Jumat, 26 April 2019

Hari Kartini dari Gelanggang Olahraga: Lantang Lasmi Membongkar Bobrok PSSI, Jeritan Aldila Suarakan Kesetaraan


Hari Kartini tahun ini ditandai dengan lantang prestasi dari gelanggang oleh atlet-atlet masa kini. Juga gigih perjuangan Lasmi Indaryani menuntut keadilan dan keberanian membongkar kebusukan di PSSI. Tapi, catatan pedih masih disisakan oleh Aldila Sutjiadi dan Fanny Kalumata. 

Mengenakan kebaya dan berhijab, Eni Nuarini naik panggung dalam gala dinner di Doha, Sabtu (20/4/2019). Dia dinobatkan sebagai pelatih terbaik Asia.

Eni memang berhasil menggembleng pemuda dari Lombok Utara, Lalu Muhammad Zohri, menjadi yang tercepat di nomor 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 di Finlandia.

Di bawah asuhan Eni, tim lari estafet 4x100 meter putra (Fadlin, Zohri, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara) juga mencatatkan rekor di Asian Games 2018 Jakarta. Mereka berhasil meraih medali perak, cuma kalah dari Jepang.

Eni, yang dulu merupakan perenang andalan Indonesia, juga mengorbitkan Suryo Agung Wibowo. Hingga kini, Suryo masih tercatat sebagai manusia tercepat Asia Tenggara.

Tahun lalu, Defia juga membuktikan perempuan Indonesia tak bisa diremehkan. Tampil atraktif di taekwondo kategori poomsae (seni) menjadi peraih medali emas pertama untuk kontingen Indonesia di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Tak hanya Defia, rekening emas Indonesia di Asian Games 2018 itu dilanjutkan oleh dua atlet putri lainnya, yakni dari wushu yang dipersembahkan oleh Lindswell kemudian Tiara Andini Prastika dari sepeda gunung downhill.

Jauh sebelum itu, Susy telah mencatatkan sejarah sebagai peraih medali emas pertama untuk Indonesia di Olimpiade. Dia berhasil meraih medali emas di Olimpiade 1992 Barcelona.

Begitu pula medali perdana di Olimpiade. Adalah trio srikandi (Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani) yang mempersembahkannya dari panahan di Olimpiade 1988 Seoul.
"Perbandingannya 30 persen putri, yang putra 70 persen. Perbedaannya masih jauh banget"
Tapi, sayangnya, ketimpangan untuk atlet putri belum semuanya pupus. Sebagai contoh, prize money alias uang hadiah untuk para petenis putri jauh lebih sedikit ketimbang petenis putra.

"Perbandingannya 30 persen putri, yang putra 70 persen. Perbedaannya masih jauh banget," kata Aldila Sutjiadi, peraih medali emas tenis ganda campuran Asian Games 2018.

"Saya berharap hadiah untuk petenis putra dan putri bisa disetarakan secepatnya, karena kan kami latihan juga sama capeknya dengan petenis putra. Lagipula, prize money putra dan putri di internasional juga sudah setara," Dila menambahkan.

Pengelolaan liga juga masih jomplang di beberapa cabang olahraga. Basket, misalnya. Liga bahkan sempat vakum hingga lahir kembali sebagai Srikandi Cup.

Tahun ini, Srikandi Cup kembali berjalan dengan tujuh kontestan (GMC Cirebon, Scorpio Jakarta, Tanago Jakarta, Sahabat Semarang, Merpati Bali, Flying Wheel Makassar, dan Tenaga Baru Pontianak). Jumlah itu lebih sedikit ketimbang IBL, yang diramaikan sepuluh klub. Srikandi Cup juga tak mengenal hadiah uang.

Kapten Tenaga Baru Pontianak, Fanny Kalumata, bersyukur liga berjalan dan diputar dalam seri di kota-kota berbeda. Dari berbagai sumber, Srikandi Cup sulit mendapatkan sponsor. Dana pelaksanaan liga didapatkan dari patungan pemilik klub.

Fanny Kalumata (kedua dari kiri) 
"Potensi pemain putri ini bisa dikembangkan secara profesional. Kami ingin mendapatkan support yang setara dengan IBL. Saya melihat justru kurang solid di antara basketnya sendiri, karena salah satunya jadwal seri IBL kerap bentrok dengan Srikandi Cup dan dijadwalkan di kota berbeda," ujar Fanny.

Malah, liga sepakbola putri yang direncanakan sejak kepengurusan PSSI periode 2016-2020 dilantik masih sekadar rencana. Bisa jadi keuangan menjadi masalah utama seperti PSSi dalam mengelola Timnas Indonesia putri.

Seperti laporan dari mantan Manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani, dia bahkan harus memberikan dana talangan agar pelatnas Timnas U-16 berjalan.

Berkat Lasmi pula, seorang perempuan di sepakbola, kebusukan sejumlah petinggi PSSI terungkap. Kini, 16 orang dijadikan tersangka kasus dugaan pengaturan skor. Hampir seluruhnya bermula dari laporan Lasmi kepada Satgas Anti Mafia Bola.

Selamat Hari Kartini!

Senin, 23 April 2018

Basket Putri Merintis Jalan Kesetaraan

Pemain Timnas basket 5x5 Helena Tumbelaka
Basket putri memiliki potensi besar untuk menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Pembinaan belum setara dengan sektor putra.

Indonesian Basketball League (IBL) sebagai kompetisi basket putra profesional di Tanah Air bergulir rutin. Dengan atau tanpa sponsor, ajang itu seolah memiliki jaminan untuk tetap bergulir.

Pembinaan basket putri kurang mulus. Pelaksanaan liga timbul tenggelam. Srikandi Cup yang kini bergulir pun akhirnya menjadi liga yang terbentuk dari hasil patungan pemilik-pemilik klub.

Saat IBL bergulir di beberapa kota, Srikandi Cup dilaksanakan di satu kota: di Cirebon. Disebut-sebut selain ngirit dana, pemilik delapan klub peserta Srikandi Cup sepakat tak tergantung dengan IBL.

Mantan pengurus dan pemain Timnas basket putri, Julisa Rastafari, mengakui perbedaan liga basket di sektor putra dan putri sulit dihindari. Begitu pula soal pembinaan.

"Itu problem dari dulu. Sejak saya jadi pengurus Perbasi, timnas putri dan liga putri dinomorduakan," kata Lisa, sapaan karib Julisa Rastafari, dalam obrolan kepada detikSport.

"Ini yang dari dulu saya selalu berjuang. Selalu harus ada. Tapi, memang saya nggak bisa memaksakan kehendak, memang diakui atau tidak, sponsor berperan sekali. Liga putri,yang nonton nggak bisa penuh. Makanya, butuh  operator yang mampu mengemas kompetisi menarik," ujar dia.

"Selain itu, sejak dari basic pemain putri harus dibentuk agar bisa bermain menarik. Sejak kelompok umur bawah. Seharusnya Perbasi investasi pelatih bagus untuk menangani KU bawah, bukan hanya di tataran tim profesional. Juga kuantitas kompetisi sejak usia bawah," dia menambahkan.

Sempat Khawatir Liga Berhenti


Pemain Timnas basket 5x5 yang berkostum Surabaya Fever, sempay khawatir liga berhenti total setelah tak berjalan beriringan dengan IBL. Dalam prosesnya dia bisa lega dengan kompetisi yang tetap bergulir.

"Waktau kompetisi dipisah, awalnya smepat waswas karena kirain bakal nggak ada. Tapi, setelah ada Srikandi Cup, menjadi lega. Ternyata semua berusaha yang terbaik untuk perkembangan basket putri," uujar Gabriel.

Pemain Timnas basket 5x5 Gabriel Sofia

Beruntung bagi Gabriel, soal pendidikan bisa berjalan seiring dan sejalan dengan basket. Sekolahnya jalan terus meskipun jadwal kompetisi dan latihan Timnas tak berhenti.

Pemain Merpati Bali, Helena Tumbelaka, juga menyimpan harapan besar agar liga bergulir rutin seperti IBL. Sebab, diakui atau tidak, hasil liga bakal bermuara ke Timnas.

"Kami menyadari ada cabang olahraga prioritas yang dibuat oleh pemerintah. Melihat kekuatan Asia Tenggara, kelompok putri ini justru persaingannya ramai, tidak ada satu negara yang dominan. Kalau tim putra sudah sulit menyaingi Filipina, tidak dengan tim putri. Kalau mau lebih serius membina tim basket putri, emas SEA Games bukan hal yang tak mungkin," kata Helena.

Nah, potensi pemain bisa ditemukan dan digembleng lewat kompetisi. Semakin banyak kompetisi maka kemampuan kian terlatih. Selain itu, uji coba dengan tim-tim asing pun bsia lebih dgenjot lagi.

"Untuk Timans basket putri untuk persiapan Asian Games belum ada try out keluar, sedangkan tim putra ke Amerika Serikat. kami menyadari untuk persaingan Asian Games, bisa jadi tim putra jadi prioritas. Kami memang harus terus memberi pembuktian kalau timnas putri bisa. Pelan-pelan akan kami coba terus," dia menambahkan.
Hambatan Kultur

Selain itu, Helena menilai ada kultur yang menghambat basket putri berkembang. Pertama, lingkungan yang tidak mengenalkan basket kepada perempuan Indonesia sejak awal. Berkaca pengalaman, Helena baru mengenal basket saar kelas 4 Sekolah Dasar. Padahal, dia salah satu siswi di SD Don Bosco Pondok Indah, Jakarta.

Selain itu, orang tuanya pernah keberatan jika dirinya yang berbadan mungil dan gampang sakit berlatih basket yang menuntut komleksitas gerakan. Dari lari, lompat, body contact, dan lainnya.

"Padahal, apa yang didapatkan dari basket banyak banget. Selain fisik, saya diuntungkan dengan jaringan pertemanan yang luas, disiplin karena terbiasa dengan jadwal latihan, pembentukan karakter yang memaksa kami buat open minded," dia menambahkan.

Sabtu, 21 April 2018

Jangan Ada Lagi Liga yang Menakutkan Bagi Anak Negeri

Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta

Trauma. Bisa dimaknai cedera fisik, luka pada tubuh. Bisa pula berarti keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani.

Trauma bisa timbul karena lingkungan atau dirinya sendiri. Trauma muncul dari peristiwa yang mencemaskan dan menakutkan.

Trauma tercipta akibat adanya keterkaitan antara ingatan sosial dengan ingatan pribadi tentang peristiwa yang mengguncang eksistensi kejiwaan. Trauma bisa menimbulkan gangguan terus-menerus pada distribusi energi pikiran. 

Situasi itu sedang dialami Andik. Dia trauma sampai takut untuk kembali merumput di atas tanah sendiri, di Liga 1. Sebuah liga yang sebelumnya diagungkan dengan label Indonesian Super League (ISL).

Agung karena ISL sempat diyakini tak bisa diubah. Namanya sudah dipatri di Statuta PSSI sejak 2008 sebagai liga kasta teratas Indonesia. Kompetisi paling bergengsi di Indonesia itu diikuti 18 tim kontestan yang berada dari barat sampai ke timur.

Tapi rupanya, perubahan label itu sesulit seperti yang terlanjur dikultuskan. Nama kompetisi itu bahkan bisa diganti dengan begitu gampang. 

Prosesi perubahan nama itu dibuat sendiri oleh orang-orang yang bilang pergantian nama kompetisi itu sulit. Mereka yang bilang pergantian nama itu sulit, ya mereka yang pengurus PSSI, sebagian masih menjadi pengurus saat ini, juga pemilik suara.

Perubahan nama itu dibuat saat mereka berkumpupl dalam Kongres PSSI di Hotel Aryaduta, Bandung, 8 Januari 2017. Dari kumpul-kumpul itu muncullah wacana penggantian nama kompetisi. Detailnya, mereka yang tahu karena kongres itu tertutup buat publik. 

Setelah bersepakat, proses berikutnya malah makin gampang. Nama kompetisi dipasrahkan kepada sponsor. Cuma butuh waktu 13 hari buat mereka untuk menentukan nama baru. Ya, berselang dua pekan kurang satu hari sejak diwacanakan, ISL resmi ganti nama menjadi Liga 1.

Perubahan brand menjadi Liga 1 dengan gampang itu tak menyembuhkan luka Andik Vermansah dan anak-anak negeri lainnya dengan cepat. Andik secara terbuka menyatakan belum bisa move on sepenuhnya. Dia masih terjebak dalam luka masa lalu.

"Memang ada perubahan di liga Indonesia, tapi saya masih trauma. Karena, menurut saya kondisi saat ini belum 100 persen normal," kata Andik.

Maka, dia pun memilih untuk bertahan di klub yang sudah diperkuat sejak 2013, Selangir FC, sebuah klub di liga Malaysia.

Wajar jika proses penyembuhan Andik belum bisa pulih dalam waktu singkat. Dia lakon. Dia tak hanya menonton.

Andik adalah prajurit dalam sebuah tim yang bermain di liga resmi milik PSSI dan diakui FIFA. Dia bermain di Persebaya 1927 pada 2010 yang tampil di Indonesian Premier League.

Persebaya 1927 itu memang belum bisa dibilang sebagai klub yang mencoba untuk memenuhi lima aspek lisensi klub AFC yang didedungkan PSSI dan PT Liga Indonesia; memiliki legalitas, finansial, personel dan administrasi, infrastruktur, serta supporting (pembinaan usia muda).

Tapi, justru dalam prosesnya, Persebaya 1927 yang kemudian tak diakui oleh federasi. Persebaya 1927 dianggap membelot oleh PSSI karena bermain di IPL.

Rentetan peristiwa itu membuat penampilan Andik yang lincah tak cukup menjadi tiket ke Timnas. Disebut-sebut sih, Andi tak dipanggil Timnas karena terseret konflik dualisme PSSI itu.

Terpinggirkan. Terasing. Tidak dibutuhkan. Andik pun terluka.

"Situasinya tidak kondusif," begitu Andik bilang waktu itu. Alasan lain dikemukakan dia dengan bilang ingin merasakan suasana baru. 

Apapun alasan di balik keputusannya, Andik telah mengambil langkah tepat. Tak lagi terbelit masalah dengan dualisme klub, Andik juga menunjukkan performa yang makin sip di Liga Malaysia.

Saat sanksi PSSI dicabut dan Timnas kembali dibangun untuk menghadapi  Piala AFF 2016, Andik sedang hit bersama Selangor. Pelatih Timnas, Alfred Riedl pun memanggilnya.

Untuk Timnas, tak ada kata penolakan dalam kamus Andik.

Bukan hanya Andik, Ezra Walian mengambil sikap serupa. Pemain berdarah Belanda itu memutuskan naturalisasi agar bisa membela Timnas Indonesia. Tapi, tidak untuk bergabung di sebuah tim Liga 1.

Penolakan juga dituturkan pemain belia Sutan Diego Armando Zico. Dia tak memasukkan klub lokal sebagai prioritas untuk memulai debut karier profesionalnya.

Pemain yang menjadi topskorer kualifikasi Piala Asia U-16 2017 itu secara gamblang menilai bermain di Liga 1 bukanlah wadah yang tepat untuk mengembangkan potensinya. Bukan apa-apa, ada ketakutan yang menghantuinya saat berkaca pada pemain-pemain yangn sudah lebih dulu mencicipi liga itu.

“Saya ingin main di luar negeri karena biar kemampuan saya bisa lebih berkembang. Saya takutnya saya kayak yang sudah-sudah, mainnya jadi tidak berkembang kalau main di Indonesia," kata Sutan Zico, putra dari Oriyanto Jhosan, yang juga merupakan mantan pesepakbola Semen Padang itu.

Kolumnis Zen R.S. dalam pengantarnya di buku Menincintai Sepakbola Indonesia meski Kusut 'Kiash-Kisah dari Pinggir Lapangan' yang ditulis MIftakhul Faham Shah, tegas menyebut memilih untuk menghindari hubungan yang terlalu dekat dengan sepakbola Indonesia. Ya pemain. Ya pelakunya. Siapapun.

Dia memilih untuk hanya duduk di tribune selayaknya suporter sebuah klub sepakbola. Padahal, dia memiliki kemudahan akses untuk berinteraksi langsung dengan pemain dan pelaku sepakbola Indonesia.

"Saya tidak mau imajinasi dan dan kecintaan saya terhadap sepakbola Indonesia rusak oleh berbagai informasi yang mendetail dari tangan pertama."

Bukan hanya pemain dan kolumnis. Suporter Liga 1 pun tak sedikit yang memberi sinyal kemuakan terhadap Liga 1. Terlepas diacaknya siaran pertandingan-pertadningan Liga 1 dan Liga 2 di TVOne, ya.

Curahan hati suporter itu terangkum saat merespons fenomena wonderkid Indonesia yang tengah naik daun, Egy Maukana Vikri. Mereka tak ingin kecepatan, kelincahan dan akurasi ABg asal Medan, Egy, layu di Liga 1.

Masih ingatkan, kesalahan yang dibuat kiper Timnas, Kurnia Meiga Hermansah, yang berujung gol saat menghadapi Filipina pada laga kedua babak penyisihan Grup A AFF Suzuki Cup 2014?

Dalam laga tersebut, Meiga dengan sengaja menerima bola backpass yang dilepaskan pemain bertahan Indonesia. Wasit yang dengan jelas melihatnya, langsung saja memberikan hadiah tendangan bebas tidak langsung di dalam kotak penalti Indonesia. Tapi, Meiga masih bersikukuh tak melakukan kesalahan.

***

Mari tengok Liga domestik kita musim ini. Liga 1 bergulir bukan tanpa gaduh.

Penghapusan kompetisi ISL U-21 dan digantikan U-19. Para pemain U-23 dikarbit tampil di Liga 1 tapi dengan juga muncul pembatasan usia yang memunculkan para pemain senior dipaksa pensiun dini. Katanya sih, pemain-pemain gaek yang cepat-cepat pensiun itu bisa segera diasah sebagai pelatih. Stok pelatih kurang.

Tapi apa yang terjadi? Operator malah kongkalingkong dengan PSSI menggunting regulasi itu di tengah jalan.

Masalah KITAS dan IMTA yang semestinya tak jadi soal kembali muncul. Soal KITAS dan IMTA bahkan sampai menjadi perhatian media asing karena melibatkan bekas pemain Chelsea, Michael Essien.

Padahal PSSI memiliki pengalaman panjang mempekerjakan tenaga asing. Baik pemain, pelatih, ataupun wasit.

Juga perubahan jadwal pertandingan di tenngah kompetisi yang bukan dikarenakan force majeure. Jadwal lebaran yang sudah bisa diintip setahun sebelumnya lewat flier anak-anak yang suka traveling pada hari libur kejepit, yang pastinya bisa dengan mudah diintip di media sosial, malah tak diantisipasi.

Setelah sudah sangat dekat dengan ramadan, barulah operator ingat sulitnya mendapatkan tiket perjalanan mendekati lebaran. Bukan cuma tim-tim yang away ke kota-kota di Jawa, tapi tim Jawa yang away ke luar Jawa pun harus balik ke homebase masing-masing, bukan?

Soal jadwal ini juga bikin meringis sejumlah klub. Jadwal pertandingan yang disusun satu kali home dan satu kali away itu ada yang kelewat pendek satu sama lain. Padahal, bisa jadi sebuah tim harus menjalani laga tandang yang waktu tempuhnya cukup panjang.

Juga soal rasa aman. Lagi-lagi Andik yang bisa membandingkannya. Pemain kelahiran Jember, Jawa Timur itu menilai kualitas wasit di Malaysia jauh lebih baik.

"Meskipun saya orang asing, tapi ada perlindungan. Di sana wasit melindungi pemain. Jika ada yang melanggar, wasit langsung bertindak tegas," ucap Andik.

Gambaran paling anyar betapa mengerikannya kompetisi sepakbola Indonesia terjadi di Stadion Krakatau Steel pada Jumat (6/10/2017) saat PSS Sleman melawat ke markas Cilegon United dalam lanjutan Grup A Liga 2.

Fisioterapis PSS, Sigit Pramudya, dipukul oleh pemain Cilegon United di tengah-tengah pertandingan. Tak berhenti di situ, Sigit kembali mendapatkan pemukulan lagi saat berada di ruangan sebelum naik ke bus.

Juga munculnya tuntutan dari 15 klub peserta Liga 1. Di antaranya minta transparansi jumlah sponsor sampai soal kebijakan kompetisi usia muda.

Rasanya sudah cukup. Jangan sampai ada lagi pemain dan pelaku sepakbola yang terluka. Jangan muncul lagi alasan bermain di liga lain karena trauma.

Akan lebih menyenangkan bukan saat pemain Indonesia melanglang buana ke liga lain, yang lebih mapan tentunya, dengan alasan ingin mengembangkan karier.

Bukankah lebih menggembirakan saat mengetahui kalau hanya beberapa pemain Timnas Indonesia yang membela klub di liga domestik, sebagian besar bergabung di klub-klub kompetisi yang lebih oke. Seperti para pemain Timnas Islandia yang bikin geger di Piala Eropa tahun lalu itu.

PSSI dan operator dan klub yang dijalankan oleh orang yang sebenarnya itu-itu saja apakah tidak bosan mengulang persoalan-persoalan yang serupa. Bahkan perutpun hanya bisa menampung makanan dengan kapasitas tertentu. Tahu sendiri kan akibatnya kalau kekenyangan?

Kenapa PSSI dan operator serta para pemilik klub itu kesulitan untuk membangun hal-hal yang membahagiakan di sepakbola. Bukankah Kurniawan Dwi Yulianto pernah bilang "sepakbola itu menyenangkan". 

=====

Jakarta, 10 Oktober 2017

Jumat, 10 Maret 2017

Lintasan Baru untuk M. Fadli: Balap Motor Vs Balap Sepeda

M. Fadli alias Muhammad Fadli Immamudin tak benar-benar meninggalkan sirkuit balap motor. Dia sekaligus menekuni balap sepeda. 

M. Fadli berlatih di Sirkuit Sentul (Foto: Grandyos Zafna/detikSport)

Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat pagi ini cerah. Tak ada hujan. Tak ada mendung.

Kami--saya dan Grandyos Zafna--menyambangi M. Fadli yang tengah berlatih di sirkuit yang pernah menggelar Formula 3 itu. Namun kali ini M. Fadli bukan berlatih balap motor. Dia nggowes di atas sepeda road race seharga Rp 140 jutaan.

M. Fadli bersiap-siap untuk turun dalam Kejuaraan Balap Sepeda Para-Cycling di Bahrain akhir Februari 2017, ajang balapan untuk atlet difabel.

Ya, Sirkuit Sentul adalah 'rumah' M. Fadli. Dia atlet balap motor yang menyatakan pensiun usai menjalani amputasi kaki. Setelah itu dia pindah cabang olahraga, menjadi pebalap sepeda difabel.

Baca Juga: Melihat Kontrasnya Semangat Membara M. Fadli vs Kemuraman Sirkuit Sentul

***
 M. Fadli dengan sepeda dari sponsor (Foto: Grandyos Zafna/detikSport)

M. Fadli menatap Garmin, monitor nadi dan GPS, yang menempel di pergelangan tangan kanannya. Dia meminta saya turut melongok angka yang tertera di atasnya.

Di sana muncul catatan 2:04 dengan ukuran besar dan yang lebih kecil kecil tertera di bawahnya 50 km. Artinya, Fadli baru saja menempuh jarak 50 kilometer dalam waktu dua jam dan empat menit.

Di saat bersamaan arloji digital miliknya menunjukkan angka 08.05. Kesimpulannya, Fadli sudah memulai gowes sekitar pukul 06.00.

Cuaca pada Kamis (17/2/2017) di Bogor memang tengah mendukung. Matahari bersinar lembut dengan sesekali diselingi mendung. Berbeda dengan sehari sebelumnya yang diterpa hujan deras sejak dinihari. Namun, Fadli juga ditantang sebuah fakta lainnya.

“Ini hasil yang lumayan, gowes sendirian selama dua jam dan jarak 50 kilometer,” kata Fadli pagi itu.

Ya, pagi itu Fadli harus berlatih sendirian di Sirkuit Sentul. Pelatihnya, Puspita Mustika Adya, tak mendampingi dia.

Eh, rekan-rekan yang biasa gowes bareng dalam komunitas Kelapa Gading Bikers Community (KGB) juga absen. Mereka memilih untuk bersepeda ke Puncak Bogor.

M. Fadli tetap berlatih di sirkuit karena dia akan mengajar di sekolah racing miliknya, 43 Racing School.

Setelah melayani foto untuk keperluan dokumentasi Fadli bergegas minta izin untuk pindah tempat. Dia minta ngobrol dilanjutkan ke Sirkuit Karting Sentul yang tak jauh dari sirkuit ini.

“Saya bersepeda ke sana. Ketemu di sana, ya,” ungkap Fadli.

Kami yang mengikuti di belakang Fadli melihat dia sampai beberapa kali berhenti di tengah jalan. Dia membalas sapaan dari pegawai Sirkuit Sentul yang memang sudah jadi tempat bermainnya.

Setibanya di Sirkuit Karting, anak asuh Fadli di 43 Racing School telah menunggu. Mereka sih tak diam-diam saja. Empat rider muda siswa sekolah balap motor milik Fadli itu tengah melakukan pendinginan usai berlatih fisik.

Mereka didampingi pelatih fisik sekolah itu, Gandung Darmoko, juga satu pebalap Honda yang tengah naik daun, Andi Gilang. Sebelum bekerja sama di sekolah balap itu, Gandung telah mendampingi Fadli saat masih membalap.

Tak membuang waktu, Fadli meyenderkan sepedanya dan bergabung untuk turut melakukan pendinginan. Hanya sebentar istirahat, Fadli segera mengambil alih ‘ruang kelas’ yang ada di tepi sirkuit.

Dia memberikan waktu kepada para rider untuk sarapan sembari memberi masukan agar sarapan dilakukan sepraktis mungkin agar tak buang-buang waktu belajar dan latihan.

Aktivitas berlanjut ke briefing awal sebelum rider-rider muda itu mengenakan wearpack dan menjajal motor 600cc.

Dalam kelas balap motor Fadli kali ini, ada empat pebalap yang bergabung. Mereka berasal dari berbagai daerah dengan usia yang berbeda. Paling muda 12 tahun, yang paling senior 19 tahun.

“Keadaan kamu bagaimana? Dari catatan ini kamu baru saja tifus. Kok bisa,” kata Fadli. Dia kemudian membacakan detail catatan kesehatan ketiga rider lainnya.

Setelah itu, Fadli mulai membeberkan evaluasi latihan masing-masing siswanya sehari sebelumnya. Ya, satu-satu dibeberkannya kekurangan dan apa saja yang sudah oke.

“Dalam kelas ini saya memberikan dasar-dasar kepada mereka. Soal suspensi, tekanan angin ban, juga soal setting elektonik motor masing-masing rider itu,” tutur bapak satu anak tersebut.

Latihan berlanjut ke materi praktik. Namun sayang rencana tak bisa dijalankan. Hujan turun begitu deras. Padahal yang tersedia ban kering.

Para rider muda itu pun punya acara bebas. Bercanda dengan sesama rekannya, juga dengan Fadli.

Mereka bicara segala macam. Bukan melulu tentang balap motor. Obrolan bahkan sampai soal hafalan surat-surat Al Quran dan kebiasaan sholat Subuh mereka.

Saat azan Dhuhur berkumandang, Fadli segera mengajak anak asuhnya untuk sholat berjamaah.

Setelah dua jam bergulir, latihan praktik bisa dijalankan. Wearpack kembali dikenakan. Dua mekanik yang bertugas menyalakan motor. Area sirkuit pun kian menjadi bising dengan suara motor-motor besar itu.

Empat rider itu naik ke atas motor, sedangkan Fadli menyiapkan papan kecil untuk alas menulis dan lembar kertas sebagai alat untuk mencatat proses latihan. Fadli mengangkat kursi dan berjalan ke tepi lintasan.

“Biasanya saya pindah kje beberapa titik untuk mengamati mereka,” ucap dia.

Setelah menghabiskan waktu 30 menit para rider menepi. Motor diparkir lagi. Di saat bersamaan makan siang yang dipesan datang.

Fadli meminta anak asuhnya untuk bergegas makan siang, sebab kelas balap akan berlanjut lagi.

“Sore nanti saya juga masih lanjut latihan. Paling di rumah nge-roll sepeda di rumah,” kata Fadli.

Selain itu, dia juga bakal bersenang-senang dengan Muhammad Ali Immamudin, putra semata wayangnya dari pernikahan dengan Diah Asri Astyavi. Kediamannya juga ramai dengan kehadiran empat rider yang tinggal di asrama sebelah rumah utama mereka.



====
Foto-foto: Grandyos Zafna/detikSport

Kamis, 23 Februari 2017

Kontrasnya Semangat Membara M. Fadli dan Kemuraman Sirkuit Sentul

Sirkuit Sentul yang berada di Bogor ini cukup mudah dijangkau dari Jakarta. Menyambangi dua sirkuit sekaligus, saya berkesempatan ngobrol dengan M. Fadli yang kini jadi pebalap sepeda. 

M. Fadli berlatih di Sirkuit Sentul (Foto: Grandyos/detikcom)

Kamis (16/2/2017) pagi, Jakarta masih menyisakan hujan semalam. Namun, saya bersikukuh rencana ke Sirkuit Sentul tak boleh batal.

Pertama, saya sudah kadung janjian dengan M. Fadli alias Muhammad Fadli Immamudin untuk berbincang-bincang soal persiapan ke Kejuaraan Asia Balap Sepeda 2017. Kedua, rekan saya Grandyos juga telah bersedia menemani buat datang ke sana.

Mungkin karena hujan pula, pesanan taksi online menjadi tak mudah. Tiga operator berbeda saya coba, tapi hampir semua bilang sorry.

Barulah setelah sekitar 30 menit mencoba, gocar bersedia menerima pesanan. Tapi rupanya dia masih cukup jauh dari lokasi saya di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Mobil masih berada di area Pasar Minggu, sekitar 10 menit perjalanan ke tempat saya memesan.

Barulah pukul 06.40 mobil tiba dan mengangkut saya. Grandy bilang dia menunggu di McDonald Cibubur.

Beruntung jalanan lancar. Sekitar 30 menit kami sampai di Sirkuit Sentul. Double beruntung karena matahari di kawasan Sentul tengah berani.

M. Fadli di Sirkuit Karting Sentul, Bogor di sela-sela sebagai instruktur 43 Racing School

Soal ini saya sempat waswas karena teman-teman lain yang melongok Sentul sehari sebelumnya tak kebagian panas. "Hujan deras," kata Aprelia Wulansari. Rombongan mereka pun hanya sempat mengamati M. faldi berlarih rolling di teras rumah dia di Sentul City.

Tapi saya lupa menanyakan Fadli latihan di sirkuit mana? Sirkuit besar atau Sirkuit Karting? Untuk mengontaknya jelas tak bakal ada jawaban. Sebab, dia pasti telah memulai gowes sejak pagi seperti jadwal-jadwal sebelumnya.

Sementara, pelatih M. Fadli dalam persiapan ke Kejuaraan Asia 2017, Puspita Mustika Adya, tak mendampingi. Dia tengah melatih di tempat lain.

Satu-satunya jalan yakni bertanya kepada satpam di gerbang masuk Sirkuit Sentul. Satpam yang berjaga menjawab M. Fadli biasa latihan di Sirkuit Karting. Saya juga haqul yakin M. Fadli ada di sana. Sebab, sekolah balap 43 Racing School miliknya memang bermarkas di sana. Oke, kami menuju Sirkuit kecil itu.

Sampai di sana sirkuit masih sepi. Beberapa orang yang tengah utak-atik motor bilang kalau M. Fadli biasanya tiba pukul 08.30.

Kami pun berasumsi M. Fadli pasti latihan di sirkuit besar yang jaraknya sekitar 200 meter dari Sirkuit Karting ini.

kami pun balik badan. Kami kembali menuju Sirkuit besar. Di pintu masuk kami dicegar satpam. dia menanyakan tujuan sekaligus meminta bayaran tiket masuk Rp 10 ribu.

Kami masih meneruskan perjalanan ke arah paddock. Sesampainya di sana, dua petugas keamanan kembali mencegat kami dan menanyakan keperluan. Kali ini duo satpam lebih ramah.

M. Fadli dengan sepeda barunya dalam persiapan ke Kejuaraan Asia Para-Cycling di Bahrain, Februari 2017 (Foto: Gradyos Zafna)

Mereka segera mengarahkan kami ke pinggir lintasan. "Nanti Fadli lewat situ," kata salah satunya.

Sampai di pinggir lintasan, benar, tak lama kemudian M. Fadli lewat. Dia melambaikan jemarinya.

Gayanya sudah mirip pebalap profesional. Berpakaian serba ketat plus helm dan sepatu sepeda, dia juga menaiki sepeda road race buatan Prancis Look dari Technobike.

Selain itu, satu hal sangat menarik juga terlihat antara M. Fadli dan Sirkuit Sentul ini. Ada sebuah fakta yang amat kontras antara keduanya. Memang pagi ini saya belum berbincang cukup banyak dengan dia. Namun, saya sudah mengawali ketika ngobrol via telepon beberapa hari lalu.

Lewat telepon itu, M. Fadli menunjukkan dirinya sebagai seorang yang pantas menjadi inspirasi. Semangatnya tak menurun meski dia kehilangan satu kaki. Ya, M. Fadli harus merelakan kaki kiri di baah lututnya diamputasi. Kaki itu remuk dalam kecelakaan saat melakukan selebrasi di Sirkuit Sentul ini pada 2015.

Beruntung obrolan pertama itu lewat telepon. Kalau tidak saya pasti menuai malu. Saya dibuat terharu, salut dan perasaan lain yang mewakili kekaguman sepanjang obrolan.

Semangat pantang menyerah M. Fadli begitu berkebalikan 180 derajat dengan muramnya Sirkuit Sentul ini. Apalagi dengan kebaruan teknologi sepeda Look yang dipakai M. Fadli serta asesoris yang dikenakannya. Garmin, arloji digital, dan telepon genggam dengan apps yang mampu merekam setiap kayuhannya.

Dengan satu kaki itu, M. Fadli tak meninggalkan adu balap. Hanya saja dia tampil lewat cara yang berbeda. M. Fadli menekuni cabang paracycling alias balap sepeda untuk difabel.

"Sama-sama saja kok, cuma pindah cabang olahraga. Saya tidak lantas berhenti melakukan apapun setelah peristiwa itu," kata M. Fadli.

Bagaimana nasib Sirkuit Sentul? Sirkuit Sentul diam-diam saja, bingung mau jadi apa.

Sebuah angin segar sempat berembus kala muncul wacana Indonesia bakal jadi tuan rumah MotoGP 2018. Si pengelola Tinton Suprapto sempat optimistis balapan itu akan digelar di Sirkuit Sentul. Artinya, Sirkuit Sentul berpotensi bakal direnovasi, baik lintasan maupun fasilitas pendukungnya. Faktor kebaruan akan ada pada sirkuit yang selesai dibangun pada 1994 itu.

Padahal menilik usia, Sirkuit Sentul masih lebih muda ketimbang M. Fadli. Bulan Juli tahun ini M. Fadli akan genap berusia 32 tahun. Sementara Sirkuit Sentul semestinya tengah dalam masa puber yang ingin menarik perhatian lawan jenis.

Atau justru karena usia itu, M. Fadli menjadi lebih bijak dalam menentukan sikap. Sementara Sirkuit Sentul adalah ABG yang memilih untuk menyerah kepada uluran tangan orang 'gila' yang entah kapan menghampirinya.




Sony Dwi Kuncoro Menaruh Kebanggaan dan Masa Depan di GOR Enam Lapangan

Sony Dwi Kuncoro menggenggam harapan dengan memiliki Gedung Olahraga (GOR) miliknya sendiri. Gedung itu sebagai simbol kebanggaan sekaligus tempat dia menitipkan tabungan masa depan.

Kabar menggembirakan dari Surabaya pada Jumat (10/2/2017) menjadi perbincangan di antara mantan-mantan pemain bulutangkis di Jakarta. Pujian diberikan kepada Sony.

"Hebat sekali Sony berhasil membangun GOR dengan uangnya sendiri. Tak banyak yang bisa melakukannya." Begitulah salah satu kalimat yang meluncur dalam perbincangan itu.

Ya, pada tanggal 10 Februari itu Sony meresmikan GOR miliknya. GOR yang sudah diimpikan sejak kecil itu diberi nama Sony Dwi Kuncoro Badminton Hall. Memang agar sangat identik dengan dirinya.

"Ini memang sudah saya siapkan sejak lama. Saya tidak mau sibukkan orang lain, kalau memang ada sponsor ayo tapi selama saya masih siap bikin, saya kerjakan semampunya," kata Sony.

Sony memang membangun GOR itu dari koceknya sendiri. Sedikit demi sedikit Sony mencicil semampunya. Mulai dari membeli tanah kemudian membangun gedungnya hingga diresmikan pada pertengahan bulan ini.

Rencana itu bahkan sudah mulai dibangun ketika dia bisa mendapatkan penghasilan yang lebih konsisten. Yakni, sejak Sony masuk pelatnas di tahun 2001. Setahun kemudian dia pun mulai bisa mereka-reka rencana mendirikan GOR di Surabaya, tanah kelahiran dia.

Barulah di tahun 2010 Sony mulai mengawali mengonkritkan rencana itu. Dibantu ibu mertua, peraih medali perunggu Olimpaide 2004 Athena itu berburu lokasi. Mereka pun mendapatkan tanah seluas 3 ribu meter persegi di Jalan Medokan Asri Tengah VI No. 1, Rungkut, tidak jauh dari lokasi kampus UPN Surabaya. Waktu itu lokasi tersebut belum jadi lokasi incaran. Jauh dari mana-mana.

Sudah punya tanah, Sony tak bisa bersegera membangun gedungnya. Dia masih tinggal di Jakarta karena masih tercatat sebagai pemain pelatnas. Lagipula, Sony beranggapan asal punya tanah lebih dulu urusan membangun gedung bakal lebih mudah.

Barulah di tahun 2012 Sony mulai merancang bangunannya dengan bantuan arsitek. Juga berbelanja material.

Namun, di luar rencana Sony malah terdegradasi dari pelatnas pada tahun 2014. Perubahan status itu otomatis berpengaruh terhadap kantung uang Sony. Pembangunan pun tersendat. Suami Gading Safitri itu menghentikan pembangunan GOR.

"Saya off dulu untuk mengurusi gedung, ambil nafas dulu. Perbaiki mental saya yang drop dulu," ucap Sony.

Setelah mampu menata mental dan keuangan sekaligus, Sony mulai mengerjakan pembangunan gedung itu lagi. Semangatnya untuk segera merampungkan gedung itu semakin membara justru karena dia berada di luar pelatnas.

Putra pasangan putra pasangan Mochammad Sumadji dan Asmiati itu berkaca kepada pengalamannya sendiri. Dia kesulitan mendapatkan lapangan latihan. Jam latihan terbatas karena harus menyewa dan berbagi dengan pengguna lainnya.

Tak hanya itu. Suara sumbang juga turut mendongkrak motivasi Sony untuk segera menyelesaikan gedung itu. "Ada yang bilang kok lama bangun GOR, enggak jadi-jadi," ungkap bapak dua anak itu.

Di saat bersamaan, Sony mulai dapat sponsor. Dia juga memutuskan untuk menjual aset yang dimiliki. Ya motor koleksinya, juga rumah di Cipayung yang persis bersebelahan dengan pelatnas PBSI. Sebuah insentif cukup besar didapatkan ketika secara mengejutkan dia menjadi juara Singapura Terbuka 2015.

"Di luar dugaan GOR ini bisa benar-benar berdiri!" ungkap Sony.

Dia juga tak menyangka GOR itu tak hanya memiliki enam lapangan berkarpet, tapi dilengkapi fasilitas lainnya. Seperti, kafetaria, toko perlatan, dan fasilitas gym, serta toko peralatan bulutangkis. Istimewanya lagi, kawasan Medokan Asri itu kini menjadi area strategis dan makin ramai.

Perhelatan Djarum Superliga Badminton di DBL Arena mulai 19-26 Februari juga menjadi momentum tersendiri bagi GOR milik Sony. Tim-tim kontestan yang membawa pemain top macam Lee Yong Dae, Markis Kido, dll. berlatih di sana.

"Banyak yang sudah latihan di sini. Kapan lagi GOR di Surabaya disinggahi pemain-pemain top. Mungkin kalau GOR di Jakarta wajar, tapi ini di Surabaya," tutur Sony.

Sony mengakui kalau menyangkut ideal atau tidaknya sebuah gedung bulutangkis, GOR tersebut masih memerlukan polesan di sana-sini. Namun, bagaimanapun Sony merasa sudah berhasil menitipkan kebanggaan dia sebagai pemain bulutangkis yang pernah menjadi tumpuan Indonesia di masa jayanya. Dia sekaligus menitipkan etos kerja ayahnya, Sumadji, yang rela melepaskan pekerjaannya untuk melatih bulutangkis anak-anak di sekitar rumahnya.

Sony dengan usia yang sudah 32 tahun, dan akan bertambah pada 7 Juli 2017 ini, sekaligus memanfaatkan GOR itu sebagai investasi masa depannya. Ya, wajar dia mulai memikirkan kehidupan setelah tak lagi jadi atlet. GOR itu dianggapnya sebagai sebuah tabungan untuk dirinya dan keluarga yang dibangun bersama Gading.

Selain itu, Sony berharap keberadaan gelanggang berisi enam lapangan itu bisa menjadi sarana penyalur hobi para pecinta bulutangkis, sekaligus membina anak-anak di lingkungan sekitar.

"Itu kan buat hari tua saya, Mas ya. Jadi biar saya ada simpananlah buat hari tua nanti. Terus yang kedua, memfasilitasi orang-orang yang hobi bulutangkis biar bisa sewa di sana. Terakhirnya ya untuk pembinaan," ujar Sony kemudian tersenyum.

****

Tayang di detikSport, Kamis (22/2/2017)

Rabu, 01 Februari 2017

Beda Cara Merayakan Imlek Oleh Vita Marissa & Liliyana Natsir

Liliyana Natsir dan Vita Marissa mempunyai cara berbeda untuk merayakan tahun baru Imlek. Seperti apa?
 

Sabtu (28/1/2017) akan menjadi hari penting bagi masyarakat keturunan Tionghoa. Mereka merayakan tahun baru sekaligus menitipkan harapan di tahun Ayam Api. Tak terkecuali bagi atlet-atlet bulutangkis berketurunan Tionghoa, seperti Liliyana dan Vita.

Liliyana sih tak memiliki acara khusus untuk merayakan Imlek. Sebab, keluarganya tinggal cukup jauh drai Jakarta. Orang tua Liliyana menetap di Manado.

"Sebenarnya saya tidak terlalu merayakan banget sih, paling mengucapkan selamat saja. Jadi untuk merayakan seperti bagaimana sih tidak," kata Liliyana kepada detikSport.

"Memang ada sebagian keluarga yang merayakan. Tetapi kalau di keluarga saya ya enggak terlalu karena kami memang tidak pernah ada acara khusus setiap imlek.

"Biasanya kumpul dan makan bersama tetapi untuk sekarang kan posisinya orang tua di Manado. Saya di Jakarta, jadi merayakan masing-masing saja," ungkap peraih medali emas Olimpiade 2016 tersebut.

Berbeda dengan Liliyana, mantan pemain bulutangkis Vita, yang saat ini menjadi asisten pelatih ganda campuran di pelatnas Cipayung justru menjadikan Imlek sebagai momen yang paling ditunggu-tunggu.

Menurut Vita, Imlek adalah momen untuk bisa bersua dengan keluarga setelah aktifitas yang menguras sepanjang tahun lalu.

"Merayakan dong. Tapi paling selain ucapkan selamat, ya kumpul-kumpul saja sama papah, keponakan dan ipar. Kami makan bersama. Tidak ada persiapan khusus karena setiap tahun kan kebiasaannya sama," kata Vita.

Foto: Rachman Haryanto/detikSport

Di momen Imlek itulah Vita senang dengan statusnya yang belum menikah. Dia bisa menerima angpao dari sanak saudaranya. Sesuai tradisi masyarakat Tionghoa, pemberian angpao menjadi sebuah budaya yang dilakukan saat perayaan Imlek. Khususnya, bagi anak-anak atau pemuda pemudi yang belum menikah.

"Masih.. masih.. terkadang malu juga sih terima. Makanya habis terima gitu biasanya saya langsung kabur," ungkap Vita kemudian tertawa.

Di lain sisi, Vita juga senang karena dibandingkan zaman dulu, perayaan imlek tahun-tahun ini lebih terasa kental suasana imleknya. Ia pun mengapresiasi perubahan tersebut.

"Saat zaman kapan gitu kan merayakan imlek tidak terlalu terbuka, tapi sekarang imlek boleh dirayakan, jadi di mal-mal lebih terasa saja suasananya," pungkas dia.

Glenn Saat Imlek: Kumpul dan Makan Bareng Keluarga

Layaknya keturunan Tionghoa lainnya yang merayakan Imlek, begitu pula perenang nasional Glenn Victor Sutanto. Ada satu hal yang membuat Glenn rindu perayaan tahun baru China. Apa itu?


Sudah menjadi tradisi dalam keluarga Glenn untuk berkumpul saat Imlek. Makanan khas keluarga pun selalu hadir dalam perayaan itu.

"Kalau imlek biasanya makan malam saja bersama keluarga. Lalu hari H-nya kumpul bareng sama saudara," kata Glenn.

"Kumpulnya di rumah nenek dan dilakukan dua kali, jadi hari pertama bersama saudara dekat dari mamah, esoknya kumpul sama keluarga papah dan itu wajib kumpul semua setiap perayaan imlek," ujar dia lagi.

Glenn mengatakan, meski kumpul keluarga wajib dilakukan, tetapi untuk tradisi lain seperti mengenakan baju berwarna merah atau mengundang barongsai saat ini tidak dilakukan lagi seiring perubahan zaman.

"Dulu hal-hal seperti itu memang wajib. Tapi sekarang sudah bebas karena yang penting kumpulnya," kata dia.

Glenn juga mengungkapkan imlek menjadi hal yang paling dirindukan karena menjadi ajang temu keluarga dan saudara.

"Soalnya ada beberapa saudara yang bisa ketemu saat Imlek saja. Selain itu tentu makanannya. Saya itu paling suka sate shanghai-nya," kata Glenn.

Di luar keceriaan bersama keluarga, Glenn menyimpan harapan tersendiri untuk kehidupannya di tahun ayam api ini.

"Semoga bisnis dan karier renang saya terus meningkat," harapnya.