Tampilkan postingan dengan label liliyana natsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liliyana natsir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2019

Ode Untuk Liliyana Natsir Si Pengubah Zaman



Liliyana Natsir pensiun dari bulutangkis meninggalkan sederet prestasi dan mengerek gengsi ganda campuran. Dia akan dikenang sebagai pengubah zaman.

Liliyana pamitan lewat pesta kecil menjelang final Indonesia Masters 2019 kemarin. Dia mengucapkan selamat tinggal kepada bulutangkis.

"24 tahun saya berkarier di bulutangkis. Dan hari ini, Minggu, 27 Januari 2019, saya menyatakan pensiun menjadi atlet profesional bulutangkis," ujar Liliyana sembari menyeka air mata.

Suporter yang memenuhi tribune baper. Teriakan 'I love you Butet' bersahutan dengan tepuk tangan.

Mereka terharu, sedih, namun bukan karena luka. Mereka baper kehilangan satu pemain legendaris, panutan, pekerja keras, dan tak mau kalah.

Fans yang mengikuti lewat kabar di media dan media sosial bersatu lewat tagar #ThankYouButet. Nyaris seharian hastag itu menjadi topik paling ramai dibicarakan.

Rekan dan rival di bulutangkis juga menyampaikan kesan mendalam kepada Liliyana lewat Instagram, Twitter, dan Facebook. Mereka memberikan pujian, menyampaikan rasa syukur bisa berpasangan atau berduel dengan salah satu pebulutangkis terhebat pada zamannya.
"24 tahun saya berkarier di bulutangkis. Dan hari ini, Minggu, 27 Januari 2019, saya menyatakan pensiun menjadi atlet profesional bulutangkis,
Pelatih pelatnas PBSI ganda campuran, Richard Mainaky, yang amat mengenal Liliyana dan kondisi ganda campuran, secara tersurat menyatakan kehilangan. Dia masih berandai-andai Butet, sapaan karib Liliyana, pensiun dua taun lagi, bukan saat ini.

Siapa yang tidak khawatir jika dalam 13 tahun terakhir ini ganda campuran yang mapan tau-tau ditinggal ratunya.

Ya, 13 tahun Indonesia bertumpu kepada Liliyana. Itu tanpa memperhitungkan periode junior. Titik nol itu dimulai pada 2005, saat Liliyana menjadi juara dunia bersama Nova Widianto di Anaheim, Amerika Serikat.

Waktu itu, usia Liliyana masih 19 tahun. Dia menjadi pengganti Vita Marissa. Tidak sampai setahun dipasangkan, duet Nova dan Liliyana menggegerkan dunia. Mereka menjadi juara dunia.

Titel itu melengkapi gelar juara dari nomor paling bergengsi, tunggal putra, yang diraih lewat Taufik Hidayat. Indonesia pun pulang dengan dua gelar juara dunia.

Raihan gelar juara dunia itu kian istimewa. Jika Taufik melanjutkan sukses Hendrawan, Hariyanto Arbi, Joko Supriyanto, Icuk Sugiarto, dan Rudy Hartono, Nova/Liliyana mengakhiri paceklik ganda campuran sejak 1980 oleh Christian Hadinata dan Imelda Wiguna.

Sukses Nova dan Liliyana juga memiliki makna lain. Gelar juara dunia itu sekaligus membuat sejajar  nomor ganda campuran dengan tunggal putra. Bahkan, sejak itu, ganda campuran lah yang menyelamatkan muka Indonesia di kancah internasional. Berkali-kali.

Ya, Nova dan Liliyana membuktikan mereka bukan One Hit Wonder. Sekali juara sudah. Mereka konsisten melanjutkan hasil-hasil sip di turnamen terbuka, menjadi tumpuan Indonesia di ajang internasional.

Malah, ketika sektor tunggal mulai sulit menjadi juara dunia, setelah penampilan Taufik naik turun dan belum memiliki pengganti, Nova/Liliyana stabil di empat besar. Mereka berdampingan dengan sektor ganda putra yang juga telah mapan sejak lama.


Pamor ganda campuran kembali terdongkrak saat Nova/Butet meraih predikat juara lagi di Kejuaraan Dunia 2017 di Kuala Lumpur. Di ajang itu, Indonesia juga meraih gelar juara dari nomor ganda putra lewat Markis Kido/Hendra Setiawan.

Nomor ganda campuran pun kian mendapatkan tempat tersendiri di hati fans bulutangkis Tanah Air. Butet mampu membuktikan jika ganda campuran bukan sektor sampingan. Justru lewat nomor itu, bendera Indonesia kerap dikerek di tiang tertinggi dan lagu Indonesia dikumandangkan.

"Perhatian dan penghargaan untuk ganda campuran berbeda dulu. Zaman sudah berbeda," kata Minarti Timur, mantan pemain ganda campuran nasional.

Bukan hanya bersama Nova, Liliyana juga cemerlang bersama Tontowi. Malah, dia semakin matang dan berbahaya sejak dipisah dengan Nova menjelang Asian Games 2010 Guangzho.

Dicoba-coba dengan beberapa pemain putra, Liliyana paling klop dengan Tontowi. Konsisten di super series, mereka kemudian naik panggung tertinggi pada Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2013 di Guangzhou.

Predikat juara itu diperoleh setelah di tahun sebelumnya mereka menjadi juara All England dan back to back pada 2013. Satu pesta lain dicatatkan Owi/Liliyana di All England 2014. Mereka mencatatkan hat-trick di turnamen bulutangkis tertua di dunia itu.

Tiga gelar juara dunia dan tiga dari All England tak membuat Liliyana berhenti. Satu misi terbesar sebagai seorang atlet belum diraihnya. Dia berambisi untuk meraih emas olimpiade.

Satu medali memang sudah diraihnya dari pesta olahraga terakbar sejagat itu. Bersama Nova, Liliyana meraih perak Olimpiade 2008 Beijing. Mereka kandas di tangan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung di babak final.

Kesempatan untuk mendapatkan emas datang lagi pada Olimpiade 2012 London. Tapi Liliyana tak berhasil meraihnya. Bersama Tontowi, LIliyana kandas di semifinal.

Beban Tontowi dan Liliyana cukup berat memang. Mereka tak hanya ingin menuntaskan ambisi pribadi, namun harus menebus hasrat ganda campuran pelatnas sekaligus misi bangsa sebagai penjaga tradisi emas olimpiade. Ya, ganda campuran memiliki pekerjaan rumah untuk meraih emas olimpiade setelah konsisten di turnamen-turnamen rutin.

Ambisi itu membuat pasangan itu sempat tak akur. Hasil naik turun dalam periode kualifikasi merenggangkan hubungan mereka. Tensi menurun dengan campur tangan pelatih dan psikologi.

Saat tiba waktu 'berperang; di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, mereka bisa betul-betul ganas. Emas pun diraih.

Bersama Tontowi, Liliyana berhasil menuntaskan hasrat Indonesia, juga Richard, dan dirinya sendiri. Berjarak 11 tahun dari gelar juara dunia di Anaheim.

Lawannya sudah berganti. Sempat satu lapangan dengan Zhang Yawen, Liliyana kemudian berhadap-hadapan dengan Gao Ling, Yu Yang, dan Zhao Yunlei hingga Olimpiade Rio itu.

Makanya, tak mengherankan jika Liliyana nyaris berhenti dari bulutangkis tepat setelah Olimpiade Rio itu. Richard dan Owi, sapaan karib Tontowi, keberatan. Dua tahun lagi kata mereka. Liliyana diharapkan bermain di Asian Games 2018. Ajang itu bukan Asian Games biasa karena Indonesia menjadi tuan rumah.

Liliyana manut. Dia batal pensiun. Tapi, dengan menegaskan dia cuma memiliki waktu dua tahun lagi. Tak ada toleransi lagi setelah itu.

Liliyana pun melanjutkan duet dengan Tontowi. Kali ini, mereka lebih selektif memilih turnamen. Sementara itu, Yunlei, musuh bebuyutannya dari China pensiun. Dia diganti oleh Huang Yaqiong, 24 tahun, yang berpasangan dengan pemain seumuran Shesar Hiren Rhustavito, Zheng Siwei (21 Tahun). Yaqiong itu kakinya kuat, gerakannya lincah, defense-nya seperti tembok milik negara dia. Sulit ditembus.

Tapi persaingan dengan pemain muda tak membuat Liliyana mati kutu. Bersama Owi, dia berhasil menambah satu lagi gelar juara dunia. Liliyana juga membuat rekor pribadi, menjadi pemain putri dengan gelar juara terbanyak (empat kali). Liliyana sekaligus terdaftar sebagai pemain paling sukses dari kategori ganda campuran sepanjang sejarah kejuaraan dunia.

Setahun kemudian, tugasnya seharusnya selesai. Liliyana tampil di Asian Games 2018 dan menyumbangkan medali perunggu.

Sejak itu, publik tinggal menunggu waktu. Dua tahun yang diberikan tinggal sebentar lagi. Dan momen itu betul-betul tiba di Indonesia Masters kemarin. Rela atau tidak rela.

"Sebenarnya (pensiunnya Liliyana Natsir) sangat disayangkan. Dunia akan kehilangan pasangan terbaik". Kalimat itu diucapkan pemain putra ganda campuran terbaik sejagat saat ini," Zheng Siwei.

Betul, bukan hanya Siwei yang kehilangan. Tapi, pecinta bulutangkis juga tak rela Lilliyana menyudahi kariernya. Satu medali emas dan satu perak olimpiade, empat gelar juara dunia, tiga gelar juara BWF World Tour, 23 gelar juara, dan 10 gelar juara BWF Gold Grand Prix menjadi warisan Liliyana di olahraga tepok bulu.

Terima kasih Liliyana sudah menandai zaman dengan berbagai gelar juara. Terima kasih Butet sudah mengerek pamor nomor ganda campuran. Terima kasih Butet telah mengajarkan kepada kami untuk tidak mudah menyerah.

Rabu, 01 Februari 2017

Beda Cara Merayakan Imlek Oleh Vita Marissa & Liliyana Natsir

Liliyana Natsir dan Vita Marissa mempunyai cara berbeda untuk merayakan tahun baru Imlek. Seperti apa?
 

Sabtu (28/1/2017) akan menjadi hari penting bagi masyarakat keturunan Tionghoa. Mereka merayakan tahun baru sekaligus menitipkan harapan di tahun Ayam Api. Tak terkecuali bagi atlet-atlet bulutangkis berketurunan Tionghoa, seperti Liliyana dan Vita.

Liliyana sih tak memiliki acara khusus untuk merayakan Imlek. Sebab, keluarganya tinggal cukup jauh drai Jakarta. Orang tua Liliyana menetap di Manado.

"Sebenarnya saya tidak terlalu merayakan banget sih, paling mengucapkan selamat saja. Jadi untuk merayakan seperti bagaimana sih tidak," kata Liliyana kepada detikSport.

"Memang ada sebagian keluarga yang merayakan. Tetapi kalau di keluarga saya ya enggak terlalu karena kami memang tidak pernah ada acara khusus setiap imlek.

"Biasanya kumpul dan makan bersama tetapi untuk sekarang kan posisinya orang tua di Manado. Saya di Jakarta, jadi merayakan masing-masing saja," ungkap peraih medali emas Olimpiade 2016 tersebut.

Berbeda dengan Liliyana, mantan pemain bulutangkis Vita, yang saat ini menjadi asisten pelatih ganda campuran di pelatnas Cipayung justru menjadikan Imlek sebagai momen yang paling ditunggu-tunggu.

Menurut Vita, Imlek adalah momen untuk bisa bersua dengan keluarga setelah aktifitas yang menguras sepanjang tahun lalu.

"Merayakan dong. Tapi paling selain ucapkan selamat, ya kumpul-kumpul saja sama papah, keponakan dan ipar. Kami makan bersama. Tidak ada persiapan khusus karena setiap tahun kan kebiasaannya sama," kata Vita.

Foto: Rachman Haryanto/detikSport

Di momen Imlek itulah Vita senang dengan statusnya yang belum menikah. Dia bisa menerima angpao dari sanak saudaranya. Sesuai tradisi masyarakat Tionghoa, pemberian angpao menjadi sebuah budaya yang dilakukan saat perayaan Imlek. Khususnya, bagi anak-anak atau pemuda pemudi yang belum menikah.

"Masih.. masih.. terkadang malu juga sih terima. Makanya habis terima gitu biasanya saya langsung kabur," ungkap Vita kemudian tertawa.

Di lain sisi, Vita juga senang karena dibandingkan zaman dulu, perayaan imlek tahun-tahun ini lebih terasa kental suasana imleknya. Ia pun mengapresiasi perubahan tersebut.

"Saat zaman kapan gitu kan merayakan imlek tidak terlalu terbuka, tapi sekarang imlek boleh dirayakan, jadi di mal-mal lebih terasa saja suasananya," pungkas dia.

Cara Debby, Liliyana, Sutanto Tan, dkk. Rayakan Imlek

Para atlet merayakan Imlek di tahun 2017 dengan berbagai cara. Striker Persija Sutanto Tan berkumpul dengan keluarga, sedangkan Debby Susanto tetap di Jakarta. 

Imlek tahun ini jatuh pada Sabtu (28/1/2017). Para atlet yang rata-rata masih single bersuka cita karena bakal menerima angpau dari orang tua dan saudara-saudara yang sudah menikah.

Bukan cuma itu sih, tahun baru China berkesan karena menjadi momen buat kumpul keluarga. Makanan khas seperti bakmi dan babi jadi hidangan yang ditunggu-tunggu.

Tak cuma para atlet ini yang menyambut Imlek dengan antusias, NBA juga membuat iklan khusus untuk edisi Imlek.

Ini cerita beberapa atlet setiap Imlek. Seperti apa?

1. Debby Susanto (bulutangkis)

2. Sutanto Tan (Persija Jakarta)

3. Presley Martono (pebalap)

4. Glenn Victor (renang)

5. Rony Gunawan (basket)

6. Vita Marissa & Liliyana Natsir (bulutangkis)

(Artikel-artikel ini pernah dimuat di detikSport, dengan penulis yang berbeda)

Kamis, 10 November 2016

Tontowi/Liliyana: Pahlawan dari Arena, Wakili Toleransi

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi pahlawan ketika Indonesia tampil di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro. Mereka sekaligus mewakili toleransi. 


Ketika perbedaan suku, agama, dan ras dijadikan cara untuk memecah belah negara ini, duo pebulutangkis kita mempunyai cara sendiri untuk mengajak bersatu. Mereka menunjukkan kalau Indonesia punya kekuatan raksasa di kancah dunia.

Dua pemain itu, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Rentetan prestasi bagus di level dunia sudah dibuktikan oleh mereka. Puncaknya ketika Owi/Butet--sapaan karib Tontowi/Liliyana--mempersembahkan kado medali emas Olimpide 2016 Rio de Janeiro pada HUT RI ke-71. Ganda campuran terbaik tanah air itu menyatakan dengan tegas kalau Indonesia tak bisa dikalahkan.

Bermain di babak final, mereka menundukkan pasangan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying dengan skor 21-14, 21-12. Apa yang mereka lakukan untuk merayakan kemenangan? Kompak mereka berlari ke arah pelatih, memeluk kemudian mengambil bendera Merah Putih dan membawa berkeliling bendera itu.

Kemudian lagu Indonesia Raya berkumandang. Bendera Merah Putih dikerek paling atas dalam upacara penerimaan medali di Riocentro Pavilion 4, Rio de Janeiro. Owi/Butet mengangkat tangan memberi hormat. Keharuan tak bis aditutupi. Apalagi itulah satu-satunya emas yang didapatkan Indonesia di Olimpiade Rio.

"Saya bersyukur kepada Allah SWT. Inilah kado terindah bagi kami dan untuk seluruh masyarakat Indonesia di Hari Kemerdekaan ini, terima kasih atas segala dukungannya," kata Tontowi.

Medali emas Tontowi dan Liliyana itu bukan cuma membuat mereka dianggap sebagai pahlawan olahraga. Mereka dinilai mewakili arti toleransi.

Tontowi dan Liliyana memang berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Tontowi Jawa totok, sedangkan Liliyana lahir di Manado dan keturunan Tionghoa.


Cara mereka mengucapkan syukur pada tiap poin yang didapatkan pun berbeda. Owi yang beragama Islam akan mengangkat tangan dan mengusapkannya ke wajah. Sementara Liliyana bersyukur dengan cara Katolik. Semua terjadi di atas lapangan hijau.

Semua itu bergabung dalam kerja keras, wadah yang tepat, dan tangan dingin barisan pelatih di pelatnas PBSI sejak 2010. Mereka juga mewakili keberagaman Indonesia. Adalah Richard Mainaky--pelatih ganda campuran pelatnas PBSI--yang memasangkan keduanya. Iya, Richard juga beda suku. Dia orang Ternate.

Siapa asisten Richard? Selama membesut Owi/Butet, Richard didampingi Nova Widianto, seorang Jawa tulen.

Kalau menurut Butet apa arti pahlawan?

"Pahlawan adalah anak bangsa yang bisa mengharumkan nama bangsa dengan prestasi luar biasa di bidang apapun."

Sepakat, kan kalau Tontowi dan Liliyana mewakili pahlawan masa kini dengan sukses mereka mengibarkan bednera Merah Putih pada podium tertinggi di turnamen-turnamen internasional? Juga mewakili arti toleransi?