Tampilkan postingan dengan label #perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #perjalanan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

Ketika Para Legenda Bulutangkis Berkumpul di Markas PB Djarum

Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015 sekaligus menjadi ajang reuni para mantan pemain era 1970-an. Ngobrol soal kesehatan dan batu akik jadi tema pembicaraan yang menghangatkan pertemuan mereka.


Audisi Kudus tak hanya jadi tempat penyaringan atlet untuk mengisi PB Djarum, sebagai audisi terakhir dan grand final. Tapi, juga menjadi tempat reuni para legenda bulutangkis Indonesia.

Djarum mendatangkan 14 pemain legenda ke markas mereka di GOR Djarum, Jati, Kudus selama empat hari penuh. Mereka -- Christian Hadinata, Lius Pongoh, Eddy Hartono, Hariyanto Arbi, Kartono Hari Atmanto, Heryanto Saputra, Liem Swie King, Denny Kantono, Bobby Entarto, Simbarsono Sutanto, Johan Wahyudi, Maria Kristin Yulianti, Hastomo Arbi, dan Fung Permadi -- tiba di Kudus sejak Senin (31/8/2015) sampai hari ini (3/9/2015).

Meski memiliki nama besar di dunia bulutangkis, beberapa dari mereka sudah lama menghilang dari dunia olahraga. Johan Wahjudi, misalnya, sejak gantung raket di tahun 1982 dia seolah bertapa dan menjauh dari dunia bulutangkis, juga rekan-rekannya sesama pemain. Pekan ini, di Kudus, setelah 33 tahun, dia berjumpa lagi dengan Liem Swie King dan Hadiyanto.

"Enggak menyangka ya kalau kami bisa berjumpa saat ini, bahkan sampai banyak begini," kata Johan, pemilik enam gelar juara All England di nomor ganda putra bersama Tjun Tjun itu.

"Justru saya yang menghubungi Pak Yoppy (Rosimin, program director Djarum Bakti Indonesia) lebih dulu. Kata salah satu rekan saya, Pak Yoppy berulang kali menghubungi saya tapi sulit. Kemudian saya minta nomornya Pak Yoppy dan sayatelpon dia. Karena gregetan dengan prestasi bulutangkis nasional saat ini," tutur mantan pemain asal Malang, Jawa Timur itu.

Baca juga: Liem Swie King dan Hastomo Arbi, Awal Cikal Bakal PB Djarum Kudus

Rupanya, Johan sudah menyimpan kerinduan kepada dunia olahraga nasional sejak mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan olahraga nasional dari Kemenpora di tahun 2013. Sejak itu dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk peduli lagi dengan olahraga nasional. Apalagi dari berbagai sumber dia mendapati kalau prestasi bulutangkis Indonesia sedang naik turun

Komunikasi dengan Yoppy membuat Johan makin happy. Dia tak sendirian diajak untuk berkumpul dalam rangkaian audisi.

"Ternyata Pak Yoppy juga mengajak mantan-mantan pemain lain. Saya langsung kontak-kontakan dengan Liem Swie King. eh rupanya dia bersedia juga, saya makin semangat," ucap pria yang kini berusia 62 tahun itu.
Tak dinyana, pertemuan dengan Sie King terjadi lebih cepat dari bulan September. Mereka tergabung menjadi tim pemandu bakat di Jember, kota pertama audisi Djarum, empat bulan lalu.

Pertemuan di Jember itu menjadi pertemuan pertama sejak 1982. Itu ketika Johan memutuskan untuk pensiun.

"Saya lihat dia, tidak banyak berubah. Wajahnya kan memang baby face gitu dari dulu. Pertama-tama saya tanyakan kesehatan dia. Saya lihat jalannya sedikit pincang, ada apa? Saya beri obat," kata dia.

Berjalannya audisi hingga sembilan kota membuat mereka menjadi lebih sering berjumpa. Obrolan pun berkembang sampai ke hal-hal lain. Pertemuan paling baru terjadi di Kudus dalam audisi kesembilan ini. Hobi yang sama--selain bulutangkis--dilakoni bersama-sama.

"Kami nyari batu akik bersama-sama di Werdu. Bersama-sama Lius, Hardiyanto, dan Haryanto Arbi dan salah satu teman kami. Kami gunakan waktu istirahat, sekalian buat jalan-jalan he he he," kata Swie King.

"Saya ikut-ikut saja soal batu akik. Di rumah ada beberapa tapi belum sampai 100 biji kok. Saya juga mencari batu akik khas daerah kalau kebetulan sedang pergi ke daerah-daerah," jelas pria yang dikenal sebagai King Smash itu.

Baca juga: PB Djarum Buka-bukaan soal Dapur dan Nutrisi

Yoppy mengakui ada upaya khusus untuk mengumpulkan para legenda itu. Utamanya untuk merangkul kembali Johan dan Swie King.

"Paling sulit dua orang itu. Mereka kan sempat lama 'bertapa di gunung'. Saya rayu, Liem Swie King untuk kembali ke Kudus. Dia kan orang Kudus asli. Dia juga punya nama besar dari bulutangkis. Akhirnya bersedia," kata Yoppy.

"Saya juga coba untuk ajak Tjun Tjun. Dia tidak menolak tapi samai hari H tidak hadir, Mungkin ada sesuatu hal. Tidak apa-apa. Kami mengumpulkan legenda-legenda ini bukan melulu karena Djarum tapi karena mereka mantan pemain yang mempunyai kemampuan kelas dunia," jelas Yoppy.

Malam ini tampaknya bakal jadi malam terakhir kebersamaan mereka di Kudus. Itu bersamaan dengan berakhirnya audisi umum PB Djarum.

"Tidak, sama sekali tidak ada penyesalan untuk kumpul-kumpul seperti ini. Sebaliknya saya senang karena tidak cuma reuni tapi juga rencananya akan sering ke Kudus untuk memantau perkembangan mereka," jelas Swie King.

Jumat, 11 September 2015

Mengintip Dapur PB Djarum: Ada Menu Khusus untuk ‘Anak Kurus’

PB Djarum membangun pusat pelatihan bulutangkis di Kudus, Jawa Tengah seideal mungkin. Termasuk penyediaan kebutuhan makanan untuk para atlet dan barisan pelatih, sampai-sampai ada menu khusus untuk ‘anak kurus’.


Pekan lalu bersama rombongan dari Jakarta, saya berkesmepatan bertandang ke markas PB Djarum di Jalan Jati, Kudus, Jawa Tengah. Disambut GOR dengan 16 lapangan latihan plus asrama dengan desain modern, saya juga berbincang dengan koki PB Djarum, Susilo.

Pukul 04.00 WIB, dapur di PB Djarum mulai sibuk. Dua petugas sudah meracik jus sebagai salah satu menu di sela-sela latihan pagi. Berselang 30 menit kemudian dua koki lain mulai menyiapkan menu sarapan.

Susilo, 41, tinggal menyesuaikan. Dia mengisi bagian yang bolong. Toh, menu sudah disiapkan di awal bulan. Mereka juga bukan tim yang baru.

“Saya sudah 10 tahun menangani dapur Djarum. Sudah biasa memulai kerja dari pagi dan bersama-sama tim,” kata Susilo yang ditemui detikSport di Kudus, Jawa Tengah belum lama ini.

Tim dapur bukan hanya mereka berempat. Ada satu lagi, dokter gizi, yang selalu memantau kecukupan nutrisi para pemain PB Djarum.

Mereka tidak hanya bertugas menyediakan asupan makanan yang cukup nutrisi, tapi juga sesuai selera para pemain dan pelatih. Soal yang kedua, Susilo tak kesulitan. Sebagai lulusan sekolah boga, dia punya banyak daftar menu makanan yang bervariasi.

“Sebulan sekali ada pertemuan dengan dokter gizi untuk evaluasi. Apakah menu yang sudah diberikan satu bulan lalu disukai atau tidak. Kami juga bertanggung jawab terhadap pemantauan berat badan atlet,” kata Susilo.

Agar memudahkan pemantauan, Susilo menyusun atlet dalam beberapa kategori sesuai kelompok umur dan penanganannya. Di antara kelompok-kelompok itu, ada satu grup yang menarik, yakni kelompok “anak kurus”.

Dari daftar yang dimiliki Susiolo saat ini, ada sembilan anak yang masuk kategori tersebut. Mereka mendapatkan penanganan khusus dengan tambahan makanan di luar jadwal normal.

“Kategori ini kebanyakan diisi dari atlet-atlet kelompok umur di bawah 15 tahun dan baru masuk. Mereka sulit sekali makan. Makanya kami tambah dengan makanan ringan empat sampai lima kali sehari,” tutur Susilo.

“Untuk kategori anak kurus ini kami tak bisa menangani sendirian. Kami bekerja sama dengan pelatih. Utamanya untuk membujuk si anak agar mau menaati jadwal makan,” imbuh dia.

Menurut Maria Kristin Yulianti, pelatih tunggal putri U-13 PB Djarum, persoalan itu memang seolah jadi tradisi. Setiap tahun ada saja anak-anak yang masuk kategori ‘anak kurus’.

“Ada lo anak-anak yang sampai menyembunyikan makanan di bawah piring. Bisa jadi mereka tidak doyan, utamanya sayur. Tapi kami kan memantau terus dan kami bujuk dengan segala cara agar anak-anak menghabiskan makanan yang sudah disediakan,” ucap Maria.

Saat ini, PB Djarum dihuni 77 atlet dan 13 pelatih. Untuk memenuhi makan seluruh personal itu, Susilo biasanya menyiapkan sekitar 30-40 kilogram beras per hari. Kebutuhan beras di pagi hari paling sedikit, paling hanya 10 sampai 15 kilogram karena atlet dan pelatih diberi pilihan roti tawar dan sereal.

Beras untuk makan siang dan malam biasanya masing-masing waktunya butuh 15-20 kilogram. “Untuk sayur dan lauknya bervariasi. Biasanya satu kali makan kami sediakan dua macam sayur dan satu macam lauknya. Buah selalu ada,” ucap dia.

Sebagai gambaran, lanjut Susilo, untuk memenuhi makan siang timnya harus menyiapkan ikan hingga 14 kilogram atau udang dengan jumlah yang sama. Untuk ayam kampung biasanya mencapai 25 ekor.

Sayur juga bervariasi. Hari ini sayur lodeh, besok sayur asam. Dan bisa berganti dengan sop. Suplemen dan vitamin disediakan di ruang makan yang ada di seberang dapur dan tepat di belakang GOR.

Bagaimana kalau atlet bosan dengan menu makanan dna ingin jajan di luar?

“Kalau ingin jajan di luar tidak masalah, asalkan mereka menghabiskan jatah makanan yang sudah disediakan. Para atlet juga dibekali pengetahuan soal risiko makan di luar,” jelas Susilo.

Pernah dimuat di detikSport atau bisa dibaca di dapur PB Djarum

Perjalanan PB Djarum: Dari Barak Rokok menjadi Hall 16 Lapangan

Perjalanan PB Djarum dimulai dengan munculnya bocah berbakat dari Kudus, Liem Swie King dan Hastomo Arbi. Dalam perjalanannya, klub itu mempunyai markas sendiri dan menjadi klub bulutangkis raksasa di tanah air.


Munculnya Liem Swie King dalam Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015 membuka cerita lama soal cikal bakal PB Djarum. Program Director Bakti Olahraga Djarum Fundation, Yoppy Rosimin, menyebut Liem Swie King adalah sosok sentral berdirinya PB Djarum Kudus.

Konon, dia ditemukan langsung oleh owner Djarum, Budi Hartono, ketika tengah bermain di lapangan outdoor. Sekali dua kali Budi menyaksikan kehebatan Siwe King bocah. Dia pun direrut untuk berlatih bersama para karyawan Djarum yang berlatih tiap malam di barak rokok milik Djarum di Kudus, Jawa Tengah.

aya berkesempatan mengorek cerita itu dalam salah satu perjalanan ke Kudus, Jawa Tengah di pekan pertama September 2015 ini. Cerita makin mengasyikkan dengan hadirnya para legenda bulutangkis yang sekaligus jadi cikal bakal PB Djarum, Liem Swie King dan Hastomo Arbi.

****

Ketika para pelinting rokok pulang, salah satu barak di Jalan Bitingan Lama, Kudus ‘disulap’ menjadi lapangan bulutangkis. Karyawan pabrik rokok itu memanfaatkan gedung tersebut sebagai tempat untuk menyalurkan hobi bermain bulutangkis.

Suatu ketika di tahun 1960-an, gedung itu tak hanya menampung karyawan. Ada tiga bocah yang ikut berlatih di sana. Dua di antaranya Liem Swie King dan Hastomo Arbi.

“Dulu kami latihan di gedung lama, di Jalan Bitingan Lama. Setiap sore kami harus menyingkirkan alat-alat untuk bikin rokok itu. Bau ruangan juga sangat menyengat, bau cengkeh, bau tembakau. Biasanya mulai pukul 18.30 sampai jam 21.00. Setelah latihan selesai kami kembalikan lagi alat-alat itu ke tempatnya,” kata Hastomo.

“Kami dulu dilatih langsung oleh Pak Budi Hartono. Waktu itu latihannya sederhana saja, eh ternyata latihan itu benar lho. Jam 16.00 latihan fisik dulu, yang paling umum lari,” ucap kakak Haryanto Arbi itu.

Latihan fisik itu biasanya digeber di Desa Colo, Kecamatan Dawe yang mempunyai jalur tanjakan ke arah Gunung Muria.

Adanya dua pemain yang berlatih bersama-sama karyawan itulah yang menjadi tonggak berdirinya PB Djarum. Sejak adanya tiga bocah tersebut Djarum mulai merekrut pemain-pemain muda usia untuk bergabung. Tentunya bukan hanya karena kehadiran Liem Swie King dkk. tapi juga karena mereka mampu menunjukkan prestasi yang menawan di level nasional.

Ya, Liem Swie King yang menunjukkan prestasi bagus di kancah nasional membuat Budi Hartono, pemilik PT Djarum mulai berniat serius membina atlet muda. Hastomo yang sempat bergabung kemudian lepas dari Djarum, direkrut lagi.

Baca juga: Ketika Para Legenda Reuni di Markas PB Djarum

Pemain-pemain muda mulai ditarik untuk bergabung. Pelatih didatangkan. Kala itu Djarum belum menyediakan asrama. Para pemain kos di sekitar barak di jalan Bitingan Lama itu.

Latihan di barak Jalan Bitingan Lama itu berlangsung hingga 1982. Pusat latihan POR Djarum dipindah ke GOR Kaliputu yang juga ada di Kudus. Saat itu Djarum bukan hanya membina bulutangkis, tapi juga jadi pusat pelatihan bridge, tenis, tenis meja, sepakbola, dan voli.

GOR Kaliputu dibangun khusus untuk pusat pelatihan bulutangkis. Ada 10 lapangan dan asrama pemain. Dari Kaliputu itu lahir pemain-pemain bintang seperti Hariyanto Arbi, Denny Kantono, dan Sigit Budiarto.

Dalam perjalanannya, prestasi bulutangkis mulai tak konsisten di tahun 2000. Petinggi Djarum, Victor Hartono, menggagas untuk membuat GOR baru yang lebih luas dengan fasilitas yang lebih komplet.



GOR itu kemudian dibangun di atas tanah 4 hektar di Jalan Jati, Kudus. Selain hall dengan 16 lapangan, asrama berkapasitas 80 atlet serta rumah untuk pelatih, GOR itu juga memiliki kantor dan perpustakaan, ruang latihan beban, ruang pijat, dan fisioterapi. Asrama juga dilengkapi ruang makan dan dapur. Untuk mengatur menu bagi para atlet itu disediakan dokter gizi dan tim koki.

Menurut Edy Prayitno, ketua bagian administrasi GOR Djarum, menyebut saat ini ada 77 atlet menghuni asrama tersebut, masing-masing 43 putra dan 34 putri.

Sekali waktu, GOR itu juga digunakan untuk kegiatan di luar para pemain Djarum. Tahun 2014, PBSI memanfaatkan PB Djarum sebagai lokasi karantina menjelang Piala Thomas Uber.

Rencananya 7-11 Oktober tahun ini, GOR Djarum juga bakal jadi perhelatan Kejuaraan Asia U-15 dan U-17.

GOR itu kini menanti kelahiran bintang-bintang dunia. Semoga ada kado terindah di tahun depan, saat GOR tepat berusia 10 tahun.

“Dulu fasilitas seadanya saja juara melulu, sekarang dengan fasilitas yang lebih bagus semestinya juara lebih banyak dicetak,” kata Liem Swie King.