Tampilkan postingan dengan label marlev. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marlev. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Maret 2016

Darah Olahraga Mainaky Bersaudara

Jika diusut, darah olahraga memang sudah mengalir deras di tubuh Mainaky dan semuanya bermula dari kakek mereka, Weuhelman. Berdarah campuran Jerman dan Belanda, Weuhelman adalah pemain sepakbola. Tujuh bersaudara Maniaky lahir setelah anak perempuan Weuhelman yang bernama Venna menikah dengan Jantje Rudolf Mainaky.


Meski menggeluti sepakbola, Weuhelman justru mendorong cucu-cucunya bermain bulutangkis. Salah satu pendorongnya adalah karena Jantje Rudolf Mainaky menggemari cabang olahraga tepok bulu tersebut.

"Ayah itu orang bilang sportman. Dia itu bisa atletik, dari lempar lembing, tolak peluru lari 200 meter bagus. Voli juga bisa, basket juga bisa. Dia juga seorang musisi dan sekolah bareng Enteng Tanamal," kisah Rexy.

Baca Juga: Mainaky Bersaudara Meraih Prestasi, Membibit Generasi

Hobi olahraga Jantje Rudolf Mainaky itu lantas ditularkan kepada anak-anaknya. Lari 12 kilometer menjadi menu rutin setiap hari sementara di akhir pekan ada tambahan lari cross country di Gunung Gamalama.

Mainaky bersaudara juga dilibatkan dalam pekerjaan rumah sehari-hari, seperti menimba air dan membangun plafon rumah. Rudy juga memberikan menu wajib yang tak biasa: dia 'memaksa' anak-anaknya memainkan botol bir dengan pergelangan tangan sesering mungkin.

Baca Juga: Generasi Kedua Mainaky Bersaudara

Beragam aktivitas tersebut pada awalnya diterapkan Jantje Rudolf Mainaky demi menghindarkan anak-anaknya dari terjerat pergaulan anak-anak muda Ternate yang doyan mabuk dan berkelahi.

Lapangan bulutangkis dibangun di belakang rumah yang berlokasi di Serunai, Ternate. Garis lapangan tanah dibikin dari bilah bambu. Meja pingpong dibuat agar anak-anak tak keluyuran di luar rumah, tapi justru bisa mengajak teman-teman singgah. Peralatan fitness juga dibuat sendiri.

Jantje Rudolf Mainaky tahu benar kalau bulutangkis adalah cabang olahraga yang punya peluang paling besar mengantarkan anak-anak lebih cepat berprestasi. Atas dasar itulah dia mulai lebih serius mengarahkan Richard dan adik-adiknya ke bulutangkis, bukan sepakbola, tinju atau karate seperti mayoritas penduduk Ternate.

Dukungan untuk menekuni bulutangkis juga didapatkan dari kakek. "Kakek tidak mau kami mengikuti jadi pemain bola. Dia justru sangat mendukung kami ke bulutangkis. Dialah yang merawat lapangan bulutangkis," kata Rexy.

Baca Juga: Richard Si Pembuka Jalan Mainaky Bersaudara


Namun, tak semua anak-anak mengikuti arahan Jantje Rudolf Mainaky. Termasuk Rexy yang sempat condong ke sepakbola. Lapangan bulutangkis di belakang rumah itu justru sering menjadi arena bermain bola. Weuhelman yang tak terima lapangannya rusak sering dibuat marah dan tak segan dia mengguyur anak-anak dengan air seni dari lantai dua.

Dari tujuh bersaudara keluarga Maniaky, cuma Marinus (anak pertama) Valentina (anak keenam) yang tak bermain bulutangkis. Sementara lima lainnya benar-benar tumbuh dan menghabiskan waktunya di cabang olahraga tersebut.

Pilihan itu terbukti tidak salah karena mereka masing-masing memiliki cerita sukses sendiri. Kisah yang kini menjadi dongeng di cafe-cafe sampai warung kopi tubruk pinggir jalan. (Habis)

Pernah dimuat di detikSport pada Hari Olahraga Nasional 9 September 2013

Rabu, 30 Maret 2016

Generasi Kedua Mainaky Bersaudara

Lima Mainaky bersaudara memberi prestasi untuk negeri ini. Mereka juga telah melakukan pembibitan dengan menjadi pelatih. Generasi Mainaky berikutnya bisa jadi akan muncul dalam beberapa tahun mendatang.


Faktanya, Richard, Riony, Marlev dan Karel juga memoles anak-anak mereka sendiri. Marlev malah coba-coba membangun perkumpulan bulutangkis Putra Mainaky.

"Anggotanya baru lima orang. Mereka anak-anak saya sendiri dan Riony. Orang sudah terlanjur tahu kalau Mainaky identik dengan bulutangkis, kami ingin berpartisipasi membantu perkembangan bulutangkis Indonesia," kata Marlev, yang untuk sementara perkumpulan bulutangkis miliknya itu masih menyewa tempat di kawasan Cibubur.

Baca Juga: Mainaky Bersaudara: Meraih Prestasi, Membibit Generasi


Putri semata wayang Richard Mainaky, Nathalia, juga mulai adu kepiawaian di kelompok umur taruna saat ini. Kendati baru memulai bulutangkis di usia 17 tahun, Richard menilai itu belumlah terlambat.

"Kalau benar-benar serius, tidak ada kata terlambat," kata Richard menyemangati putri hasil pernikahan dengan Meike Paruntu tersebut.

Awalnya Natalia merasa berat saat harus mengenakan Mainaky di kostum bertandingnya. Namun seiring penampilannya yang membaik, dia mulai terbiasa.

Kedua putra Rexy justru yang tak bermain di bulutangkis. Geraldine dan Christian Rudolf memilih fokus sebagai pelajar.

"Meski kemudian ada penyesalan tapi prestasi mereka di sekolah bagus. Mereka baru tahu kalau ayahnya bisa melatih. Mereka dulu keberatan memakai nama Mainaky," kata Rexy. (Bersambung)

Pernah dimuat di detikSport bertepatan Hari Olahraga Nasional 9 September 2013

Mainaky Bersaudara: Meraih Prestasi, Membibit Generasi

Mainaky bersaudara pernah memberi banyak gelar buat Indonesia di era 1990 sampai paruh awal 2000-an. Di era upaya membangkitkan lagi bulutangkis Indonesia, mereka kini bertugas membibit generasi.



Kemarau gelar yang harus dialami bulutangkis Indonesia membuat PB PBSI berbenah. Ketua Umum baru, Gita Wirjawan, menepati janji membangun kepengurusan dan barisan pelatih yang ideal, Gita membeberkan nama-nama yang tak biasa di kepengurusan.

Salah satunya mendudukkan Rexy Mainaky sebagai kepala bidang pembinaan dan prestasi PB PBSI. Posisi yang menjadikan menentukan bagaimana prestasi bulutangkis Indonesia di masa datang.

Penunjukkan lain yang dilakukan di kepengurusan saat ini adalah munculnya tiga nama bermarga Mainaky: Richard, Riony dan Marlev. Kembalinya para mantan pebulutangkis yang pernah memberi prestasi bagi olahraga tepok bulu nasional itu dianggap melegakan oleh beberapa pihak, tapi sebagian menanggapinya dengan miring, menganggapnya ada KKN.

"Kami di sini karena kualitas," kata Richard sebagai yang tertua menegaskan.

Terkait keluarga Maniaky, Rexy adalah yang paling punya prestasi mentereng dengan prestasi tertinggi berupa medali emas Olipiade 1996. sementara Marleve Mainaky pernah menjadi juara Indonesia Terbuka 2001.

Terkait peran di dunia kepelatihan Richard bukan lah wajah baru karena sejak 1997 dia menjadi tukang racik ganda campuran. Torehan prestasinya membanggakan. Anak didiknya menjadi langganan penyumbang medali emas Kejuaraan Dunia, All England dan perak Olimpiade.

Riony juga bukan pelatih medioker. Tangan dinginnya membuat bulutangkis Jepang kembali disegani saat dia merantau menjadi pelatih di sana. Marlev juga pernah dipercaya menangani tunggal putra di kepengurusan sebelumnya.

Kualitas Rexy sudah terbukti di Inggris dan Malaysia. Tak hanya empat kakak adik itu yang piawai membesut tim. Si bungsu, Karel, juga didapuk menjadi pelatih Jepang. (Bersambung)

Pernah dimuat di detikSport bertepatan Hari Olahraga Nasional 9 September 2013