Tampilkan postingan dengan label Mohammad Sarengat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mohammad Sarengat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2016

Bisikan Presiden Soekarno yang Memacu Mohammad Sarengat Jadi Manusia Tercepat Asia

Mohammad Sarengat membawa harum nama Indonesia di era 1960-an. Dia sukses membawa Merah Putih berkibar di Asian Games IV/1962 di Jakarta sebagai manusia tercepat Asia. 

(Foto: Jawa Pos)

Tidak sulit bikin janji dengan Sarengat. Tempat yang dipilihnya juga tak jauh dari Senayan, tempat kami biasa kongkow saat liputan: di sebuah kedai di Jl. Hangtuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sarengat bilang kedai itu milik istrinya. Jadi mau ngobrol dalam durasi berapa lamapun tidak akan sungkan. Selain itu, dia menjanjikan sajian istimewa yang jadi menu andalan di kedainya itu: "risolnya enak lho," tutur dia.

Sesuai hari dan jam yang disepakati, kami berjumpa di kedai itu. Untuk ngobrol sekaligus foto-foto.

Selain ngobrol soal profesi dokter dan tentara, obrolan juga bergulir soal masa jayanya sebagai atlet. Sarengat yang seorang manusia tercepat Asia.

Namanya harus dan tercatat sebagai salah satu atlet top nasional. Oleh Komite Olahraga Nasional indonesia (KONI) Sarengat dimasukkan dalam 100 atlet legendaris. Ada enam atlet atletik yang ada dalam buku itu. Sarengat disebut sebagai atlet yang paling sukses di Asian Games.

Tinta emas itu tak terukir begitu saja. Ada sebuah prestasi yang membuat nama Sarengat bisa amat melegenda. Ya, Sarengat adalah peraih emas Asian Games IV/2962 di Jakarta.

Baca Juga: 'Namaku Sarengat', Autobiografi Manusia Tercepat Asia yang Cuma Tersimpan dalam Almari

Begini kisahnya.

Sebuah keputusan mengejutkan diumumkan Presiden Soekarno. Pemerintah Republik Indonesia mengajukan diri menjadi tuan rumah Asian Games IV/1962. Keinginan itu diungkapkan di hadapan anggota OCA (Olympic Council of Asia).

Bukan cuma bikin kaget para anggota OCA, para atlet Indoensia juga tak percaya.

"Lha, saya sebagai warga negara Indonesia saja tidak percaya, apalagi orang lain," kenang Sarengat.

Menurut pria kelahiran Banyumas, 28 Oktober 1940 itu, kesanggupan Soekarno menjamu negara-negara Asia merupakan mission imposible. Bukan cuma soal fasilita solahraga yang dimiliki Indonesia, tapi para atlet yang berstatus atlet elite Indonesia, termasuk Sarengat, tak pernah mengikuti turnamen internasional.

"Apalagi menggelar even internasional," imbuh bapak tiga anak itu.

Rupanya, tak hanya bermodal tekad dan semangat untuk menggelar Asian Games. Soekarno membuka kepercayaan publik dengan menjaring dana dri rekanan negara lain. Proses berikutnya pemerintah membangun stadion, termasuk kompleks Gelora Bung Karno. Persiapan para atlet juga digenjot.

Media-media nasional merekam tahap demi tahap pembangunan GBK. Juga persiapan para atlet menjelang Asian Games itu.

"Kok ya bisa berhasil dan Stadion Gelora Bung Karno di Senayan itu akhirnya bisa dibangun," beber pria yang tepat 28 Oktober nanti berusia 68 tahun itu.


Kerja keras Soekarno membangun kompleks olahraga modern di Senayan itu memacu para atlet untuk menyadari bahwa mereka mempunyai tugas mengukir prestasi dari bangunan megah itu.

Mereka seperti ditodong pertanyaan: bisakah ada prestasi indah tercipta dari keringat-keringat anak-anak bangsa?

Dari sana tumbuhlah iklim kompetisi di antara para atlet. Sarengat bersama atlet-atlet tanah air bersaing memperebutkan tempat di tim nasional. Mereka berteka duntuk bisa mewakili Indoensia di markas sendiri.

Sarengat berhasil membuktikan diri sebagai atlet terbaik di nomor dasa lomba. Dari sepuluh nomor dasa lomba, Sarengat selalu menunjukkan diri kalau dia lah yang nomor satu pada lari 100 meter, 200 meter, 110 gawang, lempar lembing, hingga lempar cakram.

Baca Juga: Tentang Muhammad Sarengat yang Pernah Berpredikat Manusia Tercepat Asia

Sudah bisa menjadi yang paling jagoan pada nomor dasa lomba, tantangan datang lewat bisikan Bung Karno. Ya, tantangan, bukan janji bonus semata.

"Sarengat, rakyat minta bukti karena selama ini kamu diberi makan. Hanya kamu yang berpeluang menyumbangkan emas dari stadion utama ini," ucap Sarengat menirukan kalimat Bung Karno.

Bisikan itu direspons positif oleh Sarengat. Sprinter Sarengat menyumbangkan dua medali emas dalam nomor lari 100 meter dan lari gawang 110 meter. Satu medali lagi, perunggu, didapatkan dari nomor 200 meter.

Emas dari nomor 100 meter yang dibuat dari catatan waktu 10,4 detik itu membuat Sarengat menjadi peraih medali emas Asian Games pertama buat Indonesia. Catatan waktu dari emas 100 meter itu juga sekaligus menjadi rekor Asia.

Sarengat mematahkan rekor sprinter Pakistan, Abdul Khalik, dengan 10,6 detik pada Asian Games II di Manila, Filipina. Rekor itu baru pecah 22 tahun kemudian oleh sprinter Purnomo M. Yudhi pada Olimpiade 1984 di Los Angeles.

Sejauh ini hanya ada tiga atlet atletik Indoensia yang pernah menyumbangkan emas dari Asian Games. Setelah Sarengat, emas lain didonasikan Supriyati Sutono and Maria Natalia Londa.