Tampilkan postingan dengan label sgs bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sgs bandung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2016

Piala Tanda Juara Itu Dibiarkan Berdebu

KENANGAN masa lalu memang selalu membangkitkan gairah. Dengan antusias, Iie Sumirat berbagi cerita saya tentang kemasalaluan dan harapannya. Juga soal prasasti-prasasti di sudut-sudut dunia lewat piala dari bulutangkis yang pernah diraihnya. 

Dia memang lupa-lupa ingat mengenai urutan capaian prestasi emasnya. Tapi, itu bukan soal sulit. Asal, perbincangan dilakukan di GOR SGS Elektrik, Jalan Soekarno-Hatta, Bandung.

Di ruangan yang berbatasan dinding dengan GOR SGS Elektrik di Bandung itu tersusun medali dan piala miliknya. Belum memfosil tapi sudah berlumur debu tipis dan sebagian mulai menebal.

Ya, di sanalah Iie menyimpan hasil kerja keras dankeringatnya semasa jadi pemain profesional bulutangkis. Kebanyakan diletakkan dalam lemari kaca.

Di tempat tersebut juga banyak foto Iie yang sedang beraksi di lapangan. Ada juga foto saat dia menerima penghargaan bersama pemain Indonesia lainnya. Termasuk The Magnificent Seven saat itu, Christian Hadinata dan Ade Chandra. Foto setelah menjadi pelatih juga terpampang di sana. Dia bergaya paling banyak bersama Taufik Hidayat.

Foto-foto tersebut dipajang di dinding GOR yang memiliki tiga lapangan itu atau dalam ruang istirahat. Namun, banyak pula foto yang hanya tergeletak di atas meja, berserak di antara alat-alat musik miliknya.

"Ini hanya tempat istirahat. Saya tak sempat membersihkannya setiap hari," ujar Iie dengan logat Sunda yang begitu kental.

Menurut dia, dengan adanya piala, medali, serta foto-foto kesuksesan tersebut, para anak didiknya saat ini bisa merasakan atmosfer juara.

"Ini adalah salah satu klub yang pernah melahirkan juara. Saya juga pernah menjadi juara. Mereka harus memiliki role model," ujar pria yang baru saja berulang tahun pada 15 November tersebut.


Baca Juga: Iie Sumirat, Sang Legenda yang Setia Menabur Bibit di Tanah Kelahiran

Ya, Iie memang pernah jadi tumpuan Merah Putih di turnamen-turnamen internasional bulutangkis. Iie masuk pelatnas setelah lolos seleksi nasional di tahun 1970. Setahun berikutnya mengikuti kejuaraan All England bersama bintang bulu tangkis lain, seperti Rudy Gunawan, Mulyadi, dan Indra Gunawan.

Tapi All England tahun itu tidak menjadi milik Iie. Meski demikian, setelah All England tersebut, prestasinya terus meningkat. Iie yang ekpresif sangat terkenal dengan gaya kedut, yakni sebuah trik gerakan untuk mengecoh lawan. Ia menjadi bagian kisah sukses Piala Thomas tahun 1976 dan 1979.

Sebelum bermain di Piala Thomas tahun 1976, Iie lebih dulu memperkuat
Indonesia dalam invitasi bulu tangkis Asia yang diselenggarakan World
Badminton Championship di Bangkok. Dalam kejuaraan yang digelar
sebagai pesaing All England ini, Indonesia berhadapan dengan China
yang saat itu sudah terkenal sebagai raksasa bulu tangkis.

Namun, Iie mematahkan pesimisme banyak orang dengan mengalahkan Tang
Shien-hu di semifinal. Sukses itu berlanjut dengan menundukkan Hou
Chia-Chang pada partai puncak melalui rubber set.

Iie membuktikan kepada dunia bahwa para pemain China dapat dikalahkan.
Tidak pelak, media massa menjuluki Iie sebagai "the giant killer", si pembunuh raksasa.

Saat memperkuat tim Piala Thomas tahun 1979 di Jakarta, Iie bertanding
dan menang dalam tiga dari sembilan partai yang dipertandingkan. Saat
itu ia bermain rubber set dalam dua pertandingan tunggal dan mendadak
harus menggantikan Johan Wahyudi yang tiba-tiba sakit di nomor ganda.

Setelah lima tahun sejak 1982 melatih klub Sarana Muda, Iie kemudian
bersama Lutfi Hamid dan Edy Ismanto mendirikan klub SGS pada 1987.
Bahkan, sejak 1990 Iie juga melatih di Pusdiklat Lippo.

Tak disimpan sendiri, ilmu kedut itu dititiskan kepada Taufik Hidayat. Iya, Taufik si peraih emas Olimpiade 2004 Athena itu.

Iie masih terjun secara langsung di dunia olahraga. Dia menjadi pengurus Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI) Jawa Barat. Dia turut memperjuangkan nasib mantan atlet yang kurang beruntung.

Dia tidak sendirian. Dia beberapa kali menggandeng mantan atlet top, seperti Robby Darwis. Terakhir dia mengumpulkan dana untuk korban gempa bumi di Pengalengan.

"Bagaimanapun, kami bersaudara. Kesulitan mereka menjadi kesulitan kami. Minimal, kami bisa membantu tetangga terdekat," ujarnya. (Bersambung)

Pernah dimuat di Jawa Pos November 2009 dan kemudian dikompilasi dengan data dari Majalah Tempo

Iie Sumirat, Sang Legenda yang Setia Menabur Bibit di Tanah Kelahiran

Tak banyak lagi yang mengenal Iie Sumirat. Tingkah lakunya yang kontroversial di tengah dan di luar lapangan mungkin hanya menjadi kenangan.

GAMPANG-gampang susah menemui Iie Sumirat. Mobilitasnya cukup tinggi. Sebagian besar waktunya memang dihabiskan untuk melatih bulu tangkis di Bandung, Jawa Barat. Namun, Iie tak pernah menolak untuk pergi ke luar kota.

Kegiatannya masih berkutat kepada bulu tangkis. Maklum, dia calon kuat Ketua Umum Pengcab PBSI Kabupaten Bandung.

Selain itu, jabatannya sebagai ketua umum Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI) cukup menyibukkan dia. Maka, mantan-mantan atlet juga menjadi 'pasiennya' saat ini.

Kebetulan pula, pada akhir pekan lalu Iie tengah menyiapkan pesta ulang tahunnya ke-57 yang jatuh pada 15 November. Rencananya, dia tak hanya mengundang sanak saudara. Mantan pemain dan pengurus PBSI juga diundang. "Yang penting bisa ngumpul bareng dengan para pemain di klub dan teman-teman lama," ujar Iie.

Ya, kini Iie memang berfokus mengurusi Perkumpulan Bulu Tangkis Sangkuriang Graha Sarana (SGS) Bandung. Namun, salah satu klub bulu tangkis papan atas tanah air itu memiliki dua gedung. Yaitu, di Soreang, Kab Bandung dan kawasan Soekarno-Hatta, Bandung.

Anak didiknya cukup banyak. GOR di Soreang, Kab Bandung, menampung 150 orang, sedangkan di Bandung 100 siswa. Mulai usia 5 tahun hingga peralihan menuju dewasa. Semua ditangani Iie sendiri.



Dia juga tak pelit berbagi ilmu. Tak melihat gender, baik pemain pria maupun wanita. "Tapi, saya hanya berkonsentrasi kepada pemain tunggal," tutur penyuka kudapan cumi asam manis itu.

Dengan hanya memiliki tiga lapangan di masing-masing GOR, Iie harus mengatur jadwal sedemikian rupa bersama asistennya. Setiap Senin, Kamis, dan Minggu Iie akan memoles anak didiknya di Soreang. Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu giliran GOR Soekarno-Hatta yang diperhatikan.

Jadwal latihan berlangsung pukul 11.00-22.00 WIB.Itu sudah jauh berkurang.Sebelumnya, Iie juga harus menangani langsung klub lain. "Ini saja mereka tak bisa berlatih setiap hari. Lapangan tidak cukup," tutur Iie.

Masih banyaknya calon pemain itulah yang membuat Iie tetap saja setia tinggal di Bandung. Suami Ovadiani itu juga cukup sadar, di antara banyaknya anak didik itu belum tentu akan muncul bintang.

Namun, paling tidak hatinya pernah begitu puas. Di tanah kelahirannya itu dia sukses menitiskan ilmu yang dimiliki -pukulan penuh power disertai kedutan pergelangan tangan- kepada seorang pemuda asal Pengalengan. Dialah Taufik Hidayat, peraih medali emas Olimpiade 2004 Athena dan jawara Kejuaraan Dunia 2005.

"Kalau bukan kami yang membesarkan bulu tangkis, siapa lagi yang bisa diharapkan," ujar pemain yang mendapatkan julukan giant killer semasa menjadi pemain itu.

Malah, dengan potensi yang ada, Iie memprediksi akan melahirkan lebih banyak lagi Taufik Hidayat selanjutnya. Tak dipikirkannya persoalan penghasilan itu pula yang membuat Iie tak pernah menerima tawaran menjadi pelatih di negara lain. Hongkong, Kamboja, dan Malaysia adalah negara yang pernah meminangnya secara terang-terangan. Namun, Iie bergeming. Dia setia tinggal di Bandung.(Bersambung)

BIODATA:
Nama: Iie Sumirat
Lahir: Bandung, 15 November 1952
Isteri: Ovadiani

Anak:
Meilinda
Meladna
Fani Fanina
Ima Delima
Yulian
Yayan Trihartawan
Vine Audine

PENDIDIKAN :
SD Tegallega
SMP Pasundan 2
SMAN 11 dan SMAN 4 Bandung

PRESTASI:
Tim Thomas Cup 1970, 1973, 1976, 1979
Juara Asian Games 1976, 1977
Runner-up Asian Games 1978
Juara Dunia 1976 di Bangkok
Juara Indonesia Open 1973
Juara Singapura Open 1971, 1972, 1973
Juara Nagasaki Open 1978
Juara Taiwan Open 1979

PENGHARGAAN:
Satya Lencana Kebudayaan 1970

JABATAN ORGANISASI:
Ketua IANI Jawa Barat 2007-sekarang
Ketua Komunitas Bulu Tangkis Indonesia di Jawa Barat 2007-sekarang

Pernah dimuat di Jawa Pos November 2009