Tampilkan postingan dengan label susy susanti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label susy susanti. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2019

Hari Kartini dari Gelanggang Olahraga: Lantang Lasmi Membongkar Bobrok PSSI, Jeritan Aldila Suarakan Kesetaraan


Hari Kartini tahun ini ditandai dengan lantang prestasi dari gelanggang oleh atlet-atlet masa kini. Juga gigih perjuangan Lasmi Indaryani menuntut keadilan dan keberanian membongkar kebusukan di PSSI. Tapi, catatan pedih masih disisakan oleh Aldila Sutjiadi dan Fanny Kalumata. 

Mengenakan kebaya dan berhijab, Eni Nuarini naik panggung dalam gala dinner di Doha, Sabtu (20/4/2019). Dia dinobatkan sebagai pelatih terbaik Asia.

Eni memang berhasil menggembleng pemuda dari Lombok Utara, Lalu Muhammad Zohri, menjadi yang tercepat di nomor 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik Junior 2018 di Finlandia.

Di bawah asuhan Eni, tim lari estafet 4x100 meter putra (Fadlin, Zohri, Eko Rimbawan, dan Bayu Kertanegara) juga mencatatkan rekor di Asian Games 2018 Jakarta. Mereka berhasil meraih medali perak, cuma kalah dari Jepang.

Eni, yang dulu merupakan perenang andalan Indonesia, juga mengorbitkan Suryo Agung Wibowo. Hingga kini, Suryo masih tercatat sebagai manusia tercepat Asia Tenggara.

Tahun lalu, Defia juga membuktikan perempuan Indonesia tak bisa diremehkan. Tampil atraktif di taekwondo kategori poomsae (seni) menjadi peraih medali emas pertama untuk kontingen Indonesia di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Tak hanya Defia, rekening emas Indonesia di Asian Games 2018 itu dilanjutkan oleh dua atlet putri lainnya, yakni dari wushu yang dipersembahkan oleh Lindswell kemudian Tiara Andini Prastika dari sepeda gunung downhill.

Jauh sebelum itu, Susy telah mencatatkan sejarah sebagai peraih medali emas pertama untuk Indonesia di Olimpiade. Dia berhasil meraih medali emas di Olimpiade 1992 Barcelona.

Begitu pula medali perdana di Olimpiade. Adalah trio srikandi (Lilies Handayani, Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani) yang mempersembahkannya dari panahan di Olimpiade 1988 Seoul.
"Perbandingannya 30 persen putri, yang putra 70 persen. Perbedaannya masih jauh banget"
Tapi, sayangnya, ketimpangan untuk atlet putri belum semuanya pupus. Sebagai contoh, prize money alias uang hadiah untuk para petenis putri jauh lebih sedikit ketimbang petenis putra.

"Perbandingannya 30 persen putri, yang putra 70 persen. Perbedaannya masih jauh banget," kata Aldila Sutjiadi, peraih medali emas tenis ganda campuran Asian Games 2018.

"Saya berharap hadiah untuk petenis putra dan putri bisa disetarakan secepatnya, karena kan kami latihan juga sama capeknya dengan petenis putra. Lagipula, prize money putra dan putri di internasional juga sudah setara," Dila menambahkan.

Pengelolaan liga juga masih jomplang di beberapa cabang olahraga. Basket, misalnya. Liga bahkan sempat vakum hingga lahir kembali sebagai Srikandi Cup.

Tahun ini, Srikandi Cup kembali berjalan dengan tujuh kontestan (GMC Cirebon, Scorpio Jakarta, Tanago Jakarta, Sahabat Semarang, Merpati Bali, Flying Wheel Makassar, dan Tenaga Baru Pontianak). Jumlah itu lebih sedikit ketimbang IBL, yang diramaikan sepuluh klub. Srikandi Cup juga tak mengenal hadiah uang.

Kapten Tenaga Baru Pontianak, Fanny Kalumata, bersyukur liga berjalan dan diputar dalam seri di kota-kota berbeda. Dari berbagai sumber, Srikandi Cup sulit mendapatkan sponsor. Dana pelaksanaan liga didapatkan dari patungan pemilik klub.

Fanny Kalumata (kedua dari kiri) 
"Potensi pemain putri ini bisa dikembangkan secara profesional. Kami ingin mendapatkan support yang setara dengan IBL. Saya melihat justru kurang solid di antara basketnya sendiri, karena salah satunya jadwal seri IBL kerap bentrok dengan Srikandi Cup dan dijadwalkan di kota berbeda," ujar Fanny.

Malah, liga sepakbola putri yang direncanakan sejak kepengurusan PSSI periode 2016-2020 dilantik masih sekadar rencana. Bisa jadi keuangan menjadi masalah utama seperti PSSi dalam mengelola Timnas Indonesia putri.

Seperti laporan dari mantan Manajer Persibara Banjarnegara, Lasmi Indaryani, dia bahkan harus memberikan dana talangan agar pelatnas Timnas U-16 berjalan.

Berkat Lasmi pula, seorang perempuan di sepakbola, kebusukan sejumlah petinggi PSSI terungkap. Kini, 16 orang dijadikan tersangka kasus dugaan pengaturan skor. Hampir seluruhnya bermula dari laporan Lasmi kepada Satgas Anti Mafia Bola.

Selamat Hari Kartini!

Senin, 05 Desember 2016

Ketika Susy Susanti Turun Gunung

Susy Susanti menerima jabatan sebagai ketua pembinaan dan prestasi PP PBSI periode 2016-2020. Sebuah kejutan hingga Susy bersedia turun gunung.


Mengenakan kemeja putih dan celana panjang warna abu-abu, Susy muncul di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Minggu (4/12/2016) petang. Perempuan 45 tahun itu menghadiri pengumuman susunan pengurus PP PBSI kabinet Wiranto kepada publik di hadapan media.

Saat daftar pengurus dibacakan, nama Susy ada di sana. Dia menjabat sebagai ketua bidang pembinaan dan prestasi. Itu jabatan serupa yang diemban Rexy Mainaky dalam kepengurusan kabinet Gita Wirjawan dari tahun 2012-2016.

Sebuah keputusan yang mengejutkan. Sebab, sejak dia pensiun sebagai pemain pada tahun 1998 Susy memilih untuk menjaga jarak dengan PBSI. Dia lebih senang untuk menjadi penonton dari luar arena.

Lama setelah pensiun itu, Susy mulai mendekat ke PBSI pada 2008. Kala itu, dia menjadi manajer tim Uber yang masa kerjanya cuma beberapa bulan, tidak bertahun-tahun.

Waktu itu banyak yang menilai keputusan Susy menjadi manajer tim Uber cukup gila. Muncul kekhawatiran, pamor Susy bakal turun karena tim Uber diisi pemain-pemain medioker. Bahkan dewa yang memimpin tim itu pun tak akan berhasil. Begitulah kelakar yang muncul mengiringi tim Uber yang main di kandang sendiri.

Dengan skuat yang dipandang sebelah mata, ternyata Susy mampu membawa Maria Kristin dkk. menjadi runner-up dalam ajang yang dihelat di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Tim Uber bertahan lebih lama ketimbang tim Thomas yang tersingkir di babak semifinal, meski ditarget minimal sebagai finalis.

Keberhasilan itu membuat banyak pihak meminta Susy untuk turun langsung menangani pemain, sebagai pelatih ataupun pengurus PBSI. Namun, Susy bersikukuh untuk tetap menjaga jarak dengan PBSI.

Susy sedikit luluh saat diminta Gita untuk masuk kepengurusannya. Namun, Susy meminta agar tak duduk sebagai pengurus yang harus ngantor di Cipayung sehari-hari. Dia pun menerima posisi sebagai staf ahli.

Diminta langsung oleh Gita dan situasi yang memang tengah genting-- Indonesia gagal mempertahankan emas Olimpiade--Susy bersedia masuk jajaran pengurus. Namun, bukan sebagai pejabat teras.

Waktu itu, istri Alan Budikusuma tersebut dipercaya mengisi posisi staf ahli pembina dan prestasi. Jabatan ini tak masuk kategori pengurus harian, jadi ke Cipayung sesekali tak masalah.

Kini, tim formatur meminta Susy lebih intens bersama-sama PBSI. Setelah diyakinkan beberapa kali oleh tim formatur, Susy akhirnya menerima tugas sebagai kabid binpres untuk empat tahun ke depan.

Sebuah langkah strategis memang untuk merekrut Susy dalam barisan pengurus teras. Selain punya pengalaman di bidangnya, PBSI bisa memetik keuntungan lain. Dia kerap berkeliling negara-negara bulutangkis semasa memasarkan produk apparel miliknya.

Dengan bisnisnya itu, Susy punya hubungan dekat dengan federasi bulutangkis negara lain dengan cara yang lebih luwes, tidak formal. Karena masih berkutat pada apparel bulutangkis, Susy juga tetap bisa membaca peta kekuatan bulutangkis dunia. Dia pun mengenal secara personil para para pengurus dan pelatih negara-negara lain lewat cara di luar lapangan.


Susy sendiri punya pertimbangan matang untuk menerima tugas tersebut.

"Sering (untuk diminta jadi pengurus), hanya saja pada periode sebelumnya saya ingin berfokus membesarkan anak-anak saya dan usaha saya. sekarang dua anak saya sudah bersekolah di Australia dan yang paling kecil duduk di bangku SMP. Saya rasa inilah waktunya," ucap Susy.

Selain itu, selama menjadi staf ahli PBSI, Susy menjadi lebih paham perkembangan regenerasi bulutangkis Indonesia yang terseok-seok. Utamanya pada kelompok spesialisnya, tunggal putri.

Susy tak bisa lagi menahan kegemasannya untuk mencetak pemain tunggal putri yang mumpuni. Dia tak sampai hati menyaksikan juara-juara nomor ini muncul dari negara-negara yang baru mengenal bulutangkis, seperti Carolina Marin dari Spanyol. Dia ingin pemain tunggal putri Indonesia muncul lagi di deretan papan atas peringkat dunia.

Tugas yang tampaknya bakal sangat berat untuk Susy sekalipun. Peringkat para pemain tunggal putri saat ini sebagai gambaran. Selain itu, berkaca pada tataran super series laju para pemain tunggal putri tak cukup awet.

Soal itu bahkan sampai muncul kelakar sebagai campuran kritik dan kerinduan dari para jurnalis olahraga. Utamanya jurnalis media cetak atau TV yang punya halaman dan slot terbatas dalam tayangan berita. Mereka harus memprioritaskan mewartakan hasil tunggal putri dalam partai-partai awal.

"Khawatir si ini dan si anu segera tersingkir, nanti keburu mereka tersingkir dan tidak ada kabar tentang tunggal putri." Begitulah guyonan itu.

Susy menyadari tugas berat itu. Susy telah menyiapkan sejumlah rencana untuk mendongkrak prestasi semua sektor yang ada di pelatnas plus perencanaan untuk mengandeng klub dan pengprov PBSI. Termasuk barisan pelatih yang akan dipertahankan ataupun dicoret.

Juga tercantum poin-poin kerja jangka pendek dan jangka panjang. Salah satu yang krusial adalah membangun lagi pelatnas pratama. Susy akan menggodok lagi para pemain usia 15 tahun hingga 19 tahun di Cipayung.

Soal sport science, Susy telah mempunyai gambaran besar. Dengan pengalaman pernah berhubungan dengan pengembangan sport science di Jerman--kala dia menjadi atlet--, Susy akan mengombinasikan poin ini dengan pengalaman dia sebagai seorang atlet. Lagi-lagi soal teknologi, Susy biasa kerkutat karena dia juga dituntut mengembangkan raket terbaik untuk para pebulutangkis.

Rencana-rencana itu disusun Susy dalam lembaran-lembaran kertas HVS setebal 80-an halaman. Masih cukup sederhana memang. Belum ada tanggal dan durasi kerja. Juga dana yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

"Ini perlu bicara dengan jajaran pengurus lain," ucap perempuan bernama lengkap Lucia Francisca Susy Susanti itu.


Ya, Susy memang tak bisa bekerja sendirian. Dia butuh bidang-bidang lain agar rencana di atas kertas HVS itu bukan hanya angan-angan atau malah susunan doa.

Pengurus PBSI periode 2016-2020 juga semestinya menyadari jika langkah merekrut Susy dalam kepengurusan punya risiko lebih besar ketimbang tanpa menyertakan namanya. Bukan cuma soal prestasi bulutangkis di level dunia, tapi juga tetap menjaga nama besar Susy sebagai legenda bulutangkis yang namanya masuk dalam buku rekor dunia.

Bukan cuma terhadap pengurus Susy berharap program kerjanya mendapatkan dukungan, dia, dengan amat rendah hati, mengutarakan harapan kepada publik untuk membantu tugasnya.

"Saya meminta dukungan masyarakat Indonesia dan insan-insan bulutangkis dan mereka yang mempunyai pengalaman untuk memberikan masukan apapun. Saya berharap sekali di kemudian hari, satu atau dua tahun ada perubahan yang lebih baik, khususnya tunggal putri yang sedikit terpuruk ini bisa menelorkan bibit-bibit baru, tidak cuma menyamai saya, tapi lebih bagus lagi," tutur Susy.

Selamat bekerja, Susy!


Rabu, 24 Februari 2016

Susy Susanti: Sebuah 'Kartu Pos' nan Cantik dari Barcelona

Air mata Susy Susanti terus mengalir setelah pengalungan medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona. Air mata itu sudah menjadi selayaknya kartu pos yang cantik kala itu dan abadi hingga kini.



Pengembalian bola yang terlalu kencang dan out oleh pebulutangkis Korea Selatan, Bang Soo Hyun, menjadi penentu kemenangan Susy. Ia menutup laga final di Pavello de la Mar Bella dengan angka meyakinkan: 5-11, 11-5, 11-3.

Susy bersorak. Dia mengangkat kedua tangan, tapi tak lama, sebelum berjalan ke tengah dan mengajak jabat tangan lawan.

"Luar biasa bahagia. Kemenangan itu bukan hanya untuk saya semata, tapi untuk Indonesia," kata Susy mengenang sukses dirinya di Barcelona 23 tahun lampau itu.

Apalagi, final itu memang final ideal. Susy menghadapi musuh bebuyutannya.

"Cita-cita untuk meraih emas ada. 'kan waktu itu saya ranking 1 dunia. Tapi kalau yakin dapat emas, tidak yakin. Saya bertekad tampil di sana dan bertanggung jawab dengan latihan keras," jelas wanita asal Tasikmalaya, Jawa Barat, itu.

Apalagi, lanjut dia, kala itu di Barcelona-lah bulutangkis untuk pertama kalinya dipertandingkan. Susy tak ingin membuang kesempatan itu.

Kegembiraan tersebut tak berhenti di sana. Di semifinal putra, dua wakil Indonesia melaju ke final. Medali emas sudah pasti di tangan. Alan Budikusuma akan menghadapi Ardi B. Wiranata. Alan yang kala itu berpacaran dengan Susy, juga sukses meraih emas. Julukan pengantin Olimpiade pun melekat kepada mereka.

Perbedaan benua dan waktu tak menghalangi masyarakat Indonesia untuk mendukung lewat televisi atau siaran radio. Sungguh, sebuah kabar menggembirakan. Dari Sabang sampai Merauke merayakan suka cita itu. Ibarat sebuah kartu pos nan cantik yang dikirimkan dari Barcelona buat masyarakat Indonesia.

Tangis Susy di atas podium makin deras makin deras seiring berkumandangnya lagu Indonesia Raya dan dikereknya bendera 'Merah Putih'.

"Persiapan selama empat tahun dan makin intens pada dua tahun terakhir terbayar tuntas," ucap Susy.

Padahal kalau disimak, persiapan Susy dan skuat Indonesia di Barcelona bukan hanya empat atau dua tahun itu. Mereka adalah ksatria-ksatria di ajang internasional.

Susy mencuri perhatian sejak masih junior. Dia menjadi juara nasional junior di tiga nomor sekaligus. Di tataran dewasa, Susy memainkan lakon sebagai protagonis saat final Piala Sudirman menghadapi Korea Selatan. Ia kehilangan gim pertama dan juga sempat tertinggal 6-10 di gim kedua, tapi bisa menyelesaikan laga itu dengan kemenangan.

Sebelum itu, Susy menahbiskan diri sebagai juara tunggal putri All England di usia 19 tahun. Susy juga yang menjadi tumpuan ketika Indonesia merebut Piala Uber di hadapan pendukung sendiri pada 1994.

"Saya juga tidak tahu apa keistimewaan saya. Pukulan saya biasa saja, tapi mungkin saya ulet. Ke manapun bola akan saya kejar," kata Susy.

Selain itu, Susy tak pernah berhenti untuk mengoreksi diri. Ibu tiga anak itu selalu memegang teguh prinsip hidup yang menurut dia juga amat sederhana.

"Kita bisa karena biasa. Berlatih terus dan lakukan berulang-ulang," kata perempuan 44 tahun itu.


Pernah dimuat di detikcom pada 10 Desember 2011

Jumat, 13 November 2015

'Susy ya, Bukan Susi (Susanti)'

Banyak yang kurang tepat menuliskan nama Susy Susanti. Kali ini Susy meminta publik tak mengulang kekeliruan itu.

 

Ada yang menggelitik dari sebuah cuitan twitter resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) siang ini. Dengan tagar #PahlawanOlahraga, muncul pertanyaan nama peraih emas Olimpiade: Susi Susanti atau Susy Susanti?

Apalah arti sebuah nama? Kita menyebutnya bunga mawar. Dengan nama apapun ia akan tetap harum semerbak. Begitulah pujangga Inggris, William Shakespeare, mengungkapkan pertanyaan karyanya lewat Romeo dan Juliet.

Tapi, Susy Susanti menyebut bahwa nama tidak bisa diubah sembarangan. Itu identitas yang sudah terlanjur melekat kepadanya selama 44 tahun ini, sejak nama itu disiapkan oleh orangtua sebelum dirinya lahir pada 11 Februari 1971.

"Pakai Y dong. Nanti mamiku marah, kok namaku diubah-ubah, hehehe. Enggak pada bikin bubur merah lagi," ujar legenda hidup bulutangkis Indonesia itu saat ditanya perihal penulisan namanya itu, Senin (9/11/2015).

"Pokoknya waktu itu mami saya nulisnya pakai Y. Mungkin tidak umum ya, nama Susy pakai 'Y'. Tapi justru itu yang ternyata bawa hoki," terang Susy sambil tertawa.




Diakui salah satu pebulutangkis tunggal putri terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, penulisan yang keliru tentang nama dia sudah berlangsung sangat lama. Namun dia tidak terlalu mempersoalkan, walaupun berharap kesalahan itu kelak tidak terjadi lagi.

"Tak sedikit wartawan yang salah menuliskan nama saya. Ada yang (menulis) Susi, ada yang Susy. Di beberapa penghargaan juga salah. Saya harap tidak keliru lagi ya, terutama di media. Tapi tidak apa-apa, yang penting tidak salah orang," ucap istri Alan Budikusuma tersebut.

Kesalahan penulisan itu memang seolah sudah jamak. Dalam laman Wikipedia, baik berbahasa Inggris atau Indonesia, juga tercantum nama Susi Susanti, bukan Susy Susanti.

Ya, Susy yang ini memang berbeda. Susy yang dikenal dengan kelenturan seperti seorang pebalet, pergelangan tangan yang begitu kuat, juga stamina yang luar biasa. Susy yang ini adalah pebulutangkis yang tampil dengan rambut berkuncir dan poni menutup dahi. Sejarah negara ini telah mencatat, Susy adalah olahragawan pertama yang mempersembahkan medali emas untuk Indonesia di pentas Olimpiade (1992).