Tampilkan postingan dengan label praveen jordan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label praveen jordan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2016

Richard Mainaky Menyusun Origami dengan Tangan Besi

Sukses Praveen Jordan/Debby Susanto menjadi juara All England kembali membuktikan regenerasi sektor ganda campuran tak pernah berhenti. Juga sebuah panggung Richard Mainaky mempertontonkan kelihaian menyusun 'origami' dengan tangan besinya.

Sukses Praveen Jordan/Debby Susanto menjadi juara All England kembali membuktikan regenerasi sektor ganda campuran tak pernah berhenti. Juga sebuah panggung Richard Mainaky mempertontonkan kelihaian menyusun 'origami' dengan tangan besinya.

Kalau saja Richard Mainaky tidak mematuhi permintaan Christian Hadinata untuk pulang ke pelatnas bulutangkis, bisa jadi kini dia masih berprofesi sebagai debt collector. Bisa jadi tangan besi dan kesukaannya berkelahi belum berhenti. Bisa jadi Indonesia belum juga melahirkan juara dunia ataupun All England dari sektor ganda campuran.

Tapi faktanya, pemusatan latihan nasional (pelatnas) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) seolah tak pernah kehabisan ganda campuran kelas dunia. Setelah Tri Kusharjanto/Minarti Timur muncul Flandy Limpele dengan Vita Marissa.

Kemudian Vita dipasangkan dengan Nova Widianto. Suatu ketika Vita cedera. Nova diduetkan dengan Liliyana Natsir. Di kemudian hari, Nova/Liliyana boleh dibilang jadi pasangan paling top yang dilahirkannya. Cuma setahun bersama-sama, mereka menjadi juara dunia 2005 kemudian meraihnya lagi di tahun 2007.

Nova pensiun. Apakah kemudian masa emas ganda campuran pelatnas di bawah komando Richard habis? Tidak. Liliyana dicarikan pasangan lain. Sempat gonta-ganti pemain prianya, Liliyana dipasangkan dengan Tontowi Ahmad. Mereka membuktikan lagi tangan dingin Richard dengan meraih, di antaranya, hattrick juara All England.

Ketika Tontowi/Liliyana mulai inkonsisten dan Olimpiade 2016 Rio de Janeiro di depan mata, PBSI sempat waswas. Tapi, Richard datang kepada pengurus teras dan meminta tenang: "Pak Richard membisikkan kepada saya, kalau Praveen dan Debby tinggal tunggu waktu. Sebentar lagi mereka juara," kata Achmad Budiharto, wakil sekretaris jenderal PP PBSI.

Richard tak cuma omong kosong. Praveen/Debby menjadi juara All England ketika wakil Indonesia lainnya rontok di babak awal.

Titel tersebut menyelamatkan muka Indonesia. Raihan itu juga menggagalkan lanjutan paceklik juara tahun lalu. Gelar juara Praveen/Debby itu sekaligus memberikan angin segar Indonesia menuju Olimpiade.

Titel itu juga membuktikan kalau Praveen/Debby adalah pasangan juara. Mereka membuktikan kalau diprediksi masih jauh dari gelar juara tinggallah. Ejekan sebagai pasangan 'nyaris juara' dan 'nyaris menang' yang sempat lekat kepada keduanya juga sudah pupus.

Richard memang menjadi sosok penting dalam menemukan dan membongkar pasang para pemain ganda campuran di pelatnas itu. Richard begitu piawai menyusun dan membongkar pasang para pemain itu seperti seorang penggubah origami. Dia membangun dari yang bukan apa-apa menjadi sesuatu, juga mengubah struktur yang tak dianggap menjadi menarik perhatian. Origami itu menjadi bernilai karena kemudian mendapatkan pengakuan di level dunia.

Cuma soal prestasi? Tidak. Richard juga seorang yang selalu berdiri paling depan untuk para anak asuhnya.

Begitu pula ketika tekanan lebih besar menerpa Debby. Posturnya yang mungil, juga bakatnya yang standar membuat Debby disebut-sebut tak bakal mendunia. Tapi Richard yang jadi tameng pertama dari haters dan fans yang mulai goyah mendukung pemainnya.

Richard amat bertanggung jawab kepada setiap keputusannya. Termasuk keputusan mengambil siapa saja untuk dipolesnya di sektor ganda campuran. Siapapun yang sudah dipilihnya akan dipoles hingga jadi pemain dunia.

Apa modal Richard?

"Terus terang saya amat mengandalkan insting. Awalnya saya tidak menyadari kalau memilikinya, tapi Pak Christian (Hadinata) memberikan kesempatan kepada saya untuk melihat sendiri talenta dari Tuhan itu," kata Richard.

20 tahun silam, pintu untuk Richard kembali berkecimpung ke bulutangkis terbuka kala Christian yang menjadi pelatih ganda campuran di pelatnas PBSI memintanya untuk 'pulang ke rumah'. Tanpa pikir panjang, Richard yang sudah tiga tahun meninggalkan bulu tangkis menyanggupinya.

"Waktu itu saya jadi debt collector he he he. Setelah pensiun dari pemain kan saya tidak punya pekerjaan. Apalagi pada dasarnya saya itu temperamental, suka berkelahi," kenang pria asal Ternate itu.

Bersama-sama dengan Christian menjadi pelatih dijadikan ajang 'sekolah' bagi Richard. Bagaimana mendekati dan memoles pemain dengan karakter yang berbeda-beda. Bagaimana cara memaksimalkan potensi pemain, bukan berfokus kepada kekurangannya.

Richard bahkan mengakui sistem kepelatihannya tergolong keras dan tanpa ampun. Baik pada durasi latihan ataupun metode yang diterapkannya.

"Dalam latihan saya bertangan besi. Tiada hari tanpa latihan. Tapi di sisi lain saya coba sentuh para pemain lewat perasaan mereka masing-masing," tutur pria 51 tahun itu memuka rahasia pendekatan kepada pemainnya.

Selain itu, Richard tak pernah berhenti melakukan inovasi. Misalnya membuat jaring di atas lapangan demi memaksa pemain agar tak terbiasa melakukan bola-bola tinggi juga berlatih di atas pasir.

Richard kemudian mencontohkan bagaimana insting, tangan besi, menyentuh perasaan, berfokus kepada kekuatan dan inovasinya itu diterapkan saat menemukan dan memoles Praveen/Debby.

Richard sudah mengincar Praveen sejak si pemain masih di PB Djarum. Bahkan, dia sudah menyusun skenario bakal memasangkan Praveen dengan Debby yang kala itu masih berduet dengan Mohammad Rizal.

Tapi dari banyak informasi Praveen adalah pemain yang mempunyai attitude kurang sip. Bersama PB Djarum, dia 'bersekongkol' untuk mereduksinya. Praveen tak ditarik ke pelatnas, tapi tetap diperam di klub. Kemudian diberi pendampingan khusus oleh Vita yang kebetulan pindah dari PBPB Tangkas ke Djarum.

Praveen dan Vita menjadi juara-juara di beberapa turnamen internasional. Barulah Richard mengajaknya ke pelatnas.

"Praveen mempunyai kelebihan. Kalau dia nyentrik itu wajar. Biasanya memang pemain yang mempunyai pukulan-pukulan unik adalah sosok-sosok yang nyentrik," ucap dia.

Beda lagi dengan Debby. Richard tak melihat keistimewaan permainan Debby, tapi kerja keras dan pantang menyerah yang selalu ditunjukkan si pemain membuat Richard kepincut. Bahkan postur mungil Debby justru dianggap kelebihan oleh Richard.

Debby menjadi pemain pelatnas lebih dulu. Dia masuk ke Cipayung sebagai pemain ganda putri. Richard memprediksi Debby tak bakal berkembang di sektor tersebut dengan posturnya yang mungil. Dia pun meminta kepada pelatih ganda putri agar Debby diserahkan kepadanya.

"Saya sudah tahu apa yang akan saya benahi. Kecepatan Debby dan manfaatkan keunggulannya yang pantang menyerah. Saya poles kecepatan dan defense dia," ucap Rihard.

"Saya percaya kalau bakat itu bisa dibentuk. Dengan bakatnya yang standar dan posturnya yang kecil tapi dia mau melakukan apa yang saya minta, Debby sudah membuktikannya," ujar dia.

Tapi pekerjaannya belum selesai. Setelah 20 tahun menjadi pelatih, dia dibuat penasaran dengan emas Olimpiade. Rio de Janeiro akan menjadi kesempatan terbaik untuk meraihnya. Mumpung kini ada dua ujung tombak dari sektor miliknya ke Brasil. Sekali lagi, tangan besi Richard Mainaky tengah diuji untuk mengubah takdir.

Rabu, 23 Maret 2016

Ketika Kebiasaan Praveen Jordan dan Debby Susanto Diungkap Ortu Mereka

Orang tua Praveen Jordan dan Debby Susanto ikut meramaikan acara pemberian bonus untuk pasangan pemenang All England itu. Mereka mengungkap kebiasaan Praveen dan Debby.


Acara pemberian bonus dari Djarum Bakti Olahraga Djarum Foundation kepada Praveen/Debby di Lounge XXI, Plaza Senayan, Jakarta Selasa (22/3/2016) siang, berlangsung dalam suasana haru, berubah meriah, mengharu lagi, juga bernuansa gelak tawa akibat kehadiran orang tua mereka.

Dalam acara itu, sempat diputar pula testimoni orang tua Praveen dan Debby mengenai masa kecil mereka. Seru, karena diputar di layar lebar lebar di hadapan media, perwakilan PB PBSI, para pemain muda PB Djarum, dan pemain-pemain legenda PB Djarum.

"Debby itu orangnya pantang menyerah sejak kecil. Dia sudah menunjukkan kalau dirinya memang tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya," tutur Sugiyanti Budiman, ibunda Debby.

"Saya ingat waktu itu dia menulis di atas kertas kalau suatu hari nanti akan naik podium lewat bulutangkis. Saya terenyuh. Soalnya waktu kecil dia sempat diremehkan sebagai pemain. Posturnya kan kecil, baru kenal bulutangkis juga di usia sepuluh tahun," sebutnya sambil menitikkan air mata.

Sang ayah Susanto Darmawan juga ingat pernah memberikan pilihan kepada Debby untuk terus bermain bulutangkis atau berhenti saja dengan kondisi seperti itu. debby menjawab dengan menuliskan jawaban di atas kertas. Di sana, di atas kertas itu, dia menulis 'menjadi atlet bulutangkis dan menjadi juara dunia'.

"Setiap kali mengalami kekalahan saya selalu bilang kepada dia kalau kekalahan hanyalah kemenangan yang tertunda. Kalau mau capek dan kerja lebih keras kemenangan tak akan ke mana," imbuh ayah Debby, Susanto Darmawan.

Faktanya, kini Debby sudah menjadi juara All England bersama-sama dengan Praveen. Mereka menjadi penyelamat muka Indonesia di ajang tersebut.

Suasana berubah hangat saat Herlinche Sinambela, ibunda Praveen, menuturkan kenakalan-kenakalan Praveen kecil. Juga kesukaannya akan lagu-lagu Christine Panjaitan.

"Praveen itu memang terkenal dengan smash kerasnya ya, maklum badannya kan besar begitu. Dari dulu memang dia suka makan. Dia dulunya tidak diduga akan jadi pemain bulutangkis, karena nggak bisa diem dan suka gangguin papanya melatih bulutangkis," ujar Herlinche yang langsung disambut gelak tawa tamu yang hadir.

Herlinche bahkan membeberkan rahasia Praveen yang diam-diam ternyata suka menangis kalau tiba-tiba rindu akan mamanya.

"Abang jangan suka nangis lagi ya kalau mama tinggal. Kalau nangis jangan suka pura-pura pilek," pesan sang mama kepada Praveen.

"Dibalik mukanya yang sangar, anak saya ini hatinya mellow banget," ungkap Herlinche.

Yang paling tak disangka-sangka adalah Praveen ternyata sangat menyukai lagu Christine Pandjaitan yang berjudul Katakan yang Sesungguhnya. Herlinche bahkan meminta Praveen untuk menyanyikan lagu tersebut di hadapan tamu acara yang tentu awalnya langsung ditolaknya.

Namun setelah dibujuk sang mama dan diajak berduet, Praveen akhirnya menyanyikan lagu tersebut beberapa bait. Sontak penonton pun langsung riuh dan bertepuk tangan.

Sang mama juga menjadi tempat curhat Praveen kala dirinya dilanda kegalauan soal prestasi di bulutangkis.

"Praveen pernah curhat di LINE sama saya, waktu itu dia belum berprestasi dan bilang mau berhenti saja main bulutangkis. Saya nasihati dia bahwa jangan menyerah, kamu sudah setengah jalan, waktumu masih panjang, masih muda. Kalau berusaha terus pasti bisa juara dan bisa rangking satu dunia dan juara olimpiade yang memang jadi keinginan terbesarnya dia," jelas Herlinche

Bagaimana kebiasaan mereka memberi oleh-oleh tiap kali mengikuti turnamen di luar negeri?

Sugiyanti mengatakan kalau Debby sudah amat paham dengan kesukaannya dengan fashion. "Ini oleh-oleh dari Debby pas All England kemarin," katanya sambil menunjukkan liontin kalung dan cincin di jari manis tangan kanannya.

Sementara Herlinche ibunda Praveen justru pasrah kalau soal oleh-oleh. "Dia malas kalau soal oleh-oleh. Paling banter dia baca cokelat," ungkap dia.