Tugas dadakan diterima Hanna Ramadini di sebuh ruangan yang tak biasa. Tak ada rasa takut dan keder.
Hanna Ramadini mendapatkan tugas dadakan yang tak ringan untuk mewakili Indonesia pada nomor perorangan putri SEA Games 2015. Kepercayaan itu dia terima di tempat yang tidak biasa: ruang medis Dongguan, China.
Hanna ikut panik saat rekan satu tim dia, Bellaetrix Manuputty, terjatuh dan meringis kesakitan saat tampil di babak semifinal Piala Sudirman. Lutut kiri Bella bermasalah. Bella akhirnya menyerah kalah karena tak bisa melanjutkan pertandingan.
Bersama pelatih tunggal putri, Bambang Supriyanto, Hanna mendampingi Bella yang dievakuasi ke ruang medis. Ada sebuah perhitungan berbeda yang dibuat Bambang saat melihat cedera Bella.
"Di ruangan itu Mas Bambang bilang kalau saya harus siap-siap untuk menggantikan kak Bella. Saya pikir di mana ternyata di SEA Games," kenang Hanna.
Hanna memang sudah masuk tim SEA Games. Tapi dia hanya diproyeksikan tampil di nomor beregu putri. Dia menjadi pemain cadangan tunggal putri. Dalam hitungan pekan, sebuah tugas besar harus diemban dia. SEA Games akan bergulir mulai 6 Juni.
"Saya anggap mungkin itu jadi jalan saya untuk main di SEA Games. Sebuah tanggung jawab besar karena membawa nama negara," ucap pebulutangkis 20 tahun itu.
Selain Hanna, di nomor perorangan Indonesia menurunkan pemain senior Linda Wenifanetri. Sebelumnya, Linda sudah menyatakan tekad untuk mempertahankan medali emas tunggal putri yang disumbangkan Bella dua tahun lalu.
Bagi Hanna, turnamen itu akan menjadi pengalaman pertama. Soal persaingan sedikit banyak dia sudah mengetahuinya.
"Kalau melihat lawan-lawan di tunggal putri, Thailand dan Malaysia tetap jadi lawan terberat. Kalau menghadapi Singapura saya optimistis bisa melewatinya," ucap Hanna.
Semoga sukses, Hanna!
Hanna Ramadini
Hanna Ramadhini
Lahir: Tasikmalaya, 21 Februari 1995
Tinggi: 162 cm
Berat: 55 kg
Klub: PB Mutiara Bandung
Peringkat Dunia: 57
Prestasi:
- Juara Swiss Terbuka Challange 2014
- Juara Vietnam Terbuka Challange 2014
Senin, 25 Mei 2015
Minggu, 24 Mei 2015
Kata Mereka
Giant killer. Keren sekali sebutan itu tapi tidak sesuai dengan orangnya. Saya nggak sesangar itu.
-- Maria Kristin Yulianti, peraih perak bulutangkis tunggal putri Olimpiade 2008
Selasa, 12 Juli 2011
Spirit Baru Ratu Downhill Indonesia Risa Suseanty
Risa Suseanty yang tampil di SEA Games 2009 Laos bukan lagi sosok yang sama. Dia merasa mendapatkan kesempatan untuk terlahir kembali.
Air mata tak bisa berhenti mengalir dari pelupuk mata Risa saat dia mendapatkan kalungan medali emas di Bukit Dane Song, sebelah barat kota Vientiane, Laos tak akan pernah dilupakan Risa Suseanty. Dia begitu terharu, bahagia, tapi tak bisa menafikkan jika ada getir yang bercampur.
Perempuan kelahiran Bandung 25 Oktober 1980 tersebut tak cuma merasa emas yang dikalungkan Menpora Andi Mallarangeng itu bukan sekadar bukti sukses kerjanya mewakili Indonesia di SEA Games. Medali itu jelas spesial bagi kontingen Merah Putih.
Emas itu memang istimewa karena menjadi emas pertama bagi kontingen Indonesia. Emas itu juga terkesan makin mengilap karena membayar lunas paceklik emas dari nomor downhill putri dua tahun sebelumnya.
Emas tersebut juga menjadi istimewa bukan karena Risa bisa makin mengukuhkan diri sebagai ratu downhill Asia Tenggara. Tapi jauh lebih besar dari itu.
Bagi Risa pribadi emas itu menjadi bukti jika dia seorang pekerja profesional. Ya, tak banyak yang tahu jika air mata itu amat mewakili Risa yang luar biasa bahagia tapi juga ada kesedihan yang dirasakan dia.
Dua tahun lalu, di ajang serupa yang dihelat di Nakhon Ratchasima Thailand, Risa sama sekali tak punya kesempatan tampil bersama tim nasional (timnas). Dia dijegal sebelum berangkat hanya karena dinilai mengikuti even tanpa sepengetahuan PB ISSI.
Tak hanya itu, jika dirunut Risa lama tak menyumbangkan medali emas untuk Merah Putih di pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa se-Asia Tenggara itu. Setelah sukses mencetak hattrick di SEA Games 1997 di Jakarta, Brunei (1999), dan Malaysia (2001), prestasi Risa justru merosot di SEA Games berikutnya.
Wanita yang menekuni balap sepeda sejak berusia 13 tahun itu hanya membawa pulang perak dari SEA Games 2003 di Vietnam. Dua tahun kemudian, pada SEA Games di Filipina tahun 2005, Risa malah cuma kebagian perunggu.
"Tak ada yang tahu jika saya menangis karena emas itu sekaligus pertanda akhir dari rumah tangga saya,” tutur putri pasangan Koesnaedy dan Erwin Kurdiana tersebut.
"Saya seperti baru terlahir kembali setelah menjadi juara di Laos,” ujar pebalap yang besar di Bekasi itu.
Rupanya tangisan itu juga disebabkan duka mendalam Risa yang harus berpisah dengan Tan Hong Chun. Biduk pernikahan yang dibangun tahun 2006 hancur lebur. Di tengah-tengah kemelut rumah tangga itu, Risa masih dituntut prestasi tinggi. Kombinasi dua hal itu membuat bobot badan Risa terjun bebas.
Sudah begitu, mau tidak mau dia harus selalu berpapasan dengan mantan suami. Hong Chun juga menjadi kontestan di SEA Games laos itu. Beruntung keluarga sangat mendukung Risa untuk bangkit kembali.
"SEA Games Laos sangat berkesan bagi saya, karena itu menjadi pertanda kembalinya saya dengan merebut kembali medali emas di saat yang tak mudah buat kehidupan pribadi saya. Lagipula usia saya tak lagi muda,” tutur penyuka musik jazz itu.
"Emas dan even ini tak akan pernah saya lupakan,” imbuh dia.
Waktu berlalu, tahun ini Risa genap 31 tahun. Risa sudah punya gandengan baru. Dia jawara BMX Asia, Steven Wong. Seolah mendapatkan suntikan motivasi lain, Risa kian giat berlatih.
Semuanya menjadi lebih lapang saat ini. Risa menilai keprofesionalan dialah yang sudah membawa banyak hasil positif saat ini. Nyatanya, apresiasi dari banyak pihak didapatkan pembalap yang identik dengan rambut ala salah satu vokalis Duo Ratu, Maiya Estianti itu.
Risa dipercaya sebagai ambassador banyak produk. Di antaranya power balance, oakley, dan wim cycle. Sebelumnya Risa juga pernah digandeng Hino, merekan mobil. Boleh dibilang Risa cukup awet menjadi brand ambassador produk tersebut. Oakley sejak 2005 menjadikan Risa brand ambassador.
Dari sana, dia mendapatkan materi yang tak sedikit. Tanah seluas 1.200 meter persegi di kawasan Dago, Bandung dipilih sebagai investasi. Dua mobil juga menjadi teman yang memudahkan aktivitas Risa.
"Kalau mengandalkan sepeda saja tak akan cukup. Untunglah banya pihak yang menghargai profesionalitas saya,” kata jebolan SMA Ragunan itu.
Memang untuk mendapatkan itu semua, Risa tak hanya bermodal prestasi. Meski harus berpeluh setiap hari dia rutin merawat tubuh. Berdandan juga bukan aktivitas yang diharamkannya. Risa juga tak canggung diajak berfoto atau harus berbicara di depan publik. Justru dari sana sisi feminim Risa tak pernah tenggelam dengan kesehariannya dengankostum gombrang dan helm super gede.
"Dengan berdandan itu bisa menjadi ciri kita, makanya saya suka menjadi seseorang yang unik, lain daripada yang lain,” tegas dia.
Kemampuan bahasa asing juga diasah. Pembawaan supel dan tak meremehkan lawan bicara menjadi modal lain yang dimiliki Risa. Oki Raspati, pelatih Risa di pelatnas, tak segan memuji anak didiknya itu.
"Risa tak perlu disuruh. Dia sudah sangat tahu kebutuhannya sebagai pembalap nasional,” puji Oki.
Selain itu, menurut Oki, Risa tak hanya bermodal berlatih keras setiap hari. Tapi Risa juga memiliki kepercayaan diri dan menyiapkan dirinya sebagai aset yang tak hanya berprestasi di lintasan.
"Ini yang berbeda dari Risa. Dia memiliki nilai jual yang tinggi,” ucap Oki.
Air mata tak bisa berhenti mengalir dari pelupuk mata Risa saat dia mendapatkan kalungan medali emas di Bukit Dane Song, sebelah barat kota Vientiane, Laos tak akan pernah dilupakan Risa Suseanty. Dia begitu terharu, bahagia, tapi tak bisa menafikkan jika ada getir yang bercampur.
Perempuan kelahiran Bandung 25 Oktober 1980 tersebut tak cuma merasa emas yang dikalungkan Menpora Andi Mallarangeng itu bukan sekadar bukti sukses kerjanya mewakili Indonesia di SEA Games. Medali itu jelas spesial bagi kontingen Merah Putih.
Emas itu memang istimewa karena menjadi emas pertama bagi kontingen Indonesia. Emas itu juga terkesan makin mengilap karena membayar lunas paceklik emas dari nomor downhill putri dua tahun sebelumnya.
Emas tersebut juga menjadi istimewa bukan karena Risa bisa makin mengukuhkan diri sebagai ratu downhill Asia Tenggara. Tapi jauh lebih besar dari itu.
Bagi Risa pribadi emas itu menjadi bukti jika dia seorang pekerja profesional. Ya, tak banyak yang tahu jika air mata itu amat mewakili Risa yang luar biasa bahagia tapi juga ada kesedihan yang dirasakan dia.
Dua tahun lalu, di ajang serupa yang dihelat di Nakhon Ratchasima Thailand, Risa sama sekali tak punya kesempatan tampil bersama tim nasional (timnas). Dia dijegal sebelum berangkat hanya karena dinilai mengikuti even tanpa sepengetahuan PB ISSI.
Tak hanya itu, jika dirunut Risa lama tak menyumbangkan medali emas untuk Merah Putih di pesta olahraga dua tahunan bangsa-bangsa se-Asia Tenggara itu. Setelah sukses mencetak hattrick di SEA Games 1997 di Jakarta, Brunei (1999), dan Malaysia (2001), prestasi Risa justru merosot di SEA Games berikutnya.
Wanita yang menekuni balap sepeda sejak berusia 13 tahun itu hanya membawa pulang perak dari SEA Games 2003 di Vietnam. Dua tahun kemudian, pada SEA Games di Filipina tahun 2005, Risa malah cuma kebagian perunggu.
"Tak ada yang tahu jika saya menangis karena emas itu sekaligus pertanda akhir dari rumah tangga saya,” tutur putri pasangan Koesnaedy dan Erwin Kurdiana tersebut.
"Saya seperti baru terlahir kembali setelah menjadi juara di Laos,” ujar pebalap yang besar di Bekasi itu.
Rupanya tangisan itu juga disebabkan duka mendalam Risa yang harus berpisah dengan Tan Hong Chun. Biduk pernikahan yang dibangun tahun 2006 hancur lebur. Di tengah-tengah kemelut rumah tangga itu, Risa masih dituntut prestasi tinggi. Kombinasi dua hal itu membuat bobot badan Risa terjun bebas.
Sudah begitu, mau tidak mau dia harus selalu berpapasan dengan mantan suami. Hong Chun juga menjadi kontestan di SEA Games laos itu. Beruntung keluarga sangat mendukung Risa untuk bangkit kembali.
"SEA Games Laos sangat berkesan bagi saya, karena itu menjadi pertanda kembalinya saya dengan merebut kembali medali emas di saat yang tak mudah buat kehidupan pribadi saya. Lagipula usia saya tak lagi muda,” tutur penyuka musik jazz itu.
"Emas dan even ini tak akan pernah saya lupakan,” imbuh dia.
Waktu berlalu, tahun ini Risa genap 31 tahun. Risa sudah punya gandengan baru. Dia jawara BMX Asia, Steven Wong. Seolah mendapatkan suntikan motivasi lain, Risa kian giat berlatih.
Semuanya menjadi lebih lapang saat ini. Risa menilai keprofesionalan dialah yang sudah membawa banyak hasil positif saat ini. Nyatanya, apresiasi dari banyak pihak didapatkan pembalap yang identik dengan rambut ala salah satu vokalis Duo Ratu, Maiya Estianti itu.
Risa dipercaya sebagai ambassador banyak produk. Di antaranya power balance, oakley, dan wim cycle. Sebelumnya Risa juga pernah digandeng Hino, merekan mobil. Boleh dibilang Risa cukup awet menjadi brand ambassador produk tersebut. Oakley sejak 2005 menjadikan Risa brand ambassador.
Dari sana, dia mendapatkan materi yang tak sedikit. Tanah seluas 1.200 meter persegi di kawasan Dago, Bandung dipilih sebagai investasi. Dua mobil juga menjadi teman yang memudahkan aktivitas Risa.
"Kalau mengandalkan sepeda saja tak akan cukup. Untunglah banya pihak yang menghargai profesionalitas saya,” kata jebolan SMA Ragunan itu.
Memang untuk mendapatkan itu semua, Risa tak hanya bermodal prestasi. Meski harus berpeluh setiap hari dia rutin merawat tubuh. Berdandan juga bukan aktivitas yang diharamkannya. Risa juga tak canggung diajak berfoto atau harus berbicara di depan publik. Justru dari sana sisi feminim Risa tak pernah tenggelam dengan kesehariannya dengankostum gombrang dan helm super gede.
"Dengan berdandan itu bisa menjadi ciri kita, makanya saya suka menjadi seseorang yang unik, lain daripada yang lain,” tegas dia.
Kemampuan bahasa asing juga diasah. Pembawaan supel dan tak meremehkan lawan bicara menjadi modal lain yang dimiliki Risa. Oki Raspati, pelatih Risa di pelatnas, tak segan memuji anak didiknya itu.
"Risa tak perlu disuruh. Dia sudah sangat tahu kebutuhannya sebagai pembalap nasional,” puji Oki.
Selain itu, menurut Oki, Risa tak hanya bermodal berlatih keras setiap hari. Tapi Risa juga memiliki kepercayaan diri dan menyiapkan dirinya sebagai aset yang tak hanya berprestasi di lintasan.
"Ini yang berbeda dari Risa. Dia memiliki nilai jual yang tinggi,” ucap Oki.
Kamis, 07 April 2011
Charis Yulianto Punya Banyak Fans di Bui
Charis Yulianto kerap diuntungkan dengan profesi sebagai bintang lapangan hijau. Kini, dia mendapatkannya di penjara.
Status kapten tim nasional (timnas) dan pilar tim papan atas Indonesia Super League (ISL) 2010 Sriwijaya FC cukup menguntungkan bagi Charis Yulianto. Termasuk ketika dia berada di balik jeruji penjara.
Ya, pengalaman kurang menyenangkan itu mampir kepada Charis tahun lalu. Itu setelah hakim menyatakan Charis dan empat pemain SFC lainnya, Isnan Ali, Ambrizal, dan Christian Warobay, bersalah setelah mengeroyok wasit.
Charis dkk. tak perlu berlama-lama tinggal di hotel prodeo. Cuma dua hari atmosfer penjara dirasakan empat pemain itu. Mereka diganjar masa tahanan enam bulan penjara dengan 10 bulan percobaan. ’’Jangan sampai terulang lagi masuk penjara, itu ketiban apes benar-benar. Kapok wis,” kata pria kelahiran Blitar 11 Juli 1978 itu.
Saking tak enaknya dan menjadi pengalaman perdana Charis tak bisa melupakan begitu saja peristiwa yang berlangsung hanya dua hari itu.
’’Untung juga saya sebagai pemain timnas. Meski nggak ada perlakuan khusus dari sipir tapi narapidana lain memperlakukan dengan cukup baik,” kata Charis. Malah tak sedikit yang meminta foto bersama plus tanda tangan.
Untungnya dukungan keluarga, teman-teman sesama pemain, sampai suporter cukup besar. Tak henti-hentinya pembesuk datang. Uniknya mereka yang datang selalu membawa makanan. Maka, makan bersama empat pemain serta keluarga, rekan pemain dan suporter juga menjadi momentum tak terlupakan. Charis merasakan begitu tulusnya dukungan berbagai pihak meski dia tengah terpuruk.
Bagi dia pribadi, pengalaman itu menjadi momentum untuk lebih sabar dalam mengambil tindakan. ’’Saya harus lebih bisa mengontrol diri lagi. Jangan sampai terulang lagi,” tegas Charis.
Petenis Wanita Nomor Satu Asia Li Na Sukses Bikin Tenis Populer di Tiongkok
Musim 2011 menjadi tahun bersejarah bagi dunia tenis Tiongkok dan Asia. Januari lalu, Li Na, petenis Tiongkok, sukses menjadi finalis Grand Slam Australia Terbuka.
Sukses menduduki peringkat enam dunia menjadikan Li Na sebagai petenis putri pertama Tiongkok dengan peringkat tertinggi. Dia juga petenis putri Asia kedua yang mampu masuk enam besar WTA. Sebelumnya, petenis Jepang Kimiko Date-Krumm pernah nangkring di peringkat empat WTA. Kini, dari daftar terbaru WTA per 4 April 2011, Li Na menduduki posisi ketujuh dunia digeser Victoria Azarenka dari Belarusia.
Peringkat enam itu didapat saat tampil di Australia Terbuka. Dia menjadi finalis. Pada partai final tunggal putri di grand slam yang dihelat di Melbourne langkah Li Na dijegal petenis Belgia Kim Clijsters.
Sejatinya tanda-tanda kecemerlangan Li Na sudah dimulai saat dia tampil pada Olimpiade 2008. Dengan mengejutkan petenis kelahiran Wuhan itu sukses melaju ke semifinal dengan menumbangkan Svetlana Kuznetsova (Rusia) dan Venus Williams (Amerika Serikat). Tapi, dia gagal menuai kemenangan di laga selanjutnya hingga tak berhasil menuai medali dari multieven yang dihelat di Beijing tersebut.
Namun torehan itu cukup menunjukkan jika come back-nya setelah delapan tahun istirahat haruslah diwaspadai. Nyatanya, karir Li Na meroket.
Memang tak banyak yang menyangka karir Li Na justru moncer 2,5 tahun kemudian. Salah satu yang menjadi faktor peragu itu adalah usia peraih medali emas Asian Games 2010 Guangzhou yang tak lagi muda. Pada 26 Februari lalu, dia merayakan ulang tahun ke-28. Selain itu, cedera lutut juga menjadi langganannya.
Tapi rupanya, keterlambatan sinar terang prestasi Li Na tak hanya itu. Secara nyata dia menyalahkan tanah airnya, Tiongkok. Tak jarang dia marah dengan yel-yel yang diteriakkan suporter Tiongkok kepada dia. Malah saat menjadi jawara grand slam Australia Terbuka, Li Na sama sekali tak mengucapkan terima kasih kepada Tiongkok. Dia hanya menyebut nama pacar, pelatih, dan sponsor.
Rupanya dia tak sepakat dengan sistem olahraga yang diterapkan di negaranya. Di mana Tiongkok hanya fokus mengutamakan even-even yang mengatasnamakan negara macam Piala Davis, Piala Fed. Juga Olimpiade, Asian Games, dan kejuaraan nasional.
Sedangkan untuk even-even perorangan, hanyalah dianggap sebagai laga latihan. Nyatanya prestasi tenis Tiongkok memang tak berkembang secara signifikan, berbeda dengan cabang olahraga lainnya.
"Untuk bermain perorangan memang berat. Karena saya harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Dari memilih pelatih, mengatur latihan, juga jadwal latihan, sampai jadwal latihan. Saya benar-benar membayar jalan saya sendiri,” ujar penyuka the tarik itu seperti dilansir Asia Mag.
Tak hanya Li Na yang kecewa. Banyak pihak yang mengandaikan, jika saja 10 tahun lalu Li Na tak terjebak oleh sistem olahraga di negaranya. Bukan tak mungkin dia sudah menjadi petenis paling ditakuti saat ini. Talenta yang dimiliki Li Na dinilai sangat luar biasa dan sudah diketahui sejak kecil.
Tercatat saat 2002 yang berarti dia masih berusia 20 tahun, Li Na sempat memutuskan untuk pensiun. Dia memilih masuk kuliah. Kemudian jelang Olimpiade di Beijing, asosiasi tenis Tiongkok membujuk agar Li Na kembali turun ke lapangan.
Barulah untuk menghadapi Olimpiade itu dia mendapatkan kebebasan dalam berlatih, termasuk memilih pelatih. Nyatanya Li Na masih bisa bersaing. Pada 2006 dia menjadi petenis Tiongkok pertama yang sanggup masuk 30 besar dunia, setahun kemudian masuk 20 besar.
Li Na juga menjadi petenis yang sanggup mempopulerkan tenis di negaranya. Dia ingat benar saat kecil tenis bukan olahraga yang dipilihkan keluarga dia. Mengikuti tren, Li Na kecil belajar bulu tangkis. Nah, saat usia 8 tahun pelatihnya menawari kedua orang tuanya agar Li Na berlatih tenis.
’’Orang tua saya balik bertanya, apa itu tenis,” kenang Li Na seperti dikatakannya kepada New York Times.
Pertanyaan itu sekaligus menolak ajakan sang pelatih. Belajar tenis baru dimulai enam tahun kemudian, setelah sang ayah meninggal dunia. ’’Dua olahraga ini sangat berbeda. Meski sama-sama menggunakan raket, tapi tekniknya berbeda. Bulu tangkis mengandalkan pergelangan tangan, sedangkan tenis, bertumpu pada bahu,” terang dia.
’’Yang penting orang tak kesulitan lagi mencari nama saya di lembar drawing. Nama saya pendek, terserah mau menyebut Na Li atau Li Na. Saya tahu kalian, terutama bukan orang Tionghoa akan kesulitan,” seloroh dia.
Minggu, 13 Februari 2011
Djayusman-Novriali Yami Tak Bertemu Malah 'Berseteru'
Tim sepak bola Indonesia babak belur di pentas SEA Games XXV/2009 Laos Desember lalu. Namun, sebagian di antara skuad Garuda –julukan timnas Indonesia–masih bisa pulang dengan 'kepala tegak'.
Meski gagal membawa pulang medali, mereka sukses mendapatkan gadis pujaan. Sebut saja Djayusman Triasdi dan Lucky Wahyu Dwi Permana. Dua penggawa timnas yang sama-sama berasal dari Persebaya Surabaya itu sukses menggaet dua pemain voli indoor. Djayusman mendapatkan cinta Novriali Yami, sedangkan Lucky kian lengket dengan Maya Puspita Widyastuti.
Inilah kali pertama mereka melewati Hari Valentine dengan status sebagai pasangan kekasih. Sayang, karena tuntutan profesi, dua pasangan tersebut tak bisa menghabiskan waktu bersama di Hari Kasih Sayang. Bahkan, untuk sekadar bertatap muka pun, mereka tak bisa.
Kebetulan, tepat pada Hari Valentine kemarin (14/2), Green Force –julukan Persebaya– harus turun ke lapangan melawan Persib Bandung. Artinya, Djayusman dan Lucky harus menjalankan kewajibannya sebagai pemain Persebaya.
Di sisi lain, Novriali dan Maya berkutat dengan jadwal latihan di klub masing-masing yang ketat. Intan –sapaan akrab Novriali– adalah pemain pilar Jakarta BNI Taplus, sedangkan Maya menjadi penggawa Jakarta PLN Elektrik.
Ketika Persebaya harus melawan Persib, perseteruan pun mewarnai hubungan Djayusman dengan Intan. Sebagai pemain belakang andalan Persebaya, Djayusman tentu berjuang agar timnya menang. Sementara itu, Intan adalah pendukung setia Persib.
”Yang repot justru saya, bingung mau membela yang mana,” ujar Intan.
Mantan pemain Bandung Tectona tersebut tentu akan memberikan dukungan kepada Djayusman. Namun, alasan itu juga tak cukup kuat untuk membuatnya berpaling dari Maung Bandung, julukan Persib.
”Asal Persebaya tidak kalah saja. Kalau kalah, Djayus (panggilan Djayusman, Red) bisa bete seharian,” ucap anak kedua di antara empat bersaudara tersebut. ”Bisa-bisa makin kelabu saja malam Valentine-nya,” imbuh wanita kelahiran Purwakarta itu.
Menyambut Valentine’s Day, Djayus punya rencana khusus. ”Seandainya ada pertemuan, mungkin diisi dengan dinner saja,” ungkap pemuda yang berulang tahun pada 22 Agustus tersebut.
Soal makan bisa menjadi masalah bagi mereka. Sebab, selera makan Djayus dan Intan bertolak belakang. Intan tak menyukai ikan dan semacamnya. Sebaliknya, ikan merupakan menu favorit Djayusman.
Lain lagi pasangan Lucky dan Maya. Terpisah antara Jakarta dan Surabaya tak membuat mereka kesepian. ”Tenang saja. Meski jauh-jauhan, kami bisa memanfaatkan teknologi. Ada video call,” jelas Lucky. Maya pun tenang-tenang saja. Komunikasi via telepon cukup menjadi pengobat rindu bagi keduanya. Bahkan, frekuensinya bisa melebihi minum obat yang biasanya dijadwalkan tiga kali sehari. ”Makanya, kami memilih operator yang sama, biar hemat,” terang Maya.
Ketika pulsa menipis, Maya dan Lucky memiliki alternatif komunikasi. ”Chatting saja juga cukup. Pokoknya, ada kabar dari dia,” kata Maya.
Sabtu, 12 Februari 2011
Christian Ronaldo Sitepu Kejar Wisuda Bulan Depan
Atlet basket Christian Ronaldo Sitepu tak cuma ingin jadi atlet. Status sebagai lulusan perguruan tinggi dikejarnya juga.
Wisuda menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu mereka yang berstatus sebagai mahasiswa. Rasanya tuntas sudah segala kewajiban selama bertahun-tahun saat memakai tiga. Momentum itu pula yang tengah ditunggu atlet basket Christiano Ronaldo Sitepu.
Forward Satria Muda Britama tersebut tak sabar menanti bulan depan. Pekan depan, dia dijadwalkan untuk sidang skripsi lebih dahulu. Dengan materi skripsi yang tak jauh-jauh dari bidang yang ditekuninya, olahraga, pemuda bertinggi nyaris 2 meter itu optimistis bisa lulus dengan mudah.
’’Saya harus wisuda Maret nanti, nggak boleh meleset dan molor lagi,” ujar Dodo, sapaan karib Christian Ronaldo Sitepu. Keinginan pemuda kelahiran Bogor, 27 Oktober 1986 itu memang sudah di pucuk kepala. Sebab jika tak ikut wisuda Maret ini bisa jadi dia bakal dicap mahasiswa abadi. Saat ini saja, mahasiswa jurusan manajemen, fakultas ekonomi, Perbanas Jakarta tersebut sudah masuk semester sebelas.
Apalagi ke depan jadwal bertanding diprediksi bakal lebih berat. Musim ini saja, National Basketball League (NBL) Indonesia tak seramah musim sebelumnya saat masih ber-title Indonesian Basketball League (IBL). Jadwal semakin padat dengan tur ke luar kota makin panjang karena imbas dari kian banyaknya jumlah pertandingan masing-masing klub. Belum lagi jika nanti dia dipilih untuk memperkuat tim nasional basket SEA Games XXVI/2011 di tanah air. Serangkaian try out sudah menanti, belum lagi jadwal latihan di pelatnas.
’’Untungnya saat jadwal padat, skripsi juga sudah tahap akhir,” ujar Dodo. Lagi pula, dia diuntungkan mendapatkan pembimbing yang lumayan bisa diajak kompromi soal jadwal.
Sudah dapat pendamping wisuda? ’’Wah harus ya,” ujar dia malu-malu. Dodo menolak saat disebut-sebut bakal didampingi seorang pebulu tangkis nasional yang kini juga anggota pelatnas Cipayung.
Sabtu, 05 Februari 2011
Raja Binaraga ABG Syafrizaldy Tolak Tawaran Film dan Sinetron
Binaraga bukan olahraga favorit di tanah air. Namun, kenyataan itu tidak membuat Syafrizaldy mundur. Keyakinan menuai hasil emas pascausia 37 tahunlah yang membuat dia setia sebagai binaragawan.
Rumah petak 5 x 7 meter di kawasan Jakarta Timur itu terlalu sempit untuk keluarga kecil dan memajang sejumlah penghargaan dari even internasional dan nasional. Maka, tak ada pilihan selain memajang medali dan sertifikat di dinding rumah itu.
”Semua saya tumpuk saja. Mana cukup dinding untuk memajang semua penghargaan itu,” ujar Rizal –sapaan Syafrizaldy.
Di usianya yang genap 45 tahun, dia telah mengantongi sederet penghargaan. Sebab, dia telah menekuni binaraga sejak 26 tahun lalu. Meski, awalnya pria penyuka warna hitam dan putih itu memulai binaraga karena ”kecelakaan”.
Tekadnya untuk datang ke ibu kota tak pernah ter pikir menjadi atlet. Meski, dia pernah berlatih tinju di Medan, tempat kelahirannya. Niat untuk menjadi petinju tenar pupus setelah penampilannya di atas ring ditentang ibundanya, Jus’ar. ”Ibu saya tak tega melihat darah yang mengucur waktu saya bertanding,” ujar Rizal.
Tak disangka, kondisi ekonomi keluarganya memaksa dia untuk hengkang ke Jakarta pada waktu yang bersamaan. Usaha rumah makan Padang keluarganya bangkrut. Setelah berdiskusi dengan keluarga, dia dan ayahnya, Darnis St. Ba tuah, hijrah ke Jakarta. Lagi pula, Rizal tersandung masalah dengan salah seorang temannya di kampung halaman.
Sesampai di Jakarta, Rizal tak mau berpangku tangan. Dia membantu ayahnya mencari uang. ”Saya berjualan teh botol di Rasuna Said (kawasan Kuningan, Red). Rumah saya juga berada di sana,” ujar Rizal.
Namun, hasratnya sebelum menuju ibu kota tak bisa disembunyikan. ”Saya ingin jadi artis,” kenang dia. Saat pertama tiba di Jakarta, Rizal mencari tempat latihan teater. ”Di sana justru idealisme saya dipertaruhkan," ucap dia.
Rupanya, menjadi artis panggung harus bermodal tampang kece sekali atau sebaliknya. "Kalau tampangnya pas-pasan seperti saya, nggak laku,” kelakar dia.
Setelah tak melihat ada peluang untuk menjadi bintang di teater, Rizal melirik gelanggang olahraga. Kebetulan, salah satu cabang olah raga yang berlatih di sana adalah binaraga.
Namun, modal tampang dan kenekatan saja tidak cukup. Usaha untuk berlatih di luar jam atlet pelatnas pun ditolak mentah-mentah.
”Saya hanya berpikir, olahraga ini sangat menarik. Ibu pasti merestui karena lahraga ini jauh dari kekerasan dan tak ada darah,” ujar bapak tiga anak tersebut.
Maka, meski sudah ditolak, Rizal tak patah arang. Dia mencari tempat latihan. Setelah delapan tahun berjalan, dia kian menyukai olahraga yang memper tontonkan otot-otot tersebut.
”Saya yakin, ketekunan ini akan berbuah meski butuh wkatu lama. Masa emas binaragawan bukan saat ini, tetapi nanti setelah saya melewati usia 37 tahun,” terang dia.
Keyakinan itu tidak salah. Setahap demi setahap ketekunannya membuahkan hasil. DKI Jakarta yang mengandalkan dia di PON 1996 tidak pulang malu. Sebab, dia menyumbangkan medali emas.
Karir dia melesat saat dipercaya memperkuat Indonesia pada SEA Games 1997 di Jakarta. Perak didonasikannya untuk kontingen Indonesia. Perolehan itu membuat harganya melambung menjelang PON 2000. Janji bonus yang besar membuatnya memutuskan untuk bergabung dengan Bengkulu.
Rizal pun setia kepada Bengkulu hingga tiga kali PON. Dia berturut-turut menyumbangkan medali emas. Dia menjadi satu-satunya penyumbang emas bagi Bengkulu. Namun, menjelang PON ke-18 pada 2012 di Riau nanti, dia hengkang ke Jawa Timur (Jatim).
”Saya kecewa karena harus berseteru lebih dahulu untuk mendapatkan dana persiapan PON. Setali tiga uang, Jatim berani menawar saya lebih tinggi menghadapi PON 2012,” ujar dia.
Dia optimistis bisa menyumbangkan emas pada PON 2012. Meski, saat itu usianya sudah 46 tahun. ”Saya mempertaruhkan nama saya untuk Jatim.
Saya juga ingin membuktikan bahwa karir di binaraga pada usia seperti ini bukan mandek, tetapi justru stabil,” ujar penyuka musik itu.
Soal materi, Rizal mendapatkan jauh lebih dari cukup. Kebutuhan suplemen, biaya sekolah anak, dan kehidupan sehari-hari yang totalnya sekitar Rp 16 juta bisa dicukupi. Dia malah bisa membangun rumah dan membeli kebun di Bogor.
Rumahnya tidak hanya berada di Jakarta. ”Namun, sertifikat dan medali belum sempat saya pasang. Masih menumpuk di rumah lama,” imbuh dia.
Tidak hanya itu. Hanya berbekal ijazah madrasah tsanawiyah (MTs) alias setingkat SMP, Rizal sukses menaklukkan Asia. Pada dua kali Asian Beach Games (ABG), pria kelahiran Medan itu sukses membawa pulang medali emas lewat binaraga.
Olahraga itu menjadi pembuka jalan tercapainya semua cita-citanya. Rumah yang bisa di bilang mewah menjadi miliknya saat ini di kawasan Bogor dan tanah seluas 3.000 meter. Selain itu, jalan ke dunia hiburan bisa dicapai Rizal.
Dia menjadi bintang iklan banyak produk. Di antaranya, Liga Dunhill, salah satu produsen baterai, dan lain-lain. Dia ingat, kalan itu seolah tertutup rapat justru saat Rizal belajar teater. Pada beberapa tahun terakhir, ajakan untuk bermain film dan sinetron cukup terbuka bagi dia.
”Binaraga masih menjadi pilihan utama. Untuk iklan, saya masih mau, sedangkan sinetron dan film saya tolak,” ujar dia. Maklum,pengambilan gambar film dan sinetron bakal membu tuhkan waktu yang tidak singkat.
Padahal, dia sudah mengikat kontrak dengan negara dan daerah untuk tampil di single dan multieven. ”Tanggung jawab tersebut lebih besar,” tegas dia.
Langganan:
Postingan (Atom)





