Tampilkan postingan dengan label M. Fadli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M. Fadli. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Maret 2017

Lintasan Baru untuk M. Fadli: Balap Motor Vs Balap Sepeda

M. Fadli alias Muhammad Fadli Immamudin tak benar-benar meninggalkan sirkuit balap motor. Dia sekaligus menekuni balap sepeda. 

M. Fadli berlatih di Sirkuit Sentul (Foto: Grandyos Zafna/detikSport)

Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat pagi ini cerah. Tak ada hujan. Tak ada mendung.

Kami--saya dan Grandyos Zafna--menyambangi M. Fadli yang tengah berlatih di sirkuit yang pernah menggelar Formula 3 itu. Namun kali ini M. Fadli bukan berlatih balap motor. Dia nggowes di atas sepeda road race seharga Rp 140 jutaan.

M. Fadli bersiap-siap untuk turun dalam Kejuaraan Balap Sepeda Para-Cycling di Bahrain akhir Februari 2017, ajang balapan untuk atlet difabel.

Ya, Sirkuit Sentul adalah 'rumah' M. Fadli. Dia atlet balap motor yang menyatakan pensiun usai menjalani amputasi kaki. Setelah itu dia pindah cabang olahraga, menjadi pebalap sepeda difabel.

Baca Juga: Melihat Kontrasnya Semangat Membara M. Fadli vs Kemuraman Sirkuit Sentul

***
 M. Fadli dengan sepeda dari sponsor (Foto: Grandyos Zafna/detikSport)

M. Fadli menatap Garmin, monitor nadi dan GPS, yang menempel di pergelangan tangan kanannya. Dia meminta saya turut melongok angka yang tertera di atasnya.

Di sana muncul catatan 2:04 dengan ukuran besar dan yang lebih kecil kecil tertera di bawahnya 50 km. Artinya, Fadli baru saja menempuh jarak 50 kilometer dalam waktu dua jam dan empat menit.

Di saat bersamaan arloji digital miliknya menunjukkan angka 08.05. Kesimpulannya, Fadli sudah memulai gowes sekitar pukul 06.00.

Cuaca pada Kamis (17/2/2017) di Bogor memang tengah mendukung. Matahari bersinar lembut dengan sesekali diselingi mendung. Berbeda dengan sehari sebelumnya yang diterpa hujan deras sejak dinihari. Namun, Fadli juga ditantang sebuah fakta lainnya.

“Ini hasil yang lumayan, gowes sendirian selama dua jam dan jarak 50 kilometer,” kata Fadli pagi itu.

Ya, pagi itu Fadli harus berlatih sendirian di Sirkuit Sentul. Pelatihnya, Puspita Mustika Adya, tak mendampingi dia.

Eh, rekan-rekan yang biasa gowes bareng dalam komunitas Kelapa Gading Bikers Community (KGB) juga absen. Mereka memilih untuk bersepeda ke Puncak Bogor.

M. Fadli tetap berlatih di sirkuit karena dia akan mengajar di sekolah racing miliknya, 43 Racing School.

Setelah melayani foto untuk keperluan dokumentasi Fadli bergegas minta izin untuk pindah tempat. Dia minta ngobrol dilanjutkan ke Sirkuit Karting Sentul yang tak jauh dari sirkuit ini.

“Saya bersepeda ke sana. Ketemu di sana, ya,” ungkap Fadli.

Kami yang mengikuti di belakang Fadli melihat dia sampai beberapa kali berhenti di tengah jalan. Dia membalas sapaan dari pegawai Sirkuit Sentul yang memang sudah jadi tempat bermainnya.

Setibanya di Sirkuit Karting, anak asuh Fadli di 43 Racing School telah menunggu. Mereka sih tak diam-diam saja. Empat rider muda siswa sekolah balap motor milik Fadli itu tengah melakukan pendinginan usai berlatih fisik.

Mereka didampingi pelatih fisik sekolah itu, Gandung Darmoko, juga satu pebalap Honda yang tengah naik daun, Andi Gilang. Sebelum bekerja sama di sekolah balap itu, Gandung telah mendampingi Fadli saat masih membalap.

Tak membuang waktu, Fadli meyenderkan sepedanya dan bergabung untuk turut melakukan pendinginan. Hanya sebentar istirahat, Fadli segera mengambil alih ‘ruang kelas’ yang ada di tepi sirkuit.

Dia memberikan waktu kepada para rider untuk sarapan sembari memberi masukan agar sarapan dilakukan sepraktis mungkin agar tak buang-buang waktu belajar dan latihan.

Aktivitas berlanjut ke briefing awal sebelum rider-rider muda itu mengenakan wearpack dan menjajal motor 600cc.

Dalam kelas balap motor Fadli kali ini, ada empat pebalap yang bergabung. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan usia yang berbeda. Paling muda 12 tahun, yang paling senior 19 tahun.

“Keadaan kamu bagaimana? Dari catatan ini kamu baru saja tifus. Kok bisa,” kata Fadli. Dia kemudian membacakan detail catatan kesehatan ketiga rider lainnya.

Setelah itu, Fadli mulai membeberkan evaluasi latihan masing-masing siswanya sehari sebelumnya. Ya, satu-satu dibeberkannya kekurangan dan apa saja yang sudah oke.

“Dalam kelas ini saya memberikan dasar-dasar kepada mereka. Soal suspensi, tekanan angin ban, juga soal setting elektonik motor masing-masing rider itu,” tutur bapak satu anak tersebut.

Latihan berlanjut ke materi praktik. Namun sayang rencana tak bisa dijalankan. Hujan turun begitu deras. Padahal yang tersedia ban kering.

Para rider muda itu pun punya acara bebas. Bercanda dengan sesama rekannya, juga dengan Fadli.

Mereka bicara segala macam. Bukan melulu tentang balap motor. Obrolan bahkan sampai soal hafalan surat-surat Al Quran dan kebiasaan sholat Subuh mereka.

Saat azan Dhuhur berkumandang, Fadli segera mengajak anak asuhnya untuk sholat berjamaah.

Setelah dua jam bergulir, latihan praktik bisa dijalankan. Wearpack kembali dikenakan. Dua mekanik yang bertugas menyalakan motor. Area sirkuit pun kian menjadi bising dengan suara motor-motor besar itu.

Empat rider itu naik ke atas motor, sedangkan Fadli menyiapkan papan kecil untuk alas menulis dan lembar kertas sebagai alat untuk mencatat proses latihan. Fadli mengangkat kursi dan berjalan ke tepi lintasan.

“Biasanya saya pindah kje beberapa titik untuk mengamati mereka,” ucap dia.

Setelah menghabiskan waktu 30 menit para rider menepi. Motor diparkir lagi. Di saat bersamaan makan siang yang dipesan datang.

Fadli meminta anak asuhnya untuk bergegas makan siang, sebab kelas balap akan berlanjut lagi.

“Sore nanti saya juga masih lanjut latihan. Paling di rumah nge-roll sepeda di rumah,” kata Fadli.

Selain itu, dia juga bakal bersenang-senang dengan Muhammad Ali Immamudin, putra semata wayangnya dari pernikahan dengan Diah Asri Astyavi. Kediamannya juga ramai dengan kehadiran empat rider yang tinggal di asrama sebelah rumah utama mereka.



====
Foto-foto: Grandyos Zafna/detikSport

Kamis, 23 Februari 2017

Kontrasnya Semangat Membara M. Fadli dan Kemuraman Sirkuit Sentul

Sirkuit Sentul yang berada di Bogor ini cukup mudah dijangkau dari Jakarta. Menyambangi dua sirkuit sekaligus, saya berkesempatan ngobrol dengan M. Fadli yang kini jadi pebalap sepeda. 

M. Fadli berlatih di Sirkuit Sentul (Foto: Grandyos/detikcom)

Kamis (16/2/2017) pagi, Jakarta masih menyisakan hujan semalam. Namun, saya bersikukuh rencana ke Sirkuit Sentul tak boleh batal.

Pertama, saya sudah kadung janjian dengan M. Fadli alias Muhammad Fadli Immamudin untuk berbincang-bincang soal persiapan ke Kejuaraan Asia Balap Sepeda 2017. Kedua, rekan saya Grandyos juga telah bersedia menemani buat datang ke sana.

Mungkin karena hujan pula, pesanan taksi online menjadi tak mudah. Tiga operator berbeda saya coba, tapi hampir semua bilang sorry.

Barulah setelah sekitar 30 menit mencoba, gocar bersedia menerima pesanan. Tapi rupanya dia masih cukup jauh dari lokasi saya di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Mobil masih berada di area Pasar Minggu, sekitar 10 menit perjalanan ke tempat saya memesan.

Barulah pukul 06.40 mobil tiba dan mengangkut saya. Grandy bilang dia menunggu di McDonald Cibubur.

Beruntung jalanan lancar. Sekitar 30 menit kami sampai di Sirkuit Sentul. Double beruntung karena matahari di kawasan Sentul tengah berani.

M. Fadli di Sirkuit Karting Sentul, Bogor di sela-sela sebagai instruktur 43 Racing School

Soal ini saya sempat waswas karena teman-teman lain yang melongok Sentul sehari sebelumnya tak kebagian panas. "Hujan deras," kata Aprelia Wulansari. Rombongan mereka pun hanya sempat mengamati M. faldi berlarih rolling di teras rumah dia di Sentul City.

Tapi saya lupa menanyakan Fadli latihan di sirkuit mana? Sirkuit besar atau Sirkuit Karting? Untuk mengontaknya jelas tak bakal ada jawaban. Sebab, dia pasti telah memulai gowes sejak pagi seperti jadwal-jadwal sebelumnya.

Sementara, pelatih M. Fadli dalam persiapan ke Kejuaraan Asia 2017, Puspita Mustika Adya, tak mendampingi. Dia tengah melatih di tempat lain.

Satu-satunya jalan yakni bertanya kepada satpam di gerbang masuk Sirkuit Sentul. Satpam yang berjaga menjawab M. Fadli biasa latihan di Sirkuit Karting. Saya juga haqul yakin M. Fadli ada di sana. Sebab, sekolah balap 43 Racing School miliknya memang bermarkas di sana. Oke, kami menuju Sirkuit kecil itu.

Sampai di sana sirkuit masih sepi. Beberapa orang yang tengah utak-atik motor bilang kalau M. Fadli biasanya tiba pukul 08.30.

Kami pun berasumsi M. Fadli pasti latihan di sirkuit besar yang jaraknya sekitar 200 meter dari Sirkuit Karting ini.

kami pun balik badan. Kami kembali menuju Sirkuit besar. Di pintu masuk kami dicegar satpam. dia menanyakan tujuan sekaligus meminta bayaran tiket masuk Rp 10 ribu.

Kami masih meneruskan perjalanan ke arah paddock. Sesampainya di sana, dua petugas keamanan kembali mencegat kami dan menanyakan keperluan. Kali ini duo satpam lebih ramah.

M. Fadli dengan sepeda barunya dalam persiapan ke Kejuaraan Asia Para-Cycling di Bahrain, Februari 2017 (Foto: Gradyos Zafna)

Mereka segera mengarahkan kami ke pinggir lintasan. "Nanti Fadli lewat situ," kata salah satunya.

Sampai di pinggir lintasan, benar, tak lama kemudian M. Fadli lewat. Dia melambaikan jemarinya.

Gayanya sudah mirip pebalap profesional. Berpakaian serba ketat plus helm dan sepatu sepeda, dia juga menaiki sepeda road race buatan Prancis Look dari Technobike.

Selain itu, satu hal sangat menarik juga terlihat antara M. Fadli dan Sirkuit Sentul ini. Ada sebuah fakta yang amat kontras antara keduanya. Memang pagi ini saya belum berbincang cukup banyak dengan dia. Namun, saya sudah mengawali ketika ngobrol via telepon beberapa hari lalu.

Lewat telepon itu, M. Fadli menunjukkan dirinya sebagai seorang yang pantas menjadi inspirasi. Semangatnya tak menurun meski dia kehilangan satu kaki. Ya, M. Fadli harus merelakan kaki kiri di baah lututnya diamputasi. Kaki itu remuk dalam kecelakaan saat melakukan selebrasi di Sirkuit Sentul ini pada 2015.

Beruntung obrolan pertama itu lewat telepon. Kalau tidak saya pasti menuai malu. Saya dibuat terharu, salut dan perasaan lain yang mewakili kekaguman sepanjang obrolan.

Semangat pantang menyerah M. Fadli begitu berkebalikan 180 derajat dengan muramnya Sirkuit Sentul ini. Apalagi dengan kebaruan teknologi sepeda Look yang dipakai M. Fadli serta asesoris yang dikenakannya. Garmin, arloji digital, dan telepon genggam dengan apps yang mampu merekam setiap kayuhannya.

Dengan satu kaki itu, M. Fadli tak meninggalkan adu balap. Hanya saja dia tampil lewat cara yang berbeda. M. Fadli menekuni cabang paracycling alias balap sepeda untuk difabel.

"Sama-sama saja kok, cuma pindah cabang olahraga. Saya tidak lantas berhenti melakukan apapun setelah peristiwa itu," kata M. Fadli.

Bagaimana nasib Sirkuit Sentul? Sirkuit Sentul diam-diam saja, bingung mau jadi apa.

Sebuah angin segar sempat berembus kala muncul wacana Indonesia bakal jadi tuan rumah MotoGP 2018. Si pengelola Tinton Suprapto sempat optimistis balapan itu akan digelar di Sirkuit Sentul. Artinya, Sirkuit Sentul berpotensi bakal direnovasi, baik lintasan maupun fasilitas pendukungnya. Faktor kebaruan akan ada pada sirkuit yang selesai dibangun pada 1994 itu.

Padahal menilik usia, Sirkuit Sentul masih lebih muda ketimbang M. Fadli. Bulan Juli tahun ini M. Fadli akan genap berusia 32 tahun. Sementara Sirkuit Sentul semestinya tengah dalam masa puber yang ingin menarik perhatian lawan jenis.

Atau justru karena usia itu, M. Fadli menjadi lebih bijak dalam menentukan sikap. Sementara Sirkuit Sentul adalah ABG yang memilih untuk menyerah kepada uluran tangan orang 'gila' yang entah kapan menghampirinya.