Tampilkan postingan dengan label sandow weldemar nasution. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sandow weldemar nasution. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2016

Sandow Mendobrak Gaya Kuno Lifter Nasional

Sandow Weldemar Nasution, 32 tahun, mempunyai cara agar profesi sebagai lifter dianggap keren dan kekinian. Sulung dari dua bersaudara itu mempunyai cara mendobrak gaya kuno atlet angkat besi tanah air.


Sandow tak pernah peduli dengan anggapan publik yang masih memandang sebelah mata angkat besi. Dia justru tertantang menjadikan olahraga itu bisa dinikmati anak-anak gaul dan jadi gaya hidup kalangan muda.

Maka, Sandow tak mau tampil biasa-biasa saja. Dia amat kekinian dan punya penampilan yang dibilang anak-anak muda saat ini sebagai penampilan keren. Macam David Beckham atau Lionel Messi di sepakbola.

"Saya bikin tato dan banyak tindik, dan ikut balapan demi mengangkat pamor angkat besi," kata Sandow.

Baca Juga: Gagang Sapu yang Melanjutkan Dinasti Angkat Besi Nasution

Baca Juga: Keluarga Nasution, Deby Susanti Kabilaha, Pelopor Angkat Besi Putri


Sandow kini mempunyai enam tato dan 11 piercing. Uniknya, sebagian tato itu dibuat sebagai penanda even yang diikuti. Motifnya sih memang tak nyambung satu sama lain, alumni Univeristas Gunadarma tersebut merajah tubuhnya setiap kali ikut serta pada even besar seperti SEA Games atau Olimpiade.

Sementara soal tindikan, dia membuat sesuka suasana hati saja. Di telinga, bibir atau alis, Sandow tak butuh nunggu event khusus.

Kesukaan Sandow terhadap tato dan piercing tak dihalangi kedua orang tuanya, Sori Enda Nasution dan Deby Susanti Kabilaha.

Sandow memang sempat takut kedua orang tuanya bakal marah besar dengan tato pertama. Sori Enda dan Deby Susanti ternyata 'cuma' kaget saat pertama melihat namun kemudian santai saja dengan pilihan anaknya. Toh prestasi Sandow sepadan dengan gayanya.

"Saya sudah tunjukkan kepada teman-teman yang pernah meledek saat saya mencoba angkat besi dahulu kala. Dari angkat besi kehidupan saya bisa lebih baik daripada mereka," kata Sandow, yang hasil pernikahannya dengan Maxima Rizado menghasilkan buah hati laki-laki bernama Sabrio Haidar Mengga Nasution.

"Saya ingin jadi role model buat lifter Indonesia," kata pria yang berulang tahun setiap 2 Maret 1981 tersebut.

Saking gemesnya dengan penampilan teman-temannya di angkat besi yang setia dengan gaya jadul dan apa adanya Sandow tak segan menggertak para juniornya. "Saya bilang saja: penampilan seperti kamu itu sudah ada sejak angkat besi 1980-an, gaya sedikit," kata Sandow.

Selain hobi melukis tubuh dan piercing, Sandow punya kegemaran lain khususnya pada bidang otomotif. Selain kerap berganti mobil, kegiatan lainnya di luar angkat besi adalah balap motor memodivikasi Vespa.

Sandow juga sohor di komunitas sepeda BMX. Ada 14 sepeda yang jadi koleksinya. Sejatnya freestyle BMX adalah hobi lamanya. Malah dia lebih senang sepeda BMX daripada angkat besi saat masih Sekolah Dasar. Kini dia juga sedang senang-senangnya mengulik dan memodifikasi RC.

Selasa, 29 Maret 2016

Keluarga Nasution, Deby Susanti Kabilaha, Pelopor Angkat Besi Putri

Sori Enda Nasution bukan sekadar mantan dan pelatih atlet angkat besi. Selain punya anak yang kini juga jadi lifter, Sori Enda juga memelopori cabang angkat besi putri, melalui istrinya sendiri, Deby Susanti Kabilaha.
 

Tak cukup dirinya sendiri menjadi lifter. Sori Enda atau akrab disapa Bang Ucok kemudian mencetak atlet angkat besi berprestasi melalui anaknya Sandow Weldemar Nasution.

Cukup itu saja? Tidak. Sori Enda juga menjadi pelopor munculnya cabang angkat besi nomor putri di Indonesia.

Untuk memunculkan atlet angkat besi putri jelas bukan perkara mudah karena dia harus menemukan sosok yang benar-benar menyukai olahraga tersebut. Sudah begitu--namanya juag pelopor--Sori Enda harus babat alas.

Pencarian Sori Enda ternyata tidak jauh-jauh karena yang jadi 'Kelinci Percobaan' tak lain adalah istrinya sendiri: Deby Susanti Kabilaha. Deby menjadi pembuka jalan mulai diperlombakannya event-event angkat besi nomor putri.

Baca Juga: Gagang Sapu yang Melanjutkan Dinasti Angkat Besi Nasution

Sori Enda berhasil membuat kelompok wanita dilombakan pada kejuaraan nasional angkat besi 1984. Bukan pekerjaan mudah waktu itu. Tentangan didapatkan dari ibu negara waktu itu, Tien Soeharto. Pakaian lifter putri dianggap tak sopan.

Perang di media pun terjadi. Deby santai menanggapi. Hingga kemudian dia memutuskan pensiun.

"Saya mundur setelah muncul lifter-lifter putri. Kan tujuan utama sudah terpenuhi," kata Deby.

Dinasti angkat besi Nasution tampaknya tak akan berhenti setelah Sandow pensiun. Sabrio  Haidar Mengga Nasution, cucu Sori Enda dan putra Sandow Weldemar Nasution, tampaknya mulai gandrung dengan angkat besi.

Setiap kali ditanya tentang pilihan masa depan, bocah berusia 3 tahun itu dengan lantang memilih angkat besi daripada menembak seperti ibundanya, Maxima Rizado.

"Saya sih terserah anaknya. Tidak ada paksaan, kata Dodo," sapaan karib Maxima Rizado.

Sandow malah ingin Sabrio jauh-jauh angkat besi. Deraan cedera punggung dan porsi latihan keras setiap hari menjadi pertimbangan. "Balapan motor saja," kata Sandow.

Pernah dimuat di detikSport bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional 9 September 2013

Gagang Sapu yang Melanjutkan Dinasti Angkat Besi Nasution

Sori Enda Nasution tak bisa menutupi kegembiraannya siang itu. Putra sulungnya, Sandow Weldemar Nasution, pulang dan menceritakan pengalaman yang tak biasa.

 

"Ayah, saya bisa angkat besi," kata Sandow kecil. Kalimat pendek itu benar-benar melekat di ingatan Bang Ucok, sapaan karib Sori Enda Nasution, meski kini kejadian tersebut sudah lewat berpuluh tahun lamanya.

Di luar mereka yang berkutat di cabang angkat besi, nama Sori Enda Nasution mungkin kurang familiar terdengar. Padahal pria itu adalah salah satu lifter terbaik yang pernah dipunya Indonesia dengan prestasi di antaranya menembus empat besar Olimpiade Los Angeles 1984. Dalam beberapa tahun terakhir Sori Enda Nasution berada di belakang layar, menjadi pelatih yang memunculkan atlet-atlet berkaliber medali Olimpiade dan Asian Games seperti Fatmawati, Erwin Abdullah dan Heri Setiawan.

Soal anaknya yang akhirnya mau berlatih angkat besi, Sori Enda memang pantas bersuka cita. Maklum, sebelumnya Sandow terlihat kurang berminat ikut latihan angkat besi, yang tempat latihannya berada di rumahnya sendiri. Sori Enda justru membimbing lifter dari daerah lain: titipan provinsi untuk PON ataupun pelatnas ke SEA Games.

Sandow kecil pada awalnya lebih senang menghabiskan waktu bermain freestyle dengan sepeda BMX-nya. Rumahnya yang tak jauh dari sekolah olahraga Ragunan, Jakarta memudahkan kakak Sendy Nasution itu menemukan kawan ber-freestyle.

"Tapi lingkungan memang jadi faktor penting buat anak-anak. Bagaimana saya bisa melepaskan diri dari angkat besi kalau ke depan, ke belakang ke samping kanan atau kiri, seluruh isi rumah membicarakan angkat besi," kisah Sandow menceritakan awal dia mau ikut latihan angkat besi.

Di rumah itu Sori Enda memang sudah menelurkan lifter berkualitas. Fatmawati, Erwin Abdullah dan Heri Setiawan adalah sedikit nama atlet angkat besi andalan Merah Putih yang dibesutnya.

"Saya justru mulai mengangkat besi bukan dari ayah. Pelatih-pelatih lain yang mengajarkannya," lanjut Sandow.

"Ayah sudah mengajarkan angkat besi sejak kecil. Tidak langsung, tapi pakai gagang sapu. Dia mengajarkan teknik-teknik yang benar," sahut Sandow mengenang masa kecilnya.

Totalitas Sandow di cabang angkat besi bisa dibilang mulai muncul saat kelas 1 SMA. Melihat anaknya punya bakat, Sori Enda menanyakan keseriusan putra pertamanya itu. "Saya tantang dia untuk ikut kejuaraan nasional junior. Eh, dia dia siap," kenang Sori Enda.

Kejuaraan nasional junior itu lantas jadi titik awal karier Sandow di cabang olahraga angkat besi. Sandow yang lahir tahun 1981 mulai bisa menikmati ketegangan yang dia rasakan saat belakang dan di atas panggung perlombaan. Lama-lama dia ketagihan mengisi skuat pelatnas.

Jalan yang dipilih Sandow sebagai seorang lifter terbukti tak salah. Dia merebut dua medali emas di SEA Games 2005 dan 2007 saat turun di kelas 77 kg. Sementara di kejuaraan Asia tahun 2007 dia sukses merebut medali perak. Langkah Sandow berikutnya adalah Olimpiade.

Keberhasilan Sandow lolos ke Olimpiade kembali memunculkan keharuan besar dalam diri sang ayah. Apa yang dia lakukan di Olimpiade Los Angeles tahun 1984 diulangi anaknya di Beijing 2008.

Sori Enda Nasution dan Sandow Weldemar Nasution bukan keluarga Nasution pertama yang berkiprah di cabang angkat besi dan memberi prestasi pada negeri ini. Di tahun 1960 Indonesia memiliki Asber Nasution, yang tak lain adalah paman dari Sori Enda Nasution.

Sama seperti Sori Enda dan Sandow Weldemar, Asber juga pernah berlaga di Olimpiade. Dia menjadi wakil Merah Putih pada Olimpiade 1960 di Roma. Atas torehan-torehan bersejarah yang dicatatkan, namanya bahkan diabadikan menjadi nama GOR Asber Nasution di Tebing Tinggi, Sumatera Utara.










Pernah dimuat di detikSport bertepatan Hari Olahraga Nasional 9 September 2013