang Cuma Tersimpan dalam Almari

Begini kisahnya.

Sebuah keputusan mengejutkan diumumkan Presiden Soekarno. Pemerintah Republik Indonesia mengajukan diri menjadi tuan rumah Asian Games IV/1962. Keinginan itu diungkapkan di hadapan anggota OCA (Olympic Council of Asia).

Bukan cuma bikin kaget para anggota OCA, para atlet Indoensia juga tak percaya.

"Lha, saya sebagai warga negara Indonesia saja tidak percaya, apalagi orang lain," kenang Sarengat.

Menurut pria kelahiran Banyumas, 28 Oktober 1940 itu, kesanggupan Soekarno menjamu negara-negara Asia merupakan mission imposible. Bukan cuma soal fasilita solahraga yang dimiliki Indonesia, tapi para atlet yang berstatus atlet elite Indonesia, termasuk Sarengat, tak pernah mengikuti turnamen internasional.

"Apalagi menggelar even internasional," imbuh bapak tiga anak itu.

Rupanya, tak hanya bermodal tekad dan semangat untuk menggelar Asian Games. Soekarno membuka kepercayaan publik dengan menjaring dana dri rekanan negara lain. Proses berikutnya pemerintah membangun stadion, termasuk kompleks Gelora Bung Karno. Persiapan para atlet juga digenjot.

Media-media nasional merekam tahap demi tahap pembangunan GBK. Juga persiapan para atlet menjelang Asian Games itu.

"Kok ya bisa berhasil dan Stadion Gelora Bung Karno di Senayan itu akhirnya bisa dibangun," beber pria yang tepat 28 Oktober nanti berusia 68 tahun itu.


Kerja keras Soekarno membangun kompleks olahraga modern di Senayan itu memacu para atlet untuk menyadari bahwa mereka mempunyai tugas mengukir prestasi dari bangunan megah itu.

Mereka seperti ditodong pertanyaan: bisakah ada prestasi indah tercipta dari keringat-keringat anak-anak bangsa?

Dari sana tumbuhlah iklim kompetisi di antara para atlet. Sarengat bersama atlet-atlet tanah air bersaing memperebutkan tempat di tim nasional. Mereka berteka duntuk bisa mewakili Indoensia di markas sendiri.

Sarengat berhasil membuktikan diri sebagai atlet terbaik di nomor dasa lomba. Dari sepuluh nomor dasa lomba, Sarengat selalu menunjukkan diri kalau dia lah yang nomor satu pada lari 100 meter, 200 meter, 110 gawang, lempar lembing, hingga lempar cakram.

Baca Juga: Tentang Muhammad Sarengat yang Pernah Berpredikat Manusia Tercepat Asia

Sudah bisa menjadi yang paling jagoan pada nomor dasa lomba, tantangan datang lewat bisikan Bung Karno. Ya, tantangan, bukan janji bonus semata.

"Sarengat, rakyat minta bukti karena selama ini kamu diberi makan. Hanya kamu yang berpeluang menyumbangkan emas dari stadion utama ini," ucap Sarengat menirukan kalimat Bung Karno.

Bisikan itu direspons positif oleh Sarengat. Sprinter Sarengat menyumbangkan dua medali emas dalam nomor lari 100 meter dan lari gawang 110 meter. Satu medali lagi, perunggu, didapatkan dari nomor 200 meter.

Emas dari nomor 100 meter yang dibuat dari catatan waktu 10,4 detik itu membuat Sarengat menjadi peraih medali emas Asian Games pertama buat Indonesia. Catatan waktu dari emas 100 meter itu juga sekaligus menjadi rekor Asia.

Sarengat mematahkan rekor sprinter Pakistan, Abdul Khalik, dengan 10,6 detik pada Asian Games II di Manila, Filipina. Rekor itu baru pecah 22 tahun kemudian oleh sprinter Purnomo M. Yudhi pada Olimpiade 1984 di Los Angeles.

Sejauh ini hanya ada tiga atlet atletik Indoensia yang pernah menyumbangkan emas dari Asian Games. Setelah Sarengat, emas lain didonasikan Supriyati Sutono and Maria Natalia Londa.